" Ya itu Lan, bapak ibu gua terlalu khawatir. Sampe gua nggak boleh nyetir mobil sendirian. Makanya gua di suruh naik taksol aja," tuturnya berbohong, guaran wajahnya panik menoleh kiri jalan terlihat deretan rumah mewah bergaya modern.
"Awalnya gua juga sama kaya loe. Bapak sama ibu gua nggak boleh gua nyetir mobil sendirian. Tapi, hampir tiap hari, sampe bosan-bosan bapak sama ibu gua, gua ocehan terus. Ya, pada akhirnya gua di kasih nyetir mobil sendirian. Kirana, benar ini komplek perumahan loe?" tutur Lani sembari dua tangannya kemudian setir mobil dan menoleh pada Kirana sepertinya semakin canggung dan gelisah.
"Iya, itu rumah gua. Berhenti di sini," sontak menjawab pasti, tapi raut wajahnya kelihatan gelisah.
Dua kakinya Kirana terasa berat tidak mau mengajak turun dari mobil mewah milik temannya, jelas-jelas ia memang anak orang kaya, mobilnya saja mewah.
"Rumah loe mewah juga Kirana?" celetuk sembari melongok kearah kiri, jelas tampak rumah mewah besar bergaya modern dengan dua lantai.
"Gua boleh kenalan sama bapak ibu loe, Kirana?" __ "Hemm, aah. Ibu sama bapak gua, gini hari belum pulang. Loe pulang aja deh Lan," tanya Lani menoleh menatap wajah temannya semakin gelisah seperti panik dan jari kirinya mencongkel handle, pintu mobil terbuka dan dua kakinya mengajaknya turun.
"Bruugg!" di tutupnya pintu mobil.
"Makasih Lan," Kirana membungkuk, wajahnya menoleh kedalam mobil.
Lantas kaki kanan Lani tidak menginjak pedal gas mobil, ia sejenak dalam mobil perhatikan langkah dua kaki temannya seraya ragu berjalan kearah pintu gerbang rumah mewah itu.
"Kirana, sampai besok!" berbalik cepat Kirana memgangguk dan sejenak perhatikan temannya dalam mobil. Lani melempar senyuman, dua tangannya kemudikan setir mobil dan kaki kanannya menginjak pedal gas mengajak mobil mewah berjalan.
Lalu Kirana berbalik kembali berjalan mendekati pintu gerbang, namun kali ini telunjuk jari tangan kanannya ragu untuk memencet bel sembari wajahnya menoleh pada mobil mewah milik temannya sudah tidak lagi terlihat.
Cepat dua kakinya mengajak berjalan kearah tepian jalan. Kirana hanya mengaku-ngaku saja, bila rumah mewah itu miliknya. Lalu ia menyeberang jalan hati-hati menoleh kiri-kanan jalan.
***
Raut wajahnya semakin gusar, hatinya kian marah dengan dua langkah kakinya ikut marah menjejak bumi dengan sandal selop mahal. Sandal selop itu terlihat mahal yang di pakainya dua kakinya, dan pakaian yang di kasih oleh teman barunya juga tidak murahan, pasti harganya mahal.
Kirana mengaku anak orang kaya, bapaknya pengusaha penyalur penyalur/outsourcing satpam danĀ housekeeping hanya untuk perusahaan besar saja.
Sedangkan ia merasa tidak malu mengaku jika ibunya juga pengusaha, banyak memiliki gerai sayuran dan buah-buahan di mall besar.
Sepi terasa sunyi halaman rumah, hanya ada meja lapak sayuran berteman dengan ayunan tidak sedang di ajak bermain dengan semilir angin. Suara lalat begitu mengusik namun terasa bebas mengerubungi sayuran dan ikan basah yang sampai siang itu masih utuh tidak ada yang membelinya.