Sungguh malang tak dapat di raih, sepertinya ada tekanan membuat hatinya semakin tidak ingin berpasrah padaNya. Pedal sepedanya tidak lagi di kayuhnya dengan cepat, serasa dua dengkul kakinya membisiki telapak kakinya sudah terlalu lelah dan capek mengayuh pedal sepeda tua itu.
Sengatan sinar terik matahari semakin membakar panas relung hatinya. Kerutan wajahnya semakin menua, dua bola matanya semakin kosong menatap jalan di depan. Hatinya kian di bisiki banyak pertanyaan yang pasti tak mudah untuk di jawabnya.
Jalan beraspal hitam panjang seperti terasa panas, tampak aspalnya semakin terbakar oleh sengatan terik matahari yang hawanya ikut menguap keluar.
Jalan masih ramai dengan lalu-lalang kendaraan, namun masih terasa sepi bagi seorang pengais rezeki sejak sedari pagi lelaki setengah baya itu menawarkan jasanya belum ada yang mau memakai jasa untuk membersihkan halaman rumah.
Dua roda ban sepeda sejak tadi berteriak lelah, dan bagian tepian banya sudah botak. Tergantung air dalam botol plastik sejak tadi selalu di teguknya sekedar mengusir dagaha. Kali in air dalam botol plastik tersisa hanya sedikit, tidak cukup sampai sore hari.
Saking terasa lelah dua kaki mengayuh pedal sepeda dan terpaksa jemari kanannya mencengkeram rem, sepeda berhenti dan lelaki setengah baya turun dari sepeda. Dua tangannya mendorong sepeda di gerakan dua kakinya mengajak untuk berteduh di bawah pohon rindang.
Menghela napas terasa berat, hatinya semakin terkulik lelah. Botol plastik sudah dalam genggaman tangan kirinya dan jemari kanannya memutar penutup botol. Di teguknya habis air dalam botol plastik, itu juga masih tidak mampu untuk mengusir dahaga hausnya.
Pohon berdaun rindang masih saja di sinari sengatan terik matahari menyelinap dari celah-celah dedaunan menyinari wajahnya yang makin di gurati kepenatan dan kerisauan. Arit, pacul dan golok terikat di boncengan belakang sejak sedari pagi ketiga benda tajam itu belum sama sekali di gunakannya.
"Ya Tuhan, entah sampai kapan semua cobaanMu selalu membuat saya hanya berpasrah padaMu?" gumamnya dalam hati, wajahnya kali ini sungguh berani menatap tajam indung matahari panas tak gentar malahan balas menatap wajah lelaki setengah baya itu.
Tak satupun kendaraan berhenti, padahal ia berharap jika ada satu kendaraan berhenti mau menghampirinya dan mau memakai jasanya. Kebanyakan orang sekitar jalan mawar sudah tahu siapa bapak-bapak bersepeda, di belakangnya terduduk terikat alat perkakas tajamnya di boncengan.
Panggilan lelaki setengah baya itu biasa di panggil Bang Bagus, tukang bersih-bersih. Bagus terduduk di bawah pohon, pandangannya menatap lalu-lalang kendaraan dan hatinya berharap penuh keyakinan.
Haus dahaganya kembali datang, padahal botol plastiknya sudah kosong, habis air putihnya. Ia menoleh galangan air berjalan lancar, namun Bagus tidak mungkin meminum air comberan itu.
Keyakinan dan harapannya terasa pupus, kosong tanpa harapan. Hari sebentar lagi menjelang senja, padahal ia harus giat dan rajin mengumpulkan uang untuk kuliah anaknya. Lelaki tukang bersih-bersih beranjak bangun karena hatinya tidak yakin jika ada yang mau memakai jasanya, hari sebentar lagi menjelang sore.
Dua tangannya sudah pegang stang sepeda, dan dua kakinya sudah siap mengayuh pedal sepeda segera mengajak dua rodanya berjalan.
"Bang Bagus!" suaranya terdengar memanggil dari belakang.