LELAH SANG PENJAGA SURGA

Herman Siem
Chapter #19

IKHLAS DEMI PENJAGA SURGA

Sejak tadi bocah itu bertanya dalam hatinya, sedang di ajak kemana dengan bapak angkatnya. Namun rasanya sungkan untuk bertanya karena sedang terhibur dengan dua matanya sejak tadi melihat keluar jalan, pemandangan yang tak pernah dilihatnya, gedung bertingkat beratap langit gelap dengan sempurna sinar indung rembulan malam.

Jarang dan bahkan tidak pernah Anto duduk di mobil mewah, apalagi dua matanya memang tidak pernah di manjakan untuk melihat keindahan kota Jakarta. Sehari-hari ia sekolah membantu ibunya berdagang sayuran, kali ini ia memutuskan tidak bersekolah lagi hanya demi membantu ibunya berdagang sayuran keliling.

"Pak lihat bagus sekali ya, gedung-gedungnya. Kalau nanti aku besar, aku ingin sekali bekerja di gedung itu," tuturnya, raut wajahnya tersenyum yakin.

Sedangkan bapak angkanya hanya duduk diam diam di samping sekali mengangguk. "Pak kita mau kemana?" tanya Anto pada bapaknya, sontak saja dua mataya berkaca-kaca seraya tidak tega menjawab partanyaan anaknya.

"Loh kok bapak sedih?" sontak di peluknya erat bocah dalam pelukan bapak angkatnya.

Sopir hanya fokus kemudikan setir mobil menyusuri jalan masih terlihat sibuk dengan banyak kendaraan. Mobil mulai masuk kedalam areal rumah sakit besar.

Dua mata lelaki setengah baya semakin terenyuh bingung, jelas kali ini yang di lihatnya satu bangun rumah sakit besar. Hatinya semakin nelangsa, semakin di selimuti rasa bersalah.

Pelukannya masih erat tidak ingin melepaskan bocah dalam pelukannya, sampai dua matanya tidak tahan terpejam tidur karena sentuhan semilir dinginnya udara dalam mobil mewah.

***

Dua pasang kaki itu semakin ragu, semakin bingung untuk melangkah jalan saat pintu kaca besar otomatis terbuka dan tertutup sendiri saat sensornya menerima gerakan.

"Pak, emang bapak sakit?" lagi tanya bocah itu semakin bingung, ia berdiri di samping bapaknya seperti sedang menunggu seorang datang.

Langkah jalannya terlihat tegap, malam itu Lukito tidak mengenakan setelan jas mewah. Ia hanya mengenakan pakaian santai formal, langkahnya menghampiri Bagus dan anak angkatnya masih menunggu di luar.

"Malam pak," sapa Bagus pada Lukito mengangguk sembari perhatikan bocah yang berdiri di samping lelaki setengah baya yang sudah menerima sejumlah uang darinya.

Terasa berat dan berdosanya Bagus menyerahkan anak angkatnya pada seorang lelaki pengusaha, yang mana istrinya butuh donor ginjal.

Ternyata secarik kerta surat keterangan lahir itu adalah miliknya Anto, memang waktu itu Bagus sempat mendatangi keluarganya. Maksud kedatangannya hanya meminta izin untuk merawat Anto, dan keluarganya hanya bisa memberikan surat keterangan lahir saja.

Hanya itu bekal Bagus untuk membuat data-data kependudukan anak angkatnya agar mudah untuk di masukan kedalam kartu keluarga miliknya. Berat dan semkin tidak berdaya, saat dua suster menghampiri dan mengajak masuk Anto semakin bingung.

"Pak, kok aku yang di bawa suster?" tanya Anto semakin bingung.

Lihat selengkapnya