Ingin dua matanya melihat, ingin dua liang kupingnya dapat mendengar dan bibirnya bisa mengungkapkan kata-kata kasih sayang pada anak dan suaminya.
Semua keinginannya itu seraya hanya mimpi, mimpi yang akan selalu mengajaknya tertidur panjang tanpa mengajak dua matanya untuk terjaga bangun.
Walau hati kecilnya selalu mengukir untaian doa-doa untuk pemilik semesta tanpa terucap dari bibirnya, tapi hatinya bisa berbisik yakinkan padaNya, bila ia sangat mencintai dan sayang pada anak dan suaminya.
Namun hanya insting dan naluri seorang ibu yang cintanya sungguh seluas samudra pada anaknya. Akan tetapi justru yang di dapatinya hanya balasan yang sebenarnya ia tidak mau menerimanya.
Hanya bahasa belaian kasih sayang dan perabaan penuh kehangatan selalu ia luapkan pada anaknya, seraya ia tidak mampu untuk memberikan bentuk kasih sayang utuh yang di inginkan anaknya.
Hatinya selalu membisiki keinginan mulianya agar anaknya selalu merindukannya, walau berada di mana saja. Sayang, anaknya seraya memasang tembok pemisah tinggi, seperti ingin jauh darinya.
Bibirnya tak dapat bicara ketika ia sedang memuja satu nama yang selama ini menjadi tempatnya bernaungnya. Hatinya selalu besar, walau hanya bisikan hatinya saja, pasti satu nama besar itu akan mendengarnya, nama besar itu Allah.
Padahal asanya selalu ingin di dengar, kenyataannya hanya jawaban pahit dan getir yang selalu membuatnya terluka sedih hatinya. Ingin secara utuh seluruh apa yang di berikan dari pemilik semesta ini, seluruh tubuh dan anggota tubuhnya berguna, tapi nyata tidak. Rasanya hanya semu belaka, asanya seraya telah pupus dan harapannya tergulung ombak lautan lepas.
Air matanya terasa sudah kering, namun hatinya yang selalu mengajak untuk bersedih. Ingin sekali dua matanya melihat masa tubuh kembang anaknya, namun hanya ada kegelapan yang di rasanya.
Malang nian nasib seorang ibu seperti kertas putih yang kusam berselimut debu, dan tak'kan mampu lagi untuk menguratkan kata-kata cinta. Seperti dirinya tak berguna, seperti tercampakan berselimut kesedihan abadi.
Apa yang tengah terjadi padanya telah memukul hatinya tercambuk kesedihan berkepanjangan. Padahal, anaknya selalu meminta lebih pada seorang ibu yang tidak hanya sekedar memberikan kasih sayang. Pergolakan hati yang tengah terjadi pada ibunya, membuatnya anak satu-satunya seraya membangkang.
Tidak takut bila pintu surga tertutup rapat. Atas restu ibulah, bila pintu surga terbuka lebar. Titik berat seorang ibu walau banyak kekurangan, namun hatinya selalu penuh kasih sayang.
Anak kandungnya selalu membuatnya ibunya bersedih hingga membuatnya tak berdaya. Beda dengan anak angkatnya yang sesungguhnya walau tidak ada ikatan darah, anak angkat itu justru sangat menyayangi ibu angkatnya.
"Iya bu benar begini. Ibu jarinya begini, terus telunjuk ibu begini, dan kelingking ibu di rentangkan. Terus jari tengah ibu dan manis di tekuk, ya. Iya begitu bu. Artinya, aku sayang kamu. Atau ibu sayang Kak Kirana," sabarnya bocah itu mengajari ibu angkatnya dengan telaten memapah jari ibunya di bimbing dengan bahasa isyarat.
Sejenak ibunya tertegun, dua matanya hanya menatap kosong seraya dua matanya ingin melihat wajah bocah itu yang bukanlah darah dagingnya.
Lalu dua tangan Sanika di gerakan kearah bocah itu dan di peluknya erat. Terenyuh sedih menahan tangisan bocah yang tidak memiliki ikatan darah dan membalas memeluk ibunya.