Langkah Elira bergema saat ia memasuki rumah tua itu. Aroma lembap dan debu menyeruak begitu pintu terbuka, seakan ruangan itu telah dikunci rapat dari waktu. Dinding-dindingnya penuh dengan retakan, seolah menyimpan usia puluhan tahun dalam diam. Namun, yang paling membuat bulu kuduknya berdiri adalah suasana rumah itu—bukan karena seram, melainkan... sunyi. Terlalu sunyi, hingga seolah rumah ini tidak pernah mengenal kehidupan.
Ia berjalan perlahan ke dalam, kakinya menyentuh lantai kayu yang berderit pelan. Di sisi kanan, ada ruang tamu kecil dengan kursi usang dan meja yang tertutup taplak renda lusuh. Di dinding tergantung sebuah lukisan besar yang warnanya telah memudar, menampilkan seorang anak perempuan yang berdiri di tengah taman, mengenakan gaun putih dan memegang payung merah.
Elira tertegun. Gambar itu...
Dia pernah melihat anak itu. Dalam mimpinya.
Langkahnya terhenti, jantungnya berdetak lebih cepat. "Apa ini rumahku?" bisiknya, walau ia tahu itu terdengar konyol. Ia tak pernah datang ke tempat ini sebelumnya—atau begitu yang ia pikirkan.
Ia menyusuri ruangan demi ruangan. Semuanya terasa asing, tetapi ada rasa aneh di dadanya, seolah rumah ini mengingat dirinya... meski dia tidak mengingat rumah ini.
Sampai akhirnya ia menemukan sebuah pintu kecil di bawah tangga.
Seperti... pintu ke ruang bawah tanah.
Kuncinya masih ada di dalam genggamannya. Ia mencoba kunci itu, dan tanpa perlawanan, pintu terbuka perlahan, mengungkapkan tangga sempit yang menurun ke bawah. Udara yang naik dari bawah tanah terasa dingin dan lembap, membawa serta aroma logam dan sesuatu yang... basi. Tapi bukan itu yang membuat Elira mematung.
Di bawah sana, terdengar suara musik. Musik kotak musik.
Nada lembut, tetapi melankolis. Lagu yang... sangat ia kenal, namun tak bisa ia ingat di mana ia mendengarnya.
Tangannya gemetar ketika ia mulai menuruni tangga, satu per satu, mengikuti suara itu. Cahaya lampu temaram dari lorong atas perlahan memudar, digantikan kegelapan yang pekat, namun suara musik itu memandunya seperti obor tak kasat mata.
Begitu ia sampai di bawah, ia menemukan sebuah ruangan kecil yang temboknya dipenuhi coretan. Gambar-gambar tangan anak kecil. Seseorang—mungkin seorang anak—telah menggambar rumah, bunga, taman... dan perempuan kecil dengan gaun putih.
Di tengah ruangan, ada sebuah meja kayu tua. Di atasnya, kotak musik kecil berputar perlahan, memutar lagu tadi.
Dan di sebelahnya, ada sebuah buku harian.
Elira mendekat, menatap sampulnya yang lusuh. Namanya tertulis di sana, dengan tulisan tangan yang ia kenali namun tidak ia ingat pernah menuliskannya.
"Elira Anselm."
Tangannya gemetar saat membuka halaman pertama. Di sana, dengan tinta yang hampir pudar, tertulis:
"Hari ini aku bertemu lelaki berpayung merah. Katanya dia bisa menunjukkan cara pulang ke rumah. Tapi aku tidak yakin rumahku ada."
Elira terdiam. Itu tulisannya. Ia tahu. Tapi ia tak pernah merasa menulis itu.
Satu demi satu kenangan mulai muncul, samar dan berdebu seperti buku harian itu. Taman. Payung merah. Hujan. Dan suara—suara yang terus berbisik, "Kamu lupa, Elira. Kamu sudah lama lupa."
Dari balik kegelapan, sebuah langkah mendekat. Perlahan. Penuh ketenangan.
"Sudah kubilang, tempat ini bukan tempat sembarang orang datang," suara pria itu bergema lembut.
Pria berpayung merah muncul dari lorong gelap, matanya masih sama—tenang, nyaris tanpa emosi, namun penuh luka.
"Apa ini rumahku?" tanya Elira lirih, suaranya nyaris tak terdengar.
Pria itu hanya menatapnya. "Ini bukan rumah. Ini adalah cermin."
"Cermin?"
"Cermin dari semua yang kamu lupakan. Dari semua yang kamu tinggalkan."
Elira memejamkan mata, namun bayangan tak berhenti datang. Suara tawa anak-anak. Jeritan. Payung merah yang mengambang di sungai. Dan dirinya, berdiri di tengah taman, menunggu seseorang yang tak pernah kembali.
Dan untuk pertama kalinya sejak ia bertemu pria itu—ia menangis.
Elira memandangi pria berpayung merah itu lama sekali. Matanya masih basah oleh air mata, namun kini tatapannya berbeda—ada keberanian yang tumbuh dari serpihan luka yang perlahan kembali menyatu. Hening menyelimuti ruang bawah tanah itu, kecuali suara mekanis kotak musik yang perlahan melambat, seakan menyadari waktunya hampir habis.
"Jika ini adalah cermin... apakah artinya aku pernah tinggal di sini?" tanya Elira, setengah pada dirinya sendiri, setengah berharap pria itu menjawab.
Pria itu memutar payungnya perlahan, lalu menutupnya dengan gerakan anggun. "Kau pernah. Tapi bukan sebagai Elira yang kau kenal sekarang. Nama hanyalah penanda. Yang penting adalah siapa kau saat pintu itu pertama kali kau buka."
Elira menunduk pada buku harian itu. Halaman-halaman berikutnya penuh dengan gambar, bukan tulisan. Sketsa kasar anak kecil: rumah dengan atap runcing, sosok pria dengan payung, dan... dua bayangan hitam besar berdiri di latar belakang. Mereka tidak memiliki wajah, hanya siluet mengerikan dengan mata merah kecil—seperti bara api yang nyala diam.
"Makhluk ini..." gumamnya, jemarinya menyentuh gambar itu.
"Mereka yang datang saat kamu mulai melupakan," jawab pria itu tenang. "Makhluk-makhluk kegelapan itu tidak hidup di dunia nyata. Mereka hidup di antara ingatan dan penyangkalan. Mereka tumbuh ketika kamu membuang masa lalu yang menyakitkan."
"Kenapa aku melupakan semuanya?"
"Ada hal-hal yang terlalu berat untuk dikenang, bahkan oleh jiwa yang kuat." Ia menatap Elira dalam-dalam. "Tapi semakin lama kau menghindarinya, semakin besar celah yang mereka kuasai."
Elira memejamkan mata. Potongan-potongan itu terus datang—tapi belum menyatu.
Ia menoleh ke sekeliling ruangan. Di pojok ruangan, ada satu peti kayu kecil, terkunci dengan gembok tua berkarat. Seolah baru menyadari keberadaannya, Elira mendekat, hatinya berdebar lebih cepat.
"Apa ini juga bagian dari... aku?"
Pria itu mengangguk. "Kotak itu... menyimpan yang paling kamu tolak untuk diingat."
"Bagaimana cara membukanya?"
Ia tidak menjawab. Hanya menunjuk ke kunci kalung di leher Elira—kunci kecil yang selama ini menggantung di sana tanpa ia sadari fungsinya. Dengan tangan gemetar, Elira melepaskan kalung itu dan memasukkan kuncinya ke lubang gembok.
Klik.
Peti kayu terbuka perlahan.