Ketika sakit, sungguh merasakan sakit yang semakin terus membelunggu setiap tubuh yang tak berdaya. Sakit itu tidak memilih tak ada uang atau ada uang. Sakit akan merasa kerasan untuk tinggal pada setiap tubuh tanpa memilih miskin atau kaya.
Terasa sulit menahan rasa pembengkakan pada kaki, wajah, kelelahan padahal hanya terbaring, mual ingin muntah mengeluarkan keluh kesah, merasa saat pipis urin berbusa, sesak napas di selimuti peluh dingin, kulit gatal, dan kram otot, semua itu di tahannya seraya tidak mengapa walau hati selalu yakin pasti akan menemukan obat dan mengajak kesabaran.
Semakin hari membuatnya putus asa dan hatinya berteriak semakin tidak tahan merasakannya. Si kaya pemilik uang banyak dan selalu mendewakan uang, pastinya jika ada uang apapun pastinya akan mudah. Tapi uang bukan segalanya untuk mengukur kehidupan jadi jauh lebih mudah serta menyingkirkan sakit dengan nominal uang yang di miliki.
Guratan wajahnya tak lagi terpoles bedak mahal, dan bibirnya menyatu pucat serta lengan tangannya tak lagi memakai gemerlap kuning emas menunjukan kasta tertinggi wanita yang masih terbaring di bangsal ruangan rawat inap. Tubuhnya semakin kurus, makannya saja tidak nafsu.
Makin menjadi, makin sulit rasa tidak enak dan semakin menggerogoti tubuhnya tidak tahu kapan sakitnya beranjak perginya. "Mi, makan ya?" sejak tadi suaminya berusaha membujuk istrinya untuk makan.
Aneka makanan kesukaan istrinya tergeletak begitu saja di nakas terasa mubazir tidak di makan. Istrinya hanya terbaring lemas, seraya tidak berdaya. "Mami, tidak nafsu makan, pi." jawab istrinya lemas.
"Arya mana pi?" tanya istrinya pada suaminya tersenyum kecil.
"Mungkin sebentar lagi," sahutnya ragu. Lalu suaminya menarik kursi dan duduk, senyumnya tergurat cemas dan khawatir melihat keadaan istrinya semakin menurun kondisi kesehatannya.
Pintu terdorong dari luar di sertai wajahnya menoleh semoga ada jawaban yang sedang di nanti. "Selamat malam pak," salam perawat berdiri di ujung bangsal sejenak menatap pasien wanita mengangguk pucat tidak semangat.
"Pak saya ingin memberitahukan dari berapa hasil skrining pengujian labs yang bapak ajuan untuk pendonor ginjal istri bapak. Hanya ada satu yang cocok, namun kami perlu sample darah untuk pengujian lebih lanjut," tutur suster, sepertinya dari bagian laboratorium.
"Pi?" istrinya semakin bingung walau raut wajahnya tersenyum ada harapan bertanya pada pada suaminya beranjak bangun.
"Harus ada sample darah dan harus datengin pendonor ginjalnya, suster?" __ "Benar pak, untuk pengujian lebih lanjut," suaminya makin ingin tahu lebih detail, ia bertanya pada suster menjawabnya lebih ringkas.
"Saya sarankan agar bapak mendatangkan calon pendonor ginjal untuk ibu secepatnya. Mari pak, bu. Selamat malam," lagi jelas mengingatkan dan suster mengangguk beranjak keluar.
"Pi, ada yang donorin ginjalnya buat mami?" tanya istrinya ingin tahu.