LELAH SANG PENJAGA SURGA

Herman Siem
Chapter #5

SUNGGUH LELAH HATINYA

Kembali Sejenak Kemasa Lalu:

Memang sejak sedari lahir dua matanya tidak bisa melihat, ia buta melek. Ketika Sanika berumur 12 tahun ia sering sakit demam tinggi. Pada waktu itu bapak dan ibunya bingung tidak punya uang sama sekali untuk membawanya kedokter, sedangkan jarak kedokter dan rumahnya sangat jauh sekali.

Ia hanya di berikan obat seadanya, dan selalu terselingi dengan ayat-ayat suci alquran. Kalah itu, walau dua mata tidak bisa melihat namun dua kupingnya masih mendengar, dan mukutnya masih bisa bicara.

Walau sering tergurat kesedihan namun jauh dari rasa sesal bapak dan ibunya masih mengajarkan sholat, dengan cepat Sanika bisa menghafal dan membaca ayat-ayat alquran.

"Alif, ba, ta," tuturnya menghafal ejaan alquran mengikuti ucapan ejaan ibunya.

Rasa haru bapaknya tidak terbendung saat melihat anak gadis remajanya mengikuti gerakan sholat yang di papah ibunya sembari mengucapkan ayat-ayat sholat.

Benak bapak semakin terasa teriris sakit, kenapa anaknya sampai tidak bisa melihat. Harapannya bapaknya kian tergerus dengan kebutaan yang diderita anaknya. Tentu saja bapaknya ingin sekali dua mata anaknya bisa melihat.

Di tambah keadaan ekonomi yang semakin menjerat tidak mau beranjak pergi, usaha bapaknya semakin tergerus dengan saingan dagangmya. Warungnya tidak lagi ramai pembeli seperti sebelumnya. Biasanya hari-hari normal, bapak dan ibunya selalu mendapatkan keuntungan dari berjualan sayuran.

Tidak kali ini, dagangan sayuran semakin hari tidak laku, terkadang sayuran layu cukup untuk jadi lauk makan sehari-hari. Kadang juga ikan sampai membiru mengeluarkan bau busuk. Saingannya sungguh sulit untuk di kalahkan, warung tidak lagi menjadi andalan ibu-ibu untuk belanja.

Sedangkan kendaraan motor milik satu-satunya sudah rusak, padahal motor itu sebagai alat tranfortasi satu-satunya untuk belanja. Maklum tempat tinggal keluarganya Sanika jauh di pedalam hutan. Banyak ibu-ibu yang membeli sayuran dari abang-abang yang menggunakan motor.

Sampai siang itu, bagai petir menggelegar di siang hari. "Pak, Bapak!" suara teriakannya terdengar dari dalam.

Suaminya sedang merapihkan dagangannya masih banyak, dan di tinggalkannya begitu saja ketika mendengar suara istrinya berteriak memanggil dari dalam.

"Bu?" tanya suaminya panik menghampiri.

"Pak, Sanika demamnya tinggi," sahut istrinya panik memangku wajah anaknya dalam pangkuan duduknya.

"Pak, kita harus bawa Sanika kedokter," pinta istrinya semakin panik buat wajahnya tergurat cemas dan dua tangannya mengelus wajah anaknya terasa tinggi demamnya.

"Pak jangan diam saja!.Ayo pak, kita bawa Sanika kedokter!" bentak istrinya pada suaminya hanya terduduk lemas pandangannya menoleh keluar, terparkir motor butut yang mesinnya mati. Uang saja tidak, dagangan sayurannya masih banyak, tidak laku.

Istrinya hanya pecah menangis sesenggukan, suaminya seraya hanya bisa pasrah seraya sungguh lelah hatinya berbisik kenapa cobaan tidak pernah habis melandanya.

Lihat selengkapnya