LELAH SANG PENJAGA SURGA

Herman Siem
Chapter #11

MALU MENGAKUI

Bangunan kampus cukup besar dan mewah, gedungnya menjulang tinggi seperti perkantoran. Terhampar aneka macam merk mobil terparkir dan terpisah dengan barisan motor terparkir rapi.

Universitas Tridaya Sakti, satu untiversitsas swasta terkenal dan termahal di Jakarta. Universitas paling di cari oleh anak-anak dari kalangan berada.

Kebanyakan mahasiswa-mahsiswinya dari kalangan orang berada, pastinya orkay, orang kaya. Tapi tidak juga, ada mahasiswa-mahasiswi yang berfrestasi mendapatkan jalur beasiswa, dan tidak semuanya mahasiswa mahasiswi yang kuliah di kampus itu anak orang kaya.

Walau mereka dari kalangan berada, namun rasa kebersamaan selalu di tekankan dari pihak kampus untuk membantu dan mengerti dengan keadaan mahasiswa mahasiswi yang kurang mampu.

Ada juga mahasiswi yang berpura-pura kaya, nyatanya hidupnya pas-pasan terkesan di paksakan untuk kuliah di kampus terkenal itu. Seperti mahasiswi satu ini, Kirana yang hatinya semakin berselimut bahagia.

Ia seperti tidak peduli dengan keadaan jeritan bapak dan ibunya. Apa yang menjadi keinginannya harus selalu di penuhi, bila tidak maka kemarahannya akan memuncak menyemburkan lahar panas untuk bapak dan ibunya.

Sejak tadi ia bingung sendiri berselimut malu seraya sedang menyembunyikan sesuatu. Pandangan dua matanya hanya melihat jemari-jemari lentik sedang mainkan keyboard dan dua matanya jelas membaca pada layar laptop keluaran terbaru. Dan hampir satu kelas semuanya tidak menggunakan hp android, tapi iphone keluaran terbaru.

Makin ciut nyalinya dan makin tergurat malu raut wajahnya. "Kirana, loe kok bengong aja. Cepat kerjain tugas loe," kata Lani bingung lihat temannya sejak tadi cuman bengong.

"Loe kenapa si?" beranjak bangun temannya, Lani penasaran melihat Kirana hanya memeluk tas miliknya, tas gemblok warna hitam.

"Lan. Lani jangan. Loe apa-apaan, akh! Sini balikin tas gua!" di rampasnya, dan terjatuh laptop dan hp jadul dari dalam tasnya. Satu kelas, teman-temannya melongo melihat laptop dan hp jadul tergletak terjatuh kelantai.

"Jiaahh, laptop lemot!" __ "Hpnya juga jadul!" __ "Nih, iphone keluaran terbaru!" tiga mahasiswi menyindir sembari menjebeh dan meledek Kirana cepat mengambil dan masukan laptop dan hp kedalam tas.

"Kirana. Kirana!" bingung dan gusar Lani cepat masukan laptop kedalam tas dan segera mengejar teman berlari keluar.

Kirana makin terusik rasa malu seraya ia sudah di telanjangi oleh teman sekelasnya. Padahal ia berusaha untuk menutupi kemiskinannya, tapi tidak punya daya upaya. Ia sudah memaksa pada ibu dan bapaknya, juga sama-sama tak berdaya.

Ia tidak mau teman satu kelasnya mengulitinya dan tahu siapa ia sebenarnya. Tapi kenyataannya, pelan-pelan teman satu kelasnya akan tahu siapa Kirana sebenarnya.

Hatinya marah sampai mengular kemulutnya ingin memaki-maki bapak ibunya. Dua kakinya semakin cepat mengajak berlari menyusuri lorong koridor sepi terapit sisi kanan kelas masih terdengar dosen menjelaskan dan sisi kanan, pelataran luas beratap langit senja.

"Kirana!" dari belakang terdengar derap dua kaki bergegas mengejar, sembari berteriak pelan tertahan masih jam kuliah.

Kirana menoleh kebelakang sembari dua kakinya mengajak berlari, mungkin ia takut jika penyamaran sudah ketahuan dan membuat temannya akan kecewa padanya.

Pintu terbuka, pandangan segera berbalik mengikuti langkah dua kakinya berlari.

"Loe?! Nggak punya mata loe! Kalau jalan lihat-lihat!" bentak terkejut Kirana pada cowok tampan yang tidak sengaja menubruknya saat membuka pintu, ia pikir tidak ada orang karena ia juga sedang buru-buru.

Laptop dan hp lagi-lagi ikut terlempar keluar dari tas saat Kirana terjatuh.

Lihat selengkapnya