LELAH SANG PENJAGA SURGA

Herman Siem
Chapter #24

KANGEN IBU

Sampai hari ini bagaimana kondisi dan keberadaan ibunya masih membuat hatinya selalu bertanya, Anto selalu bersedih memikirkannya. Walau kini tak adalagi terdengar suara kemarahan dan cacian kakak tirinya tetap saja membuatnya sedih dan selalu termenung memikirkan di mana keberadaan ibunya.

Perlakukan manja selalu di dapatinya, perhatian lebih dari kakaknya tetap saja sungguh membuatnya tak'kan melupakan ibu angkatnya yang masih saja belum mendapatkan kabarnya. Kini kakaknya begitu sangat peduli, sangat memanjakan adiknya seraya sudah seperti adik kandungnya.

Walau ia tersenyum, pasti selalu menyisipkan luka kesedihan membuat kakak dan bapaknya semakin ikut bersedih. Walau tertawa, pasti mengucapkan kata sedih dan selalu bertanya di mana ibunya. Sungguh besar kasih sayang bocah itu pada ibu angkatnya, sampai saat ini tidak tahu di mana rimbanya.

Air mata saja terkadang sudah menyatu dengan air dingin ketika bocah itu di mandikan oleh bapak angkatnya sering aku terenyuh sedih. "Pak, aku kangen sama ibu. Kenapa ibu nggak pulang-pulang?" padahal wajah dan sekujur tubuhnya sudah basah dengan air saat bapaknya memandikannya.

Pandangan bapaknya terenyuh sedih, dua matanya berkaca-kaca menatap bagian pinggang sebelah kanan masih ada bekas sayatan luka yang masih di balut perban warna putih. "Ibu pasti pulang." selalu itu dan selalu itu yang terjawab dari bibir bapaknya seraya bocah itu tidak bisa lagi di bohongin.

Sedangkan Kirana jelas mendengar apa yang selalu di tanyakan adiknya dan di jawab bapaknya saat ia sedang menyiapkan pakaian untuk di pakai adiknya. Kirana terduduk sedih, pandangannya juga hampir setiap hari menoleh menatap harap bila pelataran halaman rumah terdengar suara derap langkah dua ibunya.

Kini Kirana sungguh jauh berbeda dan sudah berubah, kali ini sikapnya sungguh sangat terpuji dan beradab pada adik dan terutama pada bapaknya. Ia seakan tahu dan merahasiakan keberadaan ibunya berada di mana pada adiknya. Ibunya sesungguhnya memang sedang menjalankan terapi dan pengobatan yang semuanya di biayai oleh keluarganya Arya.

"Aku mau ketemu ibu! Aku kangen sama ibu!" suaranya terdengar dari dalam kamar mandi.

Makin sedih dan makin bingung harus berbuat apa, andai saja ginjalnya sendiri yang di donorkan untuk ibunya. Tentu saja Kirana tak'kan terlalu cemas dengan kondisi Anto. Pesan dokter, jika Anto tidak boleh banyak beban pikiran yang takutnya mengurangi kondisinya yang hanya punya satu ginjal.

"Kak, aku mau ketemu ibu. Aku kangen sama ibu," tangisannya membuat terdengar lirih dan pilu. Anto memeluk kakaknya yang kali ini sungguh sangat sayang padanya.

Kirana sudah duduk jongkok, dua tumitnya menopang tubuhnya saat memeluk Anto semakin sedih. Dua tangannya mengelus wajah adiknya semakin sedih, semakin rasa kangen dan rindu tidak membuatnya mengerti.

"Ibu sebentar lagi pasti pulang," jawab Kirana seraya berbohong pada adiknya.

Lihat selengkapnya