LELAH SANG PENJAGA SURGA

Herman Siem
Chapter #15

DEMI SANG PENJAGA SURGA TERSENYUM

"Bapak ...!!!" suaranya sampai terdengar sampai keluar, seraya anak gadisnya terkejut melihat sesuatu.

Teriakan itu tidak di pedulikan hanya memecah keheningan pagi sebentar lagi mengajak sinar terik matahari.

Tidak tahu kenapa kakaknya sampai berteriak sepagi itu, padahal bapaknya sudah mengajak sepedanya berjalan pergi. Sepagi itu Anto sudah bangun, sepertinya ia ingin memberikan kejutan untuk ibu angkatnya.

Tersenyum ia berdiri perhatikan sesuatu di balik terpal, hatinya ikut berseru bahagia. Pasti ibu angkatnya akan merasa sangat senang sekali, jika tadi malam ia sudah membuat gerobak kecil untuk berdagang sayur.

"Tapi, ini hanya gerobak saja. Bapak juga lupa belanja?" gumamnya dalam hati sedikit bingung dan tersenyum kecil.

"Nggak apa-apa, yang penting ibu bahagia. Pasti bapak juga ikut senang kalau lihat gerobak ini," suaranya terdengar pelan mengajak sinar matahari mulai mengikuti arah dua tangan kecilnya menarik ujung terpal.

Terkejut Anto melihat gerobak yang tadinya kosong, sudah terisi dengan aneka macam sayuran dan ikan basah tidak lagi telanjang tergeletak. Ikan basah kali ini terbungkus dalam plastik dan tergantung terikat bersama dengan aneka sayuran lainnya.

Pikiran bocah itu ikut terenyuh seduh, dua matanya haru berkaca-kaca benaknya membisikkan, jika bapaknya pasti sebelum berangkat kerja sudah membelanjakan sayuran untuk ibunya berdagang.

"To, kok sekarang pakai gerobak, dagangnya?" tertegunnya terjaga saat dua orang wanita menghampiri Anto.

"Iya bu, sekarang dagangnya pake gerobak. Bisa keliling kampung, jadi ada kesempatan lakunya bisa banyak," jawab Anto tersenyum.

"Kenapa nggak dari kemarin-marin aja? Terus ibumu ikut keliling juga dagang sayurnya pake gerobak?" tanya ibu satunya memilih sayuran.

"Kak Kirana, udah bangun. Mau berangkat kuliah?" __ "To, bapak mana?" tanya Kirana sudah siap-siap, pagi itu raut wajahnya tidak lagi berkerut kesal terlihat tersenyum dan nada bertanya pada adik angkatnya tidak terkesan galak.

"Bapak udah pergi kerja," jawab Anto lupa menjawab pertanyaan satu wanita.

Kirana melempar senyuman dingin pada dua wanita memilih sayuran. Tapi dua wanita membalasnya dengan ikut tersenyum.

"Maaf bu, saya hampir lupa menjawab. Ibu akan saya bawa keliling, kasihan kalau sendirian di rumah," jawab Anto sembari perhatikan kakak angkatnya pakai sepatu.

"Kirana, katanya kuliah di kampus swasta yang mahal? Pasti bayarannya mahal juga dong?" __ "Iya dong, emang anak ibu, palingan kuliahnya di kampus biasa dan bayaran murah!" satu ibu lagi bertanya, malahan di jawab ketus sama Kirana.

Dua wanita itu sontak membalasnya dengan senyuman dingin seraya tidak suka dengan jawaban dan sikap Kirana.

Dari dalam terdengar langkah jalanya pelan, dua tangannya meraba-raba angin tak berbentuk dan mulutnya seraya ingin memanggil tapi tidak bisa.

"Jangan sombong Kirana. Kami juga bisa kuliahin anak kami di kampus swasta, tapi kami mikir untuk mengukur kemampuan kami nggak di paksain!" gusar di jawab satu ibunya memberikan pada uang pada Anto.

Lihat selengkapnya