Lelaki Berpayung Merah

Penulis N
Chapter #1

1

Verlionne, kota kecil yang tampaknya ditenun dari benang hujan dan kenangan tua, tidak pernah benar-benar kering. Langitnya selalu kelabu, seolah menyimpan sesuatu yang enggan diucapkan. Di kota ini, waktu berjalan lambat—dan rahasia punya cukup ruang untuk berakar.

Di sebuah taman tua, di bangku kayu yang warnanya telah pudar oleh waktu dan cuaca, seorang lelaki duduk sendiri. Rambutnya seputih embun, tubuhnya diselimuti mantel gelap yang basah oleh gerimis, dan di tangannya selalu ada satu benda yang sama: sebuah payung merah yang tak pernah berubah bentuk atau pudar warnanya, meski tahun demi tahun berlalu.

Orang-orang kota sudah terbiasa melihatnya. Mereka menyapanya dengan senyum setengah heran, lalu melupakan bahwa mereka pernah bertanya siapa dia. Tidak ada yang tahu di mana dia tinggal, atau ke mana ia pergi saat hujan reda. Bahkan beberapa orang bersumpah, mereka pernah melihat lelaki itu duduk di bangku yang sama... puluhan tahun lalu.

Namun bagi Elira Mavelle, lelaki berpayung merah itu bukan sekadar bayangan yang lalu-lalang di balik tirai gerimis. Ia adalah teka-teki pertama yang membuatnya berhenti berlari. Satu-satunya hal yang tetap diam, saat dunia terus bergerak tanpa henti.

Dan saat lelaki itu menoleh padanya, dengan tatapan seolah mengenal sesuatu yang tak pernah ia ucapkan, Elira tahu—hidupnya tidak akan sama lagi setelah hari itu.

Karena beberapa hujan tidak sekadar jatuh dari langit.

Beberapa hujan... adalah jalan pulang bagi yang terlupakan.

Elira Mavelle tidak pernah suka hujan, sampai hari ibunya dimakamkan dalam cuaca seperti ini.

Langit kelabu memayungi kota Verlionne seperti selimut kusam yang terlalu lama dijemur. Rintik hujan turun pelan—tidak deras, namun cukup untuk membasahi ujung sepatu dan menempel di bulu mata. Elira berdiri di depan jendela apartemennya yang mungil, memandangi tetesan air yang berlomba di kaca. Tangannya masih menggenggam mug teh yang sudah dingin sejak satu jam lalu.

Sudah tiga minggu sejak ia tiba di kota ini, meninggalkan apartemen sempitnya di tengah ibukota, pekerjaannya sebagai ilustrator paruh waktu, dan kenangan yang terus menggerogoti pikirannya setiap malam. Verlionne bukan kota tempat orang melarikan diri. Terlalu sepi, terlalu lambat. Tapi mungkin itu yang ia butuhkan: ketenangan tanpa suara.

Hari itu, seperti hari-hari sebelumnya, Elira mengenakan jaket parasut abu-abu dan sepatu kets usang, lalu melangkah keluar tanpa payung. Ia tidak pernah suka membawa payung. Membuatnya merasa terlalu siap untuk sesuatu yang tak pernah ia inginkan.

Tujuannya hanya satu: taman kecil di dekat halte bus tua. Tidak ada yang istimewa dari taman itu—bangkunya reyot, ayunannya berderit kalau disentuh angin. Tapi ada sesuatu yang membuat Elira kembali ke sana setiap sore.

Lelaki itu.

Ia selalu duduk di bangku yang sama, dengan payung merah terbuka di sisinya. Tidak berteduh di bawahnya, hanya membiarkan payung itu berdiri, menancap ke tanah basah. Lelaki itu mengenakan mantel panjang dan topi bundar lusuh yang menyembunyikan sebagian besar wajahnya. Ia tidak bergerak. Tidak membaca buku. Tidak memainkan ponsel. Hanya... duduk.

Hari ini tidak berbeda.

Elira duduk di bangku seberang, memeluk sketchbook-nya, mencoba merekam sosok lelaki itu dari kejauhan. Tangannya bergerak pelan, membentuk garis-garis samar. Ia tidak tahu mengapa ia terus menggambarnya. Mungkin karena lelaki itu tidak pernah berubah. Atau karena ia diam, saat dunia terlalu ramai.

"Kenapa kamu terus menggambar aku?" Suara itu datang pelan, tapi cukup jelas menembus gemuruh hujan.

Elira mendongak. Lelaki itu menatapnya.

Ia merasa jantungnya berhenti sesaat.

"Ma—maaf?" Elira berusaha terdengar netral, tapi gemetar di suaranya terlalu nyata.

Lelaki itu tak tersenyum. Wajahnya tenang, suaranya rendah, seperti berasal dari jauh.

"Sudah tiga hari. Kamu datang setiap sore dan menggambarku. Kenapa?"

Elira menelan ludah. Ia ingin tertawa, berkata bahwa itu hanya hobi iseng. Tapi kata-kata itu tak keluar.

"Aku tidak tahu," ujarnya jujur. "Mungkin karena kamu... tidak bergerak. Seperti bagian dari taman."

Lelaki itu menatapnya lama. Kemudian, dengan gerakan yang hampir tak terlihat, ia mengangguk sekali.

"Nama kamu Elira, bukan?"

Sekarang jantung Elira benar-benar berhenti.

"Bagaimana kamu tahu?"

Ia tidak menjawab. Hanya berdiri pelan, mengambil payung merahnya, dan mulai berjalan menyusuri jalur batu yang basah. Namun sebelum lenyap di balik gerimis, ia menoleh sekali lagi.

"Besok, jam yang sama. Aku akan ceritakan kenapa aku duduk di sini."

Elira tidak bisa berkata apa-apa. Hanya menatap punggungnya yang menghilang pelan-pelan, seperti lukisan air yang mulai luntur.

Dan untuk pertama kalinya dalam tiga minggu, Elira sadar—ia ingin besok datang lebih cepat dari biasanya.

Keesokan harinya, Elira datang lebih awal.

Lihat selengkapnya