Keesokan harinya, Elira bangun dengan perasaan yang masih terombang-ambing. Semalaman ia memikirkan kata-kata wanita tua itu, mencoba untuk menggali makna di balik ucapan yang penuh teka-teki. Lelaki berpayung merah, wanita tua, dan payung itu sendiri—semua ini terasa seperti bagian dari sebuah teka-teki besar yang tak kunjung menemukan jawabannya.
Taman yang dulu terasa seperti tempat perlindungan kini terasa asing. Setiap kali Elira melangkah di atas jalan setapak yang sudah begitu sering ia lalui, langkahnya terasa lebih berat. Ia merasa seperti ada sesuatu yang terus menunggui, menunggu untuk ditemukan, namun tidak pernah memberikan petunjuk yang jelas.
Elira memutuskan untuk kembali ke taman itu, berharap ada sesuatu yang bisa ia temukan, sesuatu yang bisa menjelaskan perasaan yang menyelubungi hatinya. Ia tahu bahwa ia harus mencari lebih banyak jawaban, meskipun itu mungkin mengarah pada jalan yang lebih gelap.
Saat tiba di taman, hujan kembali turun, kali ini dengan derasnya. Elira segera berlindung di bawah pohon besar yang ada di tengah taman, memegang payung merah yang kini sudah mulai menjadi teman setia dalam perjalanan pencariannya. Ia duduk di bangku yang sepi, merasa seperti ada yang mengawasinya dari jauh.
Namun, kali ini ia tidak sendirian. Di ujung taman, di bawah pohon yang berbeda, berdiri seorang pria. Lelaki itu mengenakan mantel gelap yang hampir menyatu dengan bayangan malam, dan payung yang dibawanya tampak lebih besar dari yang biasa. Saat Elira melihatnya, pria itu menoleh, dan mereka saling bertatapan.
"Lelaki berpayung merah?" tanya Elira dengan suara hampir berbisik.
Pria itu tersenyum samar, namun tidak menjawab. Ia hanya melangkah maju, mendekat ke arah Elira. Payungnya dibuka lebih lebar, menutupi keduanya dari hujan yang semakin lebat.
"Kenapa kamu terus mencari?" tanya pria itu, suaranya dalam dan sedikit menggema. "Apa yang kamu harapkan dengan menemukan jawabannya?"
Elira menggigit bibir, merasakan ketegangan yang makin membesar. "Aku tidak tahu... Tapi ada sesuatu yang mengganggu diriku. Sejak pertama kali bertemu denganmu, aku merasa seperti terhubung dengan sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar kenangan atau kehilangan."
Pria itu terdiam sejenak, seolah mempertimbangkan kata-kata Elira. "Kadang, pencarian tidak akan pernah berhenti. Bahkan setelah kamu menemukan jawabannya, akan ada lebih banyak pertanyaan yang muncul," katanya pelan. "Apa yang kamu cari bukanlah hal yang bisa diungkapkan begitu saja. Ini lebih tentang pemahaman yang perlu kamu temukan dalam dirimu sendiri."
Elira mengerutkan dahi. "Apakah itu berarti... kamu tahu sesuatu yang lebih besar dari yang bisa aku bayangkan?"
"Bukan hanya aku yang tahu," jawab pria itu dengan nada misterius. "Semua orang yang pernah datang ke sini, ke tempat ini, akan merasakan hal yang sama. Tetapi hanya sedikit yang berani mencari lebih dalam."
Pernyataan itu meninggalkan Elira dalam kebingungannya. Dia mulai merasa bahwa perjalanannya untuk memahami siapa lelaki berpayung merah itu dan mengapa ia terus hadir dalam hidupnya mungkin tidak semudah yang ia kira.
"Maksudmu, aku bukan orang pertama yang datang kemari?" tanya Elira, berusaha memahami lebih jauh.
