LELAH SANG PENJAGA SURGA

Herman Siem
Chapter #25

BERUJUNG LUKA

Rasa dingin semakin membuat tubuhnya gemetar, rasa sakit tidak lagi bisa di sembunyikan dari raut wajahnya yang basah. Dua kakinya berhenti tidak lagi mengajak untuk berjalan, wajahnya menunduk kesamping kanan saat telapak tangannya menyentuh bagian pinggang bawah.

Terbawa darah seger di telapak tangannya, dua matanya semakin tidak kuat menahan rasa sakit. "Bletarr!" terkejut terpejam dua matanya saat suara kilat menyambar. Lalu di paksanya lagi dua kakinya mengajak berjalan, walau berat dan gemetaran. Rintik hujan semakin deras mengerus tubuhnya.

"Aku harus bertemu ibu," gumamnya yakin, itu yang membuat Anto semakin yakin ingi mencari ibunya walau ia tidak tahu di mana ibunya berada.

Dari kejauhan di belakang, Kirana dan bapaknya masih bergegas mengajak dua kakinya mencari. Keduanya semakin tidak peduli walau rintik hujan semakin deras. Air semakin menggenang deras di jalan, terasa berat dua kakinya melawan arus. "Anto ...!!!" suaranya terdengar memecah rintik hujan dan di dengar bocah itu sejenak terdiam.

Ia tersenyum menoleh kebelakang hanya sepi dan sunyi, tidak lagi terdengar suara teriakan memanggil. Lalu dua kakinya kembali mengajak berjalan seraya kepergian mencari ibunya tak bisa di halangi oleh kakak dan bapaknya.

Sempat langkahnya terhenti saat melihat derasnya genangan air di depannya. Pikirian Anto ingin menyebarangi genangan deras air. Ia berusaha berjalan melawan derasnya air, sontak saja kakinya menginjak batu dari balik genangan air. Ia terjatuh, kepalanya terbentur median jalan dan berputar-putar terbawa derasnya air.

"Kak! Bapak! Tolong! Akh!!!" sempat ia berteriak minta tolong, mungkin kali ini bocah itu baru menyadari, bila tidak mudah mencari seorang dirinya di mana keberadaan ibunya berada.

"Pak! Kakak!" suaranya terdengar lagi, dan seketika bagian bawah pinggang kanannya tertusuk kayu. Darah bebas mengucur keluar, dan riak permukaan genangan air sudah bercampur warna merah.

"Anto!!!" untung saja kakaknya melihat ada jemari tangan muncul di permukaan genangan air seraya berteriak minta tolong.

"Kirana, cepat bantu bapak. Cari kayu!" __ "Iya pak," bapaknya panik segera berlari, dua kakinya berlari mengejar arus deras air. Sedangkan Kirana sejenak melihat kiri-kanan mencari sesuatu, lalu di ambilnya kayu yang tidak terlalu panjang.

"Pak!" teriak Kirana sembari mengulurkan kayu pada tangan bapaknya sekali bisa di raihnya.

"Anto! Anto ...! Pegang, pegang ujung kayu itu! Pegang!" teriak bapaknya sembari mengejar mengikuti derasnya arus genangan air.

Anto berkali-kali berputar dan tergulung derasnya genangan air yang semakin banjir. "Bapak?" dua matanya sudah kabur, tapi masih melihat bapaknya mengulurkan kayu dan tangannya juga terasa berat ingin meraih ujung kayu itu.

Lihat selengkapnya