LELAH SANG PENJAGA SURGA

Herman Siem
Chapter #7

MENGUKUR DIRI

"Kak, kakak harus ngukur diri. Kalau nggak mampu pake aja yang ada. Jangan maksain. Nih, baju dan sepatu yang kakak buang, masih bagus," adik angkatnya gusar, mengambil baju dan sepatu dari tong sampah.

"Loe, To tahu apa! Jelas-jelas gua emang harus ngukur diri. Ya gua harus ngukur diri nyamain dong style gua sama teman kampus gua. Ntar kalau gua di bilang nggak mampu, miskin. Kan' ibu sama bapak yang malu," emang kakak angkatnya sejak dari dulu selalu keras kepala, maunya selalu menang sendiri.

"Lagian loe kenapa si selalu aja ikut campur. Loe'kan cuman anak angkat," tikdak lagi tertelungkup, kakak angkatnya beranjak bangun menjitak kepala adik angkatnya.

"Kasihan kak, bapak sama ibu. Sudah berapa hari ini dagangan ibu sepi. Nggak ada yang beli," __ "Makanya kasih tahu bapak sama ibu, betah bangat sama hidup miskin! Lagian ngapain dagang sayur, terus bapak cuman jadi tukang bersih potong rumput. Kasih tabu ibu sama bapak, usaha yang lain kek yang bikin gua nggak malu!" Anto masih masih membantah sontak kakaknya kembali membuang baju dan sepatu kedalam tong sampah.

"Pokoknya gua harus beli baju baru, sepatu baru, terus laptop baru sama hp baru. Tapi gua nggak mau pake hp andorid lagi. Gua mau iphone yang terbaru!" lagi tuturnya sembari duduk sejenak di ranjang dan terbaring tidurnya. Seraya semkain bahagia dan membayangkan jika nanti ia kuliah dengan segalanya yang baru.

Tanpa mikirkan bagaimana bapaknya mencari uang untuk mewujudkan keinginan anaknya itu. Tanpa ada rasa peduli bagaimana bapak dan ibunya mencari uang. Beda dengan adik angkatnya yang segitu peduli dan tahu dengan apa yang sedang di rasakan bapak dan ibu angkatnya.

Dua matanya terenyuh sedih, sejak tadi bapaknya berdiri depan pintu kamar. Ia hanya berdiri mematung, namun dua kuping jelas mendengar keinginan anak satu-satunya. Hatinya teriris sedih seraya tidak mungkin menyanggupi segala permintaan anaknya, lalu harus bagaimana untuk memenuhi permintaan anaknya.

"Sono loe, gua mau tidur!" di bentak adiknya beranjak jalan keluar menutup pintu pelan.

"Bapak, ngapain di sini? Bapak nangis?" tanya anak angkatnya selesai menutup pintu, tahu-tahu bapaknya sudah berdiri depan pintu.

"Bapak tidak sedih. Mata bapak kelilipan," di gendong anak angkatnya, tapi kesedihannya tidak bisa di sembunyikan dari tatapan anak angkatnya.

Lalu bapaknya menggendong melewati ruangan tamu sederhana tidak banyak perbatoan dan furnitture juga sangat sederhana. "Kamu tidur, besok sekolah," kata bapaknya sudah menurunkan Anto berdiri di lantai.

"Pak?" di panggilnya pelan bapaknya, oleh anak angkatnya.

Kamar tidak terlalu besar, namun kamar bocah kecil itu cukup rapi beda dengan lamar kakaknya yang berantakan. Walau ia hanya anak angkat, ia tahu dan sangat rajin. Langkah dua kaki bapak angkat berhenti sejenak berdiri membelakangi.

Peci di lepasnya, ia menghela napas pelan seraya hatinya terjerat kerisuan. Lihat wajah dan dua lengan tangannya seraya menghitam yang di biarkan saja tersengat sinar terik matahari saat menjajahkan jasanya sebagai tukang bersih-bersih potong rumput.

Anto sudah duduk di ranjang menunggu bapak angkatnya duduk di sampingnya. Dua lelaki itu sejenak menatap kosong kesekitar kamar, pintunya terbuka lebar.

Lihat selengkapnya