"Pak ini nggak cukup! Masa segini! Nih, gua balikin aja!" tiga lembaran uang nominal pecahan lima puluh ribu kembali di lempar kewajah bapaknya.
"Bapak hanya punya segini, Kirana." bapaknya sudah mengambil tiga lembaran dan kembali memaksa anaknya untuk memgambil pemberiannya, tapi anaknya menolak hanya tersenyum dingin.
Seolah-olah Kirana tidak menghargai uang pemberian bapaknya sangatlah tidaklah berarti, walau di carinya dengan mengeluarkan peluh dingin.
"Pokonya gua nggak mau! Besok apa yang gua pinta. Bapak, harus udah ada!" sungguh berani anak itu tidak hanya pada ibunya, tapi pada bapaknya ia berani membentaknya.
Teriris sakit hati bapaknya, dua matanya menahan kesedihan walau jantungnya sudah menabuh genderang kencang ingin memukul dan memarahi anaknya.
Tidak bisa di lakukannya, seorang bapak walau hanya menahan rasa pedih san pilu. Sesakit apapun itu yang di rasakannya, hatinya tak berdaya untuk membalas semua perlakuan anaknya, padanya.
Peci di lepaskannya dari kepalanya, mungkin saja sejak sedari kemarin isi kepalanya sudah berputar berpikir mencari jalan keluar, tapi yang di dapatkannya hanya jalan buntu.
Ia menoleh perhatikan sepeda jadulnya. Bila sepeda itu bisa bicara dan berkata, sepeda itu ingin sekali di ganti gear giginya yang sudah aus. Tapi pemiliknya masih menunggu waktu yang tepat, ia masih mengutamakan keinginan anaknya.
"Pak, bisa nggak si besok-besok jangan nemuin gua. Kalau gua lagi di kampus sama teman-teman gua. Gua malu tahu, kalau teman-teman gua tahu. Bapak gua kerjanya di kampus, kerjanya tukang bersih-bersih!" tambah keterlaluan, tadi di kasih uang menolak. Sekarang bapaknya merasa sudah membuatnya malu di kampus.
"Kirana, kamu harus terima kenyatan ini. Ini hidup yang harus kita lalui bersama. Orang tua manapun akan sama berpikirnya dengan bapak. Bapak akan melakukan apapun demi anaknya. Tapi bapak sungguh tak berdaya," __ "Nggak pak, gua nggak mau terima kenyataan hidup ini. Dan bapak sama ibu aja yang ngelaluin ngelewatin jalan yang susah. Gua nggak mau. Pak, tetap gua nggak mau terima kenyataan hidup yang pahit ini. Asal bapak tahu, gua malas jadi bagian keluarga ini!" bapaknya berusaha menasehati anaknya, tapi anaknya justru membalikannya dengan nada kurang ajarnya.
Namanya memang Bagus, tapi tidak sebagus nasibnya yang selalu saja kesialan dan kemiskinan menghampirinya terlalu betah dan tidak tahu kapan beranjak pergi. Bagus hanya berdiri, dua kakinya seraya terikat dan wajahnya menatap kosong di rayu kesedihan.
Seraya patung hidup yang hanya bisa bersedih, tanpa bisa meluapkan amarahnya. Hatinya sungguh tegar, walau tersakiti, walau kehidupannya selalu di landa cobaan berat, ia tetap akan selalu yakin selalu menguntai doa-doa yang terbaik untuk anaknya.
Dua kakinya mengajak berjalan walau masih terasa berat, ia berdiri depan kamar.
"Ibu tidak boleh bersedih. Tetap doakan Kak Kirana, agar hatinya terbuka untuk menyayangi bapak sama ibu," suaranya terdengar dari dalam, jemari tangan anak angkatnya menyeka kesedihan yang di rasakan ibu angkatnya.