LELAH SANG PENJAGA SURGA

Herman Siem
Chapter #23

BAHAGIA DI ATAS PENDERITAAN

Benaknya selalu terkulik rasa rindu, rasa kangen ingin sekali memeluk seorang ibu. Anto masih terbaring di bangsal rawat inap, rasa lapar dan hausnya semakin terusir dengan rasa rindunya semakin membuatnya sedih ingin bertemu dengan ibunya. Padahal sejak tadi bapak angkatnya sudah membujuknya, tetap saja ia tidak mau makan dan minum.

Padahal ia hanya punya satu ginjal saat ini, yang sangat berisiko mengalami penurunan fungsi, jika tidak makan dan minum teratur. Wajahnya saja masih pucat kertas, selang infusan masih membelenggu di lengan kirinya. Tapi hatinya selalu masih bertanya di mana dengan ibu angkatnya.

Banyak makanan begitu saja tergeletak di nakas terasa sia-sia dan mubazir tidak termakan. Makanan itu pemberian lelaki pebisbis hatinya yang tidak tegaan, meminta anaknya untuk membelikannya.

"Kalau tidak mau makan. Minum saja, ya?" bujuk bapak angkatnya menyodorkan segelas air putih.

Anto hanya menggelengkan kepalanya, pandangannya kembali lagi menoleh kearah jendela tertutup tirai dan pintu menanti suara langkah dua kaki dan tongkat milik ibu angkatnya. Hatinya kembali bertanya cemas bagaimana dengan ibunya.

"Atau makan biskuit ini?" sampai Bagus, bapak angkatnya berusaha kembali membujuk dengan menunjukan aneka makanan biskuit hanya di jawab dengan gelengan kepala saja.

"Pak, ibu mana?" tanya Anto tergurat cemas raut wajahnya.

Biskuit kemasan di letakan pada nakas, sejenak ia menghela napas. Suaminya juga tidak tahu bagaimana kabar istrinya, sejak ia membawanya kerumah sakit akibat kepala bagian belakang mengeluarkan darah. Sampai hari ini, ia juga belum bertemu dengan istrinya. Ia juga sama risau dan khawatir memikirkan istrinya.

"Kamu kangen sama ibu?" balik tanya bapak angkatnya.

Malahan dua matanya berkaca-kaca dan terlihat kilauan air mata mulai bermain di liang bawah dua mata bocah itu. Anto sejenak tidak menjawab, bibirnya sudah basah kini dengan air mata.

"Aku kangen sama ibu, pak." di jawabnya sedih.

Sementara di depan pintu, walau samar suaranya namun terdengar jelas. Mau masuk kedalam ruangan rawat inap, terasa dua kakinya berat sekali seraya terikat rasa kesalahannya.

"Bapak juga kangen sama ibu," sahut bapak angkatnya, suaranya kembali terdengar dari ruangan rawat inap.

Dua matanya ikut berkaca-kaca, hatinya juga terkulik rasa rindu dan kangen pada bapak, ibu dan adik angkatnya. Padahal dua mata kakinya sudah tidak kuasa menahan tangisan, tapi dua mata Kirana hanya berkaca-kaca.

"Aku juga kangen bapak sama ibu, dan loe, To," gumamnya dalam hati mengajak berbisik sedih.

"Harusnya gua yang berkorban buat ibu, tapi kenapa loe, To?" ucapnya sedih, nadanya pelan takut terdengar.

Lihat selengkapnya