Pria itu mengangguk perlahan. "Tidak. Taman ini memiliki sejarah panjang. Banyak orang yang datang dengan alasan yang berbeda, tapi mereka semua akan merasa seperti kamu—terhubung dengan sesuatu yang tidak terlihat. Ada mereka yang mencari jawaban, ada yang hanya ingin melarikan diri. Tapi akhirnya, semuanya akan kembali pada satu hal: bagaimana kita menghadapinya."
Kata-kata pria itu meninggalkan kesan mendalam di hati Elira. Ia merasa seperti baru saja membuka lembaran pertama dari sebuah buku yang sangat tebal, yang penuh dengan misteri dan petualangan yang belum terungkap.
"Apakah kamu tahu siapa wanita tua itu?" tanya Elira, berusaha menghubungkan kejadian yang terjadi beberapa hari lalu.
Lelaki itu hanya tersenyum, namun matanya menunjukkan sesuatu yang lebih dalam. "Wanita itu adalah bagian dari cerita yang lebih tua. Seperti aku, seperti taman ini. Semua orang di sini memiliki peran masing-masing dalam sebuah cerita yang tidak bisa diselesaikan dengan cepat."
Elira merasa bingung, tetapi dalam kebingungannya, ada semacam dorongan kuat untuk terus mendengarkan. Ia merasa ada sesuatu yang sangat penting yang perlu ia temukan, sesuatu yang lebih dari sekadar jawaban atas pertanyaan yang terus menghantuinya.
"Jadi apa yang harus aku lakukan?" tanya Elira akhirnya, dengan penuh tekad. "Bagaimana aku bisa menemukan jawabannya?"
Pria itu menatapnya dalam-dalam, dan untuk pertama kalinya, Elira merasakan ada semacam kehangatan dalam tatapan itu. "Tidak ada jawaban yang mudah, Elira. Tetapi kamu akan menemukan jalannya, seperti aku menemukan jalanku dulu."
Dengan kata-kata itu, pria itu berjalan mundur, meninggalkan Elira di bawah hujan yang semakin deras. Payung merah itu tetap berada di tangan Elira, dan seolah-olah, ada kekuatan yang mendorongnya untuk terus melangkah. Walau bingung dan cemas, ia merasa bahwa perjalanan ini baru saja dimulai.
Elira merasa seperti dilanda gelombang perasaan yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Meskipun tubuhnya terasa kedinginan karena hujan yang masih mengguyur, ada api yang membara dalam dirinya, mendorongnya untuk terus mencari. Pria berpayung merah—atau siapa pun dia—telah memberikan petunjuk yang lebih membingungkan daripada jawaban yang jelas. Namun, meski bingung, Elira tahu satu hal: ia tidak bisa berhenti.
Keesokan harinya, Elira memutuskan untuk kembali ke taman, dengan harapan ia bisa menemukan lebih banyak petunjuk. Meskipun hujan turun deras, seperti biasa, taman itu selalu memiliki kedamaian tersendiri. Tapi kali ini, sesuatu terasa berbeda.
Saat Elira sampai di sana, ia menemukan sebuah benda yang tidak biasa. Di tengah jalan setapak, tersembunyi di balik semak-semak, ada sebuah buku tua yang hampir tertutup oleh dedaunan. Tanpa berpikir panjang, ia membungkuk dan mengambilnya. Buku itu terbuat dari kulit berwarna cokelat tua, dengan sampul yang sudah pudar dan hampir robek. Tidak ada tulisan atau gambar pada sampulnya, hanya sebuah pola sederhana yang mengingatkan pada desain kuno.
Elira merasa jantungnya berdetak lebih cepat. Ia membuka halaman pertama dan menemukan tulisan tangan yang sangat rapi, namun agak pudar karena usia buku.
"Hanya mereka yang siap untuk mencari akan menemukan jalan, dan hanya mereka yang berani berjalan dalam kegelapan yang akan melihat cahaya."