Tangga itu seakan tak berujung. Cahaya merah dari obor tua yang menyala di sela dinding memberi kesan purba, seperti lorong waktu yang menghubungkan masa lalu dengan sesuatu yang telah lama terkubur.
Langkah kaki Aelia dan Lucas menggema. Makin dalam mereka berjalan, makin berat udara yang mereka hirup. Tapi ketika dinding batu di depan mereka berakhir dan terbuka menjadi ruang melingkar, sesuatu yang tak terduga terjadi.
Di tengah ruangan berdiri seorang pria tua berjubah kelabu. Rambutnya putih tergerai, matanya jernih namun memancarkan ribuan cerita. Di belakangnya, berdiri jam besar bergaya antik, jarumnya diam tak bergerak.
Pria itu mengangkat wajah dan tersenyum tipis. "Akhirnya kau tiba, Aelia."
Gemetar pelan menyusup ke tulang belakang Aelia. "Kau... siapa?"
"Aku adalah Penjaga Waktu," ucapnya tenang. "Aku menyimpan apa yang dilupakan, menjaga apa yang tak ingin diingat, dan melindungi waktu dari mereka yang mencoba mengubahnya."
Lucas menatap jam besar di belakang sang penjaga. "Jam itu... kenapa tidak bergerak?"
"Sebab waktumu terhenti, Aelia. Sejak malam ketika langit runtuh dan kamu memilih untuk melupakan."
Aelia melangkah pelan mendekat. "Aku... memilih untuk melupakan?"
"Benar," sang Penjaga mengangguk. "Kamu datang ke sini, bertanya padaku apakah kau bisa membebaskan diri dari semua kenangan yang menghancurkan. Dan aku... menepati janjiku."
Aelia menggigit bibir. "Apa yang aku lupakan?"
Penjaga itu mengangkat tangannya. Di udara, sebuah pusaran muncul—seperti kabut yang membentuk bayangan-bayangan. Di dalamnya, Aelia melihat dirinya sendiri berdiri di tengah hujan, memeluk seorang lelaki.
Payung merah.
Pria itu bukan Lucas.
"Siapa dia?" tanya Aelia perlahan.
"Dia adalah alasan kenapa kamu lari," jawab sang Penjaga. "Dan juga alasan kenapa kamu ingin mengingat kembali."
Lucas menatap Aelia dengan sorot penuh pertanyaan, tapi tak berkata apa-apa.
"Aku bisa mengembalikan ingatanmu, Aelia," lanjut sang Penjaga. "Tapi harganya tak ringan. Setiap kenangan membawa luka. Apakah kamu siap membukanya kembali?"
Aelia menatap pusaran itu. Hujan. Payung merah. Pelukan. Air mata. Rasa kehilangan. Tapi juga tawa, hangat, dan janji-janji yang entah telah dikubur di mana.
Ia menoleh ke Lucas. "Kalau aku mengingat semuanya... apakah kamu masih akan tetap bersamaku?"
Lucas tidak menjawab cepat. Ia menatap matanya dalam-dalam. "Apa pun yang kamu ingat, aku tetap di sini. Karena aku tidak peduli siapa kamu dulunya. Aku peduli siapa kamu sekarang."
Hening sejenak.
Aelia menarik napas panjang, lalu mengangguk.
"Buka kembali pintu itu," katanya pada Penjaga Waktu. "Aku ingin tahu kebenarannya."
Sang Penjaga mengangguk pelan. "Kalau begitu... bersiaplah."
Jam besar di belakangnya berdentang. Sekali. Dua kali. Tiga. Setiap dentangnya mengguncang ruang, seolah waktu yang beku mulai mencair.
Dan saat jarum jam mulai bergerak kembali, kenangan pun mulai mengalir deras ke dalam diri Aelia. Satu demi satu. Potongan yang terlepas. Luka yang terpendam.
Dan sosok lelaki berpayung merah... kini memiliki nama.
Nama itu datang dalam bisikan, seakan diselipkan angin ke dalam lubuk ingatan Aelia saat jarum jam berdentang ketujuh kalinya.
Elian.
Begitu asing, tapi begitu akrab. Begitu jauh, tapi juga sangat dekat. Namanya menggema dalam kepala Aelia, membawa gelombang emosi yang mengguncang dadanya seperti badai. Ia terhuyung, dan Lucas segera menopangnya.
"Namanya Elian..." bisiknya nyaris tak terdengar.
Sang Penjaga Waktu menatapnya dengan sorot sayu. "Kau mengingatnya."
Aelia menutup matanya, membiarkan kenangan itu datang—seperti membuka pintu rumah lama yang telah lama ditinggalkan. Kabut mulai menghilang, dan pemandangan dari masa lalu membentuk dirinya dengan jelas.
Elian. Lelaki yang memegang payung merah bukan hanya sosok asing yang membayangi langkahnya selama ini. Dia adalah cinta pertamanya. Seseorang yang dulu berjanji akan menunggu, tak peduli berapa lama waktu berlalu. Mereka pernah berbagi dunia sendiri—sebuah tempat rahasia di tengah hutan, di bawah hujan, di antara tawa dan pelukan hangat.
Namun ada tragedi.
Aelia mengingat suara dentuman keras. Ingatan kabur akan tubuh yang tenggelam. Suara Elian yang memanggil namanya. Kilat di langit. Darah. Dan kemudian... gelap.
"Aku pikir dia meninggal," gumam Aelia, terisak. "Aku pikir... aku kehilangan dia."
Penjaga Waktu menatapnya dalam. "Kamu memang kehilangannya. Tapi tidak seperti yang kau kira."
Lucas berdiri dalam diam. Ia bukan bagian dari masa lalu itu, dan untuk sesaat, ia merasa seperti orang asing. Tapi ia menggenggam tangan Aelia lebih erat. "Apa yang terjadi dengan Elian?"
Penjaga Waktu mengangguk pelan ke arah jam besar. "Waktu adalah penjara dan pintu. Elian... tidak mati. Tapi dia terjebak."