Rasa bersalah semakin membelenggunya, ingin mengusir dosa sejak lama tertanam juga percuma. Hingga rasa bersalah dan dosa besar kian nyata mengancamnya. Satu katapun tak bisa terucap dari bibirnya walau sejak tadi ingin mengucapkan sejuta kata maaf. Dua matanya mungkin saja sudah kering, ingin menangis juga percuma karena sudah tertutup pintu dosa.
Rasa dingin ruangan rawat inap terasa terusir oleh tubuhnya yang sudah berselimut panas api dosa neraka. Kata maaf dan pelukan hangat tentu akan percuma, semu itu tak'kan mampu untuk membayar perbuatannya. Dua kakinya seraya sudah terikat rantai dosa yang sering di pakai malaikat penyiksa untuk mencambuk manusia berdosa.
Belaian telapak tangan hangatnya tak'kan mampu untuk menghangatkan rasa dingin yang di rasakan sekujur tubuh bocah yang masih terbaring belum siuman. Bocah itu begitu polosnya telah mengusir rasa sakit dan kesedihannya, hanya untuk seorang ibu yang tidak melahirkannya.
Niatnya begitu mulia, begitu nyata rasa ketulusanya bila pintu surga akan selalu terbuka untuknya. Karena kebaikan dan ketulusannya pada seorang ibu, pasti surga akan selalu menghampirinya. Ia begitu peduli ingin sekali membuka dua mata, ingin membuka dua telinga yang selama ingin selalu tertutup tanpa mendengar, dan ingin sekali bibirnya seorang ibu dapat berkata.
Ia juga tak merasa tersakiti dan tak merasa di jebak oleh bapak angkatnya, semua itu datang dari hati kecilnya ingin menolong ibu angkatnya. Walau ia harus kehilangan satu ginjalnya, semua itu tak mengapa asal sang penjaga surga tak merasakan lelah lagi.
"Anto?" suaranya pelan terdengar ingin membangunkan anak angkatnya masih tidak sadarkan diri.
Mungkin obat bius masih membawanya tidur panjang, tidur dalam mimpi kebahagiannya di mana bocah itu sedang bertemu dengan ayah dan ibu kandungnya di surga. Lagi belaian hangat telapak kiri lelaki setengah baya mendarat di kening bocah yang masih belum siuman.
Hancur campur aduk merasa bersalah hatinya, seorang bapak angkat yang begitunya saja membawa anak angkatnya kerumah sakit dengan dalihnya ingin di ajak jalan-jalan. Nyatanta, ginjalnya di donorkan untuk wanita kaya raya. Jemari bocah itu mulai bergerak pelan seraya mimpi indahnya bertemu dengan ayah dan ibu kandungnya berangsur telah usai.
"Anto, bangun nak," suaranya Bagus pelan membisiki kuping kirinya Anto.
Kabur penglihatan dua matanya, perlahan mulai jelas sosok siapa yang di lihatnya, dua matanya tidak terpejam. Wajahnya menua penuh kerutan tersenyum sendu, dua matanya berkaca-kaca sedih, itu yang di lihat dua mata bocah yang baru siuman.