LELAH SANG PENJAGA SURGA

Herman Siem
Chapter #14

TIDAK MENGAPA, ASAL BAHAGIA

Harapan seorang bapak pada anaknya tentunya sangat mulia, bibirnya selalu beruntai doa-doa yang terbaik untuk anaknya. Walau kadang tak kuasa merasakan sakit tersayat hatinya saat anaknya membentak, perlakukan kasar serta melawan padanya.

Harimau saja binatang buas bisa saja dengan cakar tajamnya mengoyak tubuh kecil anaknya, namun naluri kasih sayang membuat cakar tajamnya tak berdaya seraya tumpul hanya ingin selalu menumpahkan kasih sayang penuh pada anaknya.

Segalak, galaknya dan semarah, marahnya orang tua tetap tak'kan tega untuk membalas rasa sakit hatinya ketika anaknya kesayangannya membuatnya berderaian air mata. Di belahan dunia manapun kasih sayang orang tua kan'selamanya menyayangi dan mencintai anaknya dengan setulus hatinya.

Ada tidak ada, walau rasa sakit, rasa lelah bercucuran peluh, dan seraya hatinya terluka, orang tua'kan selalu melakukan sesuatu yang terbaik hanya untuk membuat anaknya bahagia.

Semua di rasakan sedih beratap lelah menyayat hati tidak mengapa, asal anaknya bahagia. Namun kenapa balasannya terlalu pedih menyayat hati, ketika seorang anak begitu beraninya melawan dengan kata kasarnya sampai melukai hati orang tua.

Udara dingin masih berteman dengan gelap malam, dua kakinya terasa sudah lelah mengayuh pedal sepeda mengajak dua roda ban berjalan tanpa tujuan pasti. Suara decitan rantai mengusik malam karena gear gigi tajam kecil sudah aus, tidak pas menyatu dengan lobang kecil rantai.

Pasti anak angkatnya masih menunggu dalam khawatirkannya, tidak tahu kemana dan pergi bapak angkatnya malam-malam hanya membawa kepedihan tanggung jawab yang begitu berat di pikulnya.

Dua tangannya masih terasa lelah sejak dari pagi, siang dan menjelang sore tak hentinya selalu memegang gagang sapu dan mengajak menari kain pel mengusir debu beralas keramik yang sangat luas terhampar di bangunan kampus.

Dua matanya masih terjaga menatap tajam kedepan, walau raut wajahnya sungguh terlihat sangat lelah. Satunya pendamping Tuhan, ia saat ini sedang berpacu dalam gelap malam hanya untuk mencari dan mendapatkan apa yang sedang di pinta anaknya. Sedangkan satu pendamping Tuhan, istrinya masih terlelap dalam tidur bermimpi tak tahu kapan mendapatkan pelukan hangat dari anaknya.

Jemari kanannya sudah mencengkeram handle rem, sepeda berhenti. Pandangannya menatap satu rumah besar dan mewah. Entah rumah siapa yang di datanginya malam itu, sedikit tersenyum seraya sedikit ada harapan mengetuk hatinya tersenyum.

Lekas dua kakinya mengajak turun dari sepeda. Sepeda jadul lalu pengaitnya di standarkan menyentuh lantai aspal. Ada rasa ragu dua kakinya mengajak melangkah, seraya dua kakinya tak'kan di sambut baik oleh pemilik rumah mewah dan besar.

Hatinya makin terkulik tidak enak, walau telunjuk jari kanannya sudah menekan tombol bell rumah itu. Sejenak Bagus berdiri seraya menanti seseorang membuka pintu gerbang rumah mewah itu.

Apa yang di lakukannya malam itu sungguh terpaksa, ia tidak peduli di anggap hina atau tersakiti hatinya oleh pemilik rumah. Semuanya tidak mengapa, asal anaknya bahagia.

"Klotek," suara grendel besi pintu gerbang terdengar di geser dari balik dalam pintu gerbang.

"Bang Bagus? Sudah di tunggu sama bapak," kata lelaki berperawakan kurus persilahkan masuk.

Sejenak Bagus menoleh sepedanya di biarkan sendirian depan gerbang rumah, ia tidak tega ingin meninggalkan sepeda miliknya. Lalu dua tangannya pegang stang dan mendorong masuk sepeda kedalam rumah mewah besar.

Lihat selengkapnya