"Akh!!!" mulutnya berteriak kencang serasa dunia ini miliknya dan betapa kasarnya Kirana mendorong ibunya sampai tersungkur jatuh kelantai.
Padahal selagi masih kecil, walau ibunya tidak melihat dan tidak bisa bicara apalagi mendengar, kasih sayang penuh harapan pada anaknya selalu berharap agar selalu menjadi anak yang baik. Begitu juga bapaknya selalu mengajarkan sopan santun, adab dan ahlak pada anak semata wayangnya.
Terasa sakit, apalagi kesedihan selalu membanjiri wajahnya. Sungguh telah lelah sang penjaga surga selalu teraniaya, ia biasa merasakan tangisan dalam hati kecilnya. Hanya lirih dan tetesan air mata tidak dapat balas melerai kekerasan yang di lakukan anaknya pada dirinya.
"Kasih tahu bapak! Jangan dekat-dekat gua dan sok pura-pura kenal sama gua, kalau gua lagi di kampus! Akh!!!" di jambak ujung hijab warna putih yang di pakai ibunya, dengan rasa tidak hormatnya seorang anak pada ibunya sampai begitu beraninya melawan.
Dua tangannya menjambak hijab putih, kemudian dorong lagi ibunya sampai terjatuh, terasa sakit bibirnya sudah sering mendarat mencium lantai.
Terlalu berani, sadis dan sangat kurang ajar anak itu sungguh sangat berani melawan pada ibunya. Sungguh janji surga akan di tepati, pintu surga tak akan terbuka untuk anak itu.
Harusnya anak itu santun, patuh dan hormat pada ibunya adalah pemegang kunci surga untuk anaknya. Sakit rasanya hati seorang ibu yang di aniaya anaknya, anaknya yang selama sembilan bulan dalam kandungannya.
"Lagian bapak kenapa juga si kerja di kampus? Akh?! Emang nggak ada kerjaan selain, kerja di kampus?!" duduk jongkok Kirana, tangannya lagi mencengkeram menjambak kepala ibunya lalu di benturankan lagi kelantai.
Tambah sakit, dua matanya hanya melihat kegelapan, namun kepalanya terasa sakit pusing saat di benturkan keras kelantai oleh anaknya semakin meradang marah.
Kirana beranjak bangun, wajahnya di selimuti murka hatinya menari-nari berselimut meradang marah. Wajahnya murka, ia beranjak banvun tanpa peduli dengan keadaan ibunya.
"Akh!!! Gua benci sama keadaan ini!!! Ya Tuhan ... Kenapa gua terlahir di dari rahim ibu yang miskin ... Ibu yang selalu bikin gua susah ...!" bebas seraya bebas berteriak sembari berputar memberitahukan pada langit pemilik semesta ini.
Untung saja kebaikan seorang ibu masih sungguh terlalu baik, walau sakit amat sakit di rasakan ibunya oleh perlakukan anaknya. Masih ada kebaikan dan tutur maaf dari ibunya yang bisu, tidak bisa bicara, andai saja ibunya bisa bicara. Akan terucap sumpah, sumpah serapa untuk anaknya itu, tidaklah mendapatkan restu surga, dan pintu surga akan tertutup untuknya.
Hanya karena bapaknya kerja dan menemuinya di kampus, itu juga bapak tidak sengaja dan tidak tahu jika ada anaknya, saat bapaknya sedang menyapu lantai.
Ibunya seraya tidak berdaya, ia seperti pasrah ingin mati saja dengan perlakukan penyiksaan batin yang selalu di dapati dari anaknya, tapi malaikat maut belum mau menjemputnya.
Sanika seraya pasrah jika malaikat maut datang untuk menjemputnya, namun hatinya selalu yakin, bila suatu hari ia akan mendapatkan pelukan hangat dari anaknya. Lalu ia beranjak bangun, dua tangannya menempel lantai untuk menopang tubuhnya yang ringkih semakin terasa sakit segera berdiri.
Walau anaknya salah, ia seraya ingin meminta maaf pada anaknya. Teriakan suara anaknya terdengar kecil masuk mendobrak gendang telinganya. Artinya teriakan anaknya sempat di dengarnya walau terdengar kecil samar suaranya. Ia sudah berdiri mencari anaknya berada di mana.