LELAH SANG PENJAGA SURGA

Herman Siem
Chapter #21

RASA SALAH SEMAKIN MENGULITI

Malam masih kerasan belum ingin beranjak pergi, masih terlalu nyaman bermain dengan semilir angin. Dingin malam masih terlalu setia untuk menemani setiap penikmat tidur sesaat, walau terusir dengan selimut tebal. Gesekan dedaunan terdengar di sertai dengan papan ayunan mulai bergerak bermain dengan angin.

Mungkin saja penikmat tidur sesaat mulai terganggu dengan dengan suara itu, angin tidak lagi terdengar lembut mendorong papan ayunan dan makin terdengar kencang suara klaher yang sudah aus. "Bletarr!" suaranya terdengar kencang, suara petir menyambar memecah keheningan malam.

Gesekan dedaunan semakin menari bebas dengan tabuan rintik hujan turun deras mengetuk setiap atap rumah membuat terjaga setiap penikmat tidur sesaat. Pelataran halaman rumah sudah basah, begitu juga gerobak sayuran terasa bebas sudah bersimbah dengan gerusan rintik hujan.

Rintik hujan semakin deras, di sertai suara kilatan petir terasa bebas menyambar. Hatinya terasa keras, dua mata sama sekali tidak ikut meneteskan air mata. Dua kakinya terasa bebas bermain dengan genangan air, sekujur tubuhnya sudah basah kuyup.

Kirana sejak tadi berdiri di depan rumah, tubuhnya di biarkan basah oleh gerusan hujan dan wajahnya sudah bermandikan basah air mata kekecewaan dan rintik hujan. Ia speerti tidak takut dengan ancaman kilat menyambar tubuhnya, atau hatinya kali ini sudah terketuk kesalahan semakin mengulitinya.

Lalu ia terduduk, rambutnya semakin lepek basah dan ia mendongak menatap langit di balas dengan rintik hujan menuduh wajahnya semakin bersedih. Hatinya semakin terkulik kesedihan mengular kesalahan sesal yang telah ia perbuat pada dua pendamping Tuhan.

Terlebih ibunya merasa sudah tersakiti olehnya, sejak ia lahir dan sampai detik ini tumbuh menjadi gadis yang cantik. Sama sekali Kirana tidak pernah memeluk ibunya, hanya ada kemarahan dan rasa malu selalu terlampiaskan untuk ibunya.

Lalu dua kakinya menekuk dan dua tangannya mendarat pada dua tumit kakinya. Lagi wajahnya mendongak kelangit, seraya hatinya mulai mengetuk rasa penyesalan. "Bletarr!!!" di jawabnya dengan kilat menyambar.

Tapi gadis itu seraya tidak takut, ia semakin merasa berdosa telah menyakiti sang penjaga surga yang sudah sangat lelah dengan perlakukanya. Wajah basahnya kemudian mendarat pada dua lipatan tangannya, rintik hujan kini merasa ikut bersedih masih menghujani anak gadis itu mulai luruh hatinya merasa bersalah.

***

Bagus sudah membawa istrinya kerumah sakit, dua kakinya semakin panik dan cemas mengajaknya bolak-balik depan pintu ruangan operasi. Ia hanya sendiri, tanpa di temani dua anak-anaknya. Guratan wajahnya ingin menangis namun selalu di tahannya.

Tidak mendapatkan jawaban, padahal sejak tadi hatinya ingin bertanya tentang istrinya. Terduduk di kursi, tetap pandangan hanya menatap menanti pintu ruangan operasi masih membisu. Ia menoleh kiri-kanan lorong koridor jalan hanya terlihat sunyi sepi, tak sepasang kakipun terdengar langkah berjalan.

Lalu ia menunduk, seraya hatinya bergumam pada pemilik semesta ini, agar anak angkatnya dan istrinya tetap selamat dan selalu sehat. Dua matanya tertegun jelas melihat sepasang kaki beralas sandal selop mahal, lalu Bagus mendongak sudah berdiri cowok tampan yang membuat anaknya tergila-gila padanya.

"Pak?" sempat bingung Arya menyodorkan secangkir kopi hangat untuk Bagus tertegun diam.

Lihat selengkapnya