LELAH SANG PENJAGA SURGA

Herman Siem
Chapter #17

LUPA DIRI

Kirana semakin lupa diri siapa ia sebenarnya. Sepertinya uang sebanyak iti dari bapaknya dan sudah di belanjakan sesuka hatinya. Pakaian, sepatu, iphone terbaru dan laptop, padahal Arya akan membayar semuanya namun di tolaknya karena gengsi.

Jikalau Arya membayarnya semua itu, ia hanya sekali membuka dompetnya untuk membayar belanjaan gadis yang mulai di sukainya. Semakin tidak sadar, jika pertemannya dengan Lani sebentar lagi akan menjadi dua kubu yang saling memanas karena merebutkan satu cowok yang di sukainya.

Lani sudah punya kartu as, tahu siapa sebenarnya Kirana. Kapan waktu gadis yang kini sudah jadi rivalnya, kapan waktu akan menjadi bom waktu yang akan di lemparnya pada Kirana.

Merasa gensi dan lupa diri siapa ia sebenarnya, sampai makan saja Kirana yang bayar. "Udah loe tenang aja, nggak usah ngeluarin duit. Gua yang bayar," di bukanya amplop putih masih tersisa banyak lembaran rupiah merah setelah membayar makanan cepat saji.

Perutnya sudah kenyang, hati keduanya seraya telah lupa. Jika kedua ibu mereka menunggunya dalam kekhawatiran.

"Ya, kalau bapak gua kerjaannya cuman pesuruh boss doang. Mobil yang gua bawa aja, mobil kantor," tutur Arya menatap dalam dua mata Kirana seperti tidak mau kalah ingin menyombongkan diri.

Padahal ia cuman berbohong, hanya ingin mengetes sampai mana keyakinan dan ketulusan gadis yang mulai membuat hatinya nyaman.

"Loe pake aja mobil gua. Sampe saking bingungnya karena kebanyakan mobil. Gua sampe naik taksol, saking bosan sama mobil yang gua punya. Kalau kerjaan bapak gua. Bapak gua punya perusakan penyalur gitu. Semacam outsourcing, tapi cuman buat di kantor gede-gede aja.

"Enak hidup loe ya, mau apa tinggal minta," pujinya, Arya tersenyum menatap dalam wajah Kirana.

"Walau hidup gua enak, tapi hidup gua sepi. Ibu gua kadang sibuk sama bisnisnya. Apalagi bapak gua, kadang sampai nggak pulang. Pulang juga malam. Maklum, bapak sama ibu gua sibuk nyari duit," makin bohong, makin tidak takut dosa tutur katanya.

Dua mata saling menatap sendu, untung saja itu di tempat keramaian. Jika di tempat sepi beratap langit menggoda, mungkin kedua bibir itu pasti bertemu saling melumat atas nama cinta palsu.

Dari kejauhan kadang di terhalangi orang jalan. Pandangan matanya terkesan teraduk marah dan cemburu, ingin rasanya jati diri teman yang di kenalnya itu akan di bongkarnya. Lani masih berbaik hati, walau makin cemburu melihat dua tangan Kirana menarik dua tangan cowok tampan yang di sukainya.

Lihat selengkapnya