LELAH SANG PENJAGA SURGA

Herman Siem
Chapter #8

MENUTUP JATI DIRI SEBENARNYA

"Siapa kita?!!!" __ "Kita ... Tridaya Sakti ... Huhh ... Ahaha ..." kating berdiri di tengah berseru nadanya semangat di ikuti serempak semua mahasiswa-mahasiswi baru beratap langit cerah di satu lapangan besar.

Siang itu calon mahasiswa dan mahasiswi baru Universitas Tridaya Sakti sedang melakukan PKKMB, Pengenalan Kehidupan Kampus Bagis Mahasiswa baru.

Satu lapangan terlihat memutih seperti langit cerah, semua mahasiswa berpakaian kemeja putih dan bagian bawahnya hitamnya celana panjang untuk cowok dan rok hitam untuk cewek.

"Hari ini, kalian bukan sekedar duduk di kursi ini dalam kelas yang biasannya di intrruksikan oleh guru! Hari ini, kalian adalah impian baru bagi kampus Tridaya Sakti, dan haarapan baru bagi bangsa dan negeri ini. Tanggalkan seragam putih abu-abu kalian! Hari ini kalian sah menjadi mahasiswa Tridaya Sakti! Mahasiswa bukan lagi siswa yang disuapi ilmu, tapi perubahan yang harus mencari ilmu, mengolah ilmu, dan mengamalkan ilmu! Siapa kita?!!!" __ "Kita ... Tridaya Sakti ... Huhh ... Ahaha ..." orasi kating cowok berwajah tampan dengan almamaternya berwarna biru dongker di sahuti semua mahasiswa dan mahasiswi serempak.

Langit tiba-tiba mendung, awan gelap serta bebas bermain dengan semilir angin, sedangkan sinar terik matahari tidak lagi terlihat seraya terusir oleh gumpalan awan gelap.

Tetesan rintik air hujan mulai jatuh membasahi wajah lelah setiap penuntut ilmu sebentar lagi otak dan jiwanya akan teruji duduk di dalam setiap ruangan dalam naungan gedung kampus swasta ternama.

"Siapa kita?!!!" __ "Kita ... Tridaya Sakti ... Huhh ... Ahaha ..." kating tampan itu tidak peduli wajah dan sekujur tubuhnya di gerus hujan, ia berseru lantang di sambut semua mahasiswa dan mahasiswi beranjak bangun berteriak bersuka cita.

Semua mahasiswa dan mahasiswi melompat kegirangan, semua hitam putih sudah basah kuyub. Semangatnya semakin memuncak seraya rintik hujan telah merasuk membasahi sekujur tubuh, sejak tadi hanya menatap dan mendengar orasi kating beratap langit panas.

Hujan semakin deras, semakin penuh tawa canda, dua kaki melompat riang dan dua tanganya saling merangkul mengajak berputar teman lainnya.

Tatapan itu sejak tadi tidak bergeming, walau wajah cowok tampan itu sudah basah. Arya, anak orang kaya yang sebenarnya ia bisa menerima tawaran maminya kuliah di Inggris, tapi halus ia menolaknya.

Tapi ia memilih kuliah di universitas swasta itu jadi rencana terakhirnya untuk menimba ilmu, sebeentar lagi ia di dapuk untuk menduduki kursi empuk papinya. Dua mata Arta hanya sekali berkedip, ia mampu bisa membayar uang semesteran di kampus terkenal di kota Jakarta.

Dua kakinya mengajak berjalan tidak peduli menginjak genangan becek air, sepatu mahalnya seraya bersedih di ajaknya tenggelam terasa lepek dan basah.

Tatapanya makin tersenyum berselimut tetesan rintik hujan perhatikan gadis yang pernah di kenalnya, saat satu sekali bertemu saat menolong ibunya terjatuh di galangan air. Dan kedua kalinya saat melihat ia di bonceng sepeda bapaknya.

Kirana sedang berputar-putar kegirangan, impian tak mengapa terbentur masuk perguruan tinggu negerinya pupus. Kali ini ia sungguh bahagia bermain tetesan rintik hujan dengan sahabat barunya yang di kenalnya saat PKKMB.

"Loe, gua?" __ "Gua sama loe? Tridaya Sakti ..." sembari dua tangannya merenggang dan setiap jemarinya mencengkeram berpelukan dan dua kakinya mengajaknya berputar, tidak peduli sudah basa kuyup.

Kirana dan Lani semakin berputar semakin tidak peduli rintik hujan mengerus basah tubuh keduanya. Kedunya tidak menyadari jika cowok tampan itu makin mendekat dan makin perhatikan keduanya.

"Kirana, cowok tuh?" kata Lani melepaskan dua tangannya, ikut menoleh Kirana sudah berdiri Arya di sampingnya.

Lihat selengkapnya