Pintu terdorong kedalam, tidak tahu siapa malam itu yang ingin membesuk melihat bocah itu masih tidak sadarkan dirinya. Jemari tangan kakaknya masih memeluk seraya tidak ingin terlepas dari jemari kecil adiknya. Kirana dan Bagus menoleh, terdengar suara derap dua kakinya berjalan tanpa di bantu tongkat.
Walau pandangan penglihatannya masih kabur, namun dua matanya jelas melihat jika anak yang bukan terlahir dari rahimnya masih terbaring di bangsal belum sadarkan diri.
"Bu?" panggilnya penuh lirih dan cepat beranjak bangun memeluk ibunya, dua matanya masih kabur menatap wajah anak gadisnya. Sanika terdiam, walau dua matanya mulai di permainkan dengan kesedihan. Husapan hangat telapak tangannya seraya menyeka air mata kesedihan di wajah anaknya.
"Ibu bisa melihat kamu, Kirana." jawabnya lirih menoleh suaminya berdiri di samping brankar, suaminya hanya menatap dalam kesedihan.
"Bu, Anto?" ujar suaminya seraya meminta istrinya cepat membangunkan anak angkatnya.
Sedangkan Kirana hanya berdiri di ujung bangsal, pandangannya semakin sedih dan hatinya semakin terharu melihat ibunya bisa berjalan dengan tidak lagi dua tangannya meraba-raba mencari jalan.
Sanika menoleh sejenak menatap wajah suaminya yang baru di lihatnya, wajah suaminya semakin menua penuh dengan kerutan kenyataan kehidupan pahit. Rambutnya basah dan terlihat tidak terurus gondrong, begitu juga kumisnya semakin tebal belum di cukur.
Dua matanya semakin sulit untuk membendung air mata, baru kali ini Sanika melihat wajah anak angkatnya yang sungguh tulus menyayanginya. Husapan telapak tangannya sekali mengusap wajah anaknya seraya hanya ingin membangunkan dari tidurnya.
Karena bocah ini membuatnya tengah membawa perubahan besar pada hidupnya. Ia tidak hanya bisa melihat lagi, tapi bibirnya yang selama ini sering di katai gagu oleh anaknya, bibirnya sudah bisa berucap, dan kuping sudah bisa mendengar lagi.
"Bangun nak, ibu di sini." ucap pelan suaranya seperti masih di larang oleh dokter untuk tidak bicara kencang.
Lalu Sanika membungkuk, dan memeluk anaknya seraya kembali ingin membangunkan. "Anto, bangun. Ini ibu," bisikannya terasa pelan suaranya dekat dengan kuping anaknya.