Lelaki Berpayung Merah

Penulis N
Chapter #5

5

Aelia menatap bocah kecil itu. Wajahnya begitu akrab—terlalu akrab untuk diabaikan. Rambutnya basah, pipinya tertoreh luka, dan di matanya, ada luka yang tak tertuturkan. Mata yang penuh ketakutan... dan pengharapan.

"Bukan Elian," gumam Aelia, nyaris tak terdengar. Tapi ia tahu ia sedang berbohong pada dirinya sendiri.

Bayangan di belakang bocah itu mulai menjulur. Tak menjerat, tak menyerang—mereka menunggu. Menunggu pilihan. Karena sekali Aelia menjulurkan tangan dan menarik anak itu keluar, celah waktu akan kembali terbuka. Dan mereka akan ikut bersamanya.

Dari bawah, Elian berteriak, "Aelia, jangan! Itu... itu bukan aku!"

Tapi mata anak itu berkaca-kaca. "Jangan tinggalkan aku di sini..."

Jantung Aelia seperti diremas. Ia tahu risiko dari membawa sesuatu dari waktu retak. Ia tahu ini bisa menghancurkan segalanya—tapi bagaimana jika ini adalah sisa dari Elian yang telah lama hilang? Bagian yang terperangkap, bagian yang mungkin bisa menyembuhkan luka Elian kini?

"Aku tidak bisa..." bisiknya. "Tapi aku juga tidak bisa membiarkanmu sendirian."

Tangan bocah itu menggenggam ujung jari Aelia, kecil dan dingin, tetapi nyata. Saat sentuhan itu terjadi, kilatan kenangan berkelebat di benak Aelia—kenangan yang bukan miliknya. Rumah terbakar. Teriakan. Payung merah yang sobek tertiup angin. Suara seorang ibu yang memanggil, lalu senyap.

Bocah itu adalah memori.

Elian... atau bagian jiwanya yang hilang.

Seketika, Aelia menarik napas dalam. Dengan satu tangan, ia menahan pegangan bocah itu, dan dengan tangan satunya, ia menekan pusat jam saku.

"Jika dunia ini tak bisa menerima keduanya, maka biarlah aku menyimpan satu bagian... untuk disembuhkan."

Ledakan cahaya terjadi. Pusaran waktu menutup—bukan dengan paksa, tapi dengan kesadaran. Kabut dan bayangan melengking, seperti ditarik kembali ke kehampaan. Bocah itu jatuh ke pelukan Aelia, tak sadarkan diri.

Menara jam runtuh sebagian, tapi cahaya merambat menyelimuti kota. Jam-jam kembali berdetak. Waktu mulai bergerak normal. Udara terasa berbeda, lebih tenang, lebih ringan.

Aelia duduk di lantai menara yang retak, memeluk bocah itu dengan hati penuh pertanyaan. Elian dan Lucas menyusul tak lama kemudian. Lucas terlihat waspada, tapi Elian... hanya menatap bocah itu tanpa suara.

Dan saat Elian berlutut, perlahan menyentuh kepala anak itu, ia terdiam cukup lama sebelum berbisik, "Itu... memang aku."

Aelia menatapnya. "Bagaimana mungkin?"

"Bagian dari diriku yang kulupakan... karena terlalu sakit untuk diingat. Waktu membuangnya, menahannya di antara detik-detik yang retak. Tapi sekarang... dia kembali."

Bocah itu membuka matanya. Tak ada kata, hanya air mata mengalir di pipinya. Dan Elian, untuk pertama kalinya, menangis—bukan karena kehilangan, tapi karena menemukan kembali sesuatu yang hilang begitu lama.

Lucas menghela napas. "Kau menanggung konsekuensi besar, Aelia."

Aelia mengangguk. "Kalau itu artinya dia bisa pulih, maka aku akan menanggungnya."

Tapi jauh di sudut kota, dalam bayang-bayang jam yang sudah rusak, sepasang mata lain menyala.

Waktu telah tertutup. Tapi jejak-jejak yang tertinggal... tidak pernah benar-benar lenyap.

Angin malam menyusup lewat jendela menara yang pecah. Di lantai tempat reruntuhan berserakan, Aelia duduk bersila, memandangi bocah yang kini tertidur dalam pelukannya. Wajah kecil itu damai, seolah beban waktu tak lagi menindihnya.

Elian berdiri tak jauh darinya, punggung bersandar pada pilar batu yang retak. Matanya kosong, namun penuh—seperti sedang menyusun kepingan dirinya yang baru saja ia temukan kembali.

"Aku tidak ingat banyak," katanya pelan. "Hanya kilasan. Tapi ketika dia menyentuhku... rasanya seperti pulang."

Lucas duduk di ambang jendela, menatap cahaya yang perlahan muncul dari jam-jam kota. Detik kembali berdