Walau terlahir tidak bisa melihat, namun daya ingatannya masih kuat tak ingin beranjak pergi dari setiap kenangannya, ketika Sanika masih remaja.
Puluhan tahun telah berlalu, kenangan indah berselimut pahit bersama bapak dan ibunya masih terasa melekat. Untuk tidak meninggalkan kenangan itu, ibu satu anak sehari-harinya berdagang sayuran depan rumahnya.
Rumah sederhana tidak terlalu besar namun tertata rapi, pelataran halaman begitu bersih terusik dengan gesekan suara klaher ayunan yang telah aus saat angin mengajak bermain mendorong papan ayunan.
Terkadang lalat nakal sering berterbangan terundang oleh amisnya bau ikan basah dan aneka sayuran semakin layu karena tak di bidik emak-emaknya untuk memasak. Entahlah, kenapa ia bisa berdagang, apa takut tidak di kadalin dan di bohongin pembeli.
Padahal dua matanya tidak bisa melihat, bicara saja tak mampu untuk menuturkan kata-kata, dan apalagi dua kupingnya tidak bisa mendengar setiap kata-kata. Karena sejak Sanika sering sakit demam tinggi, ia langsung tidak bisa bicara dan mendengar. Keadaannya yang membuatnya tidak bisa bahasa isyarat, bapak dan ibunya tidak ada uang untuk menyekolahannya di sekolah luar biasa.
Cukup lumayan keuntungannya yang di dapatnya dari ia berdagang sayuran dan ikan, jika habis. Jika tidak laku atau habis biasanya hanya cukup untuk makan sehari-hari. Sanika tidak sendirian, ia di bantu Anto, bocah kecil yang sehari-harinya membantu ibu angkatnya.
Sanika selalu merasakan kegundahan hatinya ketika sinar terik matahari mulai menyengat tubuhnya, instingnya mengatakan jika hari sudah siang dan dua tangannya merah-raba sayuran serta ikan yang masih banyak. Ia lalu tertegun termenung hanya perhatian dagangannya masih banyak, walau dalam penglihatan dua matanya hanya melihat kegelapan.
Ia menoleh, sembari dua tangannya meraba-raba seraya memanggil bocah kecil yang sudah di anggapnya anak sendiri. Anto sedang mengusir lalat dengan serbet, dua kakinya berjalan pelan takut tersandung, dengan tangannya meraba-raba wajah bocah kecil hanya berdiri mematung menatap dalam wajah seorang wanita yang sangat baik hati padanya.
"Bu, hari ini tidak banyak sayuran dan ikan yang laku," bibir bocah itu mendekati telinga kanan ibunya setengah membungkuk dengan dua tangannya memegang bahu bocah siang itu cuman pakai koas oblong hitam dan celana pendek warna coklat, dan dua kakinya telanjang tanpa alas kaki.
Tidak lagi pegang bahu bocah kecil, lalu dua tangannya meraba-raba sayuran dan mengambil seekor ikan basah. Semakin terenyuh sedih dan menahan tidak bersedih.
"Puss. Puss!" __ "Meong. Meong," Anto tahu jika ikan basah itu untuk kucing. Kucing di panggilnya.
Seekor kucing bulunya hitam dan belang putih sudah menghampiri manja kaki Anto langsung menggendongnya.
Instingnya tahu jika kucing dalam gendongan anaknya. Tangan kanannya Sanika menunjukan ikan basah, jemari kirinya mengelus kepala kucing walau dua matanya ingin melihat bentuk dan warna kucing yang selalu menemainya berdagang.
Lalu ia terduduk jongkok dan meletakan ikan basah dan kucing di lepaskan oleh Anto. Tersenyum bocah itu perhatikan kucing menggigit dan memakan ikan basah.
Hanya tersenyum seraya dua matanya ingin melihat bentuk dan warna kucing lahap memakan ikan basah. Tersenyum seraya dua matanya di paksakan di lebarkan ingin melihat bentuk dan warna kucing. Hanya menerka dan menduga di bisiki kata hati kecil bila kucing itu sangat lahap menggigit dan mengunyah ikan.
Bocah itu menatap dalam kesedihan perhatikan wanita yang sudah di anggap ibunya sendiri hanya terduduk jongkok, seraya dua matanya melihat namun hanya kegelapan saja yang di lihatnya.