LELAH SANG PENJAGA SURGA

Herman Siem
Chapter #20

SEMUA BERMULA DARI SEORANG IBU

Di luar sana penikmat tidur sesaat masih terasa nikmat dalam tidurnya terbawa mimpi indah dan terbesit takut dengan waktu, tak kalah dua matanya terjaga bangun bakalan melihat lagi dunia yang penuh kenyataan tak pasti ini.

Sedangkan langit tidak terlalu memancarkan rasa anugerah kebahagiannya, karena sinar indung rembulan malam bulatnya terasa tak sempurna.

Hening terasa sunyi hanya terdengar suara ujung tongkat yang terbuat dari potongan kayu bekas sisa meja lapak dagangannya sudah berubah di sulap oleh anak angkatnya menjadi gerobak sayuran.

Walau ia bukanlah seorang ibu tidak memiliki ikatan darah, dan ia bukanlah ibu yang melahirkan bocah yang kini sudah di anggapnya menjadi anaknya sendiri.

Hatinya berbisik cemas dan deguban jantungnya seraya menabuh genderang kekhawatiran. Tangan kiri hanya meraba-raba angin seraya memintanya menunjukan jalan, dan bibirnya ingin berkata memanggil nama bocah itu serta dua kupingnya sama sekali tidak mendengar bisikan manja.

Pelan tangan kirinya meraba permukaan ranjang dan ia terduduk, dua matanya hanya melihat kegelapan di selimuti hatinya bertanya kemana bocah itu. Lalu tongkat petunjuk jalannya di lepaskan, ia terbaring tidur miring menyamping. Dua tangannya menjadi alas kepalanya, dua matanya berbinar berkaca-kaca.

Hatinya semakin berbisik bertanya, kemana anak yang selalu menemaninya. Biasanya dua tangannya bocah itu selalu mengajari dan selalu memapah untuk jalan. Namun malam itu seraya sepi terasa kehilangan, dua matanya tak lagi berbinar dan kini tetesan air mata kekhawatiran mulai jatuh meleset menepi.

"Semua gara-gara bapak! Pak! Bapak!!!" suara terdengar dari luar kamar.

Kirana sudah pulang, hatinya tersulut marah. Kejadin tadi siang, bapaknya kenapa harus menemuinya sehingga teman satu kampusnya sudah tahu siapa sebenarnya.

"Udah gua bilang, bapak jangan nemuin gua. Ini Bapak nemuin gua! Pak! Bapak!!!" suaranya terdengar menggerutu tidak terima dan kembali teriak kencang memanggil.

Percuma saja Kirana berteriak sekencang-kencangnya, ibunya tidak akan mendengar apalagi menghampirinya. Sanika masih terbaring di ranjang, masih khawatir dan masih bersedih cemas.

Lalu ia berbalik menoleh, lagi-lagi hanya kegelapan yang dilihatnya walau jemari kanannya meraba-raba hanya terasa dingin tidak ada kehangatan tubuh bocah yang sedang di cemaskannya.

"Bu! Bapak mana?! Bu!!!" di panggilnya sekali pelan dan dua kalinya panggilannya terdengar kencang.

Kirana masih menahan sabar, ibunya masih terbaring saja di ranjang. Insting seorang ibu langsung tertegun sejenak dan beranjak bangun, ia seperti tahu bau khas anak gadisnya sudah pulang. Tangan kanannya meraba seraya memanggil tongkatnya di mana.

Lihat selengkapnya