Apapun yang terjadi, walau menguras peluh dan tenaga bagi setiap orang tua manapun rasanya akan sama, tidak peduli segalanya akan di lakukannya hanya demi anaknya.
Impiannya yang sempat terjebak dalam tidur sesaatnya, dan ketika sudah terjaga bangun harus segera di kejarnya kembali. Tidak ada kata tertunda atau terlambat, pikiran orang tua akan selalu terkukung jika hanya berdiam diri tanpa berusaha untuk melakukan sesuatu untuk anaknya.
Semua orang tua selalu ingin semua impian anak-anaknya selalu yang terbaik. Bibirnya walau sudah sejak lama terkunci tidak bisa bicara, namun hati kecilnya selalu menguntai mimpi. Tidak peduli dua kakinya terasa lelah atau capek sejak tadi sudah berapa kilo meter mengayuh pedal sepeda, dua rodanya selalu berputar berjalan tiada henti.
Napasnya terasa berat, dua tangannya masih terjaga pegang stang sepeda sigap untuk mencengkeram handle rem. Pandangan dua matanya keruh hanya kedepan, terkadang menoleh samping kiri-kanan tidak peduli dengan suara klakson motor dan mobil.
Anak gadisnya hanya terduduk bonceng santai, ia tidak peduli dengan banyaknya peluh menetes basahi wajah dan sampai membuat lepek kaos oblong warna merah yang di pakai bapaknya.
Langit masih belum terlalu kejam dengan sinar terik mataharinya masih belum terjaga dari tidurnya. Udara masih terasa dingin belum ingin beranjak pergi berganti dengan udara panas kering.
Jalan sudah ramai dengan banyak langkah kaki berseragam sekolah berjalan di tepian jalan menuju di mana cita-cita mimpinya akan di raih.
Guratan raut wajahnya seraya tidak yakin, hatinya diajak bergulat kecemasan akan ketidak pastikan apakah impiannya bisa tergapai. Tas berisi berapa potong buku sudah di selempangkan di bahu kananya, sepanjang jalan hatinya selalu berguman tidak yakin.
"Pak?" __ "Sudah kamu jangan pikirin, Kirana. Yang penting kamu bisa kuliah," baru saja anaknya ingin mengungkapkan kerisauan hatinya sudah di potong bapaknya seraya meyakinkan anaknya.
Jemari kanannya mencengkeram hendle rem, sepeda berhenti di lampu merah. Bapaknya sedikit lega, dua kakinya sejenak tidak mengayuh pedal sepeda. Pandangan anaknya menoleh kanan, barisan motor dan mobil berhenti di dalam garis putih.
Guratan raut wajahnya kembali tidak yakin, wajahnya diajak menunduk kebawah. Dua matanya perhatikan pakaian yang di kenakannya. Hanya kaos putih berkerah yang sudah kusam dengan setelan celana jeans warna biru dongker, dan sepatunya kets warna putih.
Kirana mendongkan kepalanya keatas, seraya hatinya ingin menagih janji pada pemilik semesta ini. Ia sepertinya tidak ingin menerima kenyataan pahit yang kini di rasakannya sungguh menyayat hatinya. Lalu pandangannya menoleh kekanan, seperti ada seseorang yang di kenalnya duduk di dalam mobil dengan di sopiri lelaki tua.
"Pak cepat jalan!" sekali di tepuk punggung bapaknya dengan telapak tangan kanannya.
"Masih merah, Kirana." ucap bapaknya, dua tangannya sudah siap pegang stang sepeda.
Kirana seperti kenal dengan cowok tampan duduk dalam mobil di samping kanannya sepeda yang di dudukinya. Arya juga menoleh seperti mengenali cewek yang di kenalnya saat berada di lingkungan kampus, di mana cewek itu hanya membiarkan ibunya yang buta tertelungkup di galangan air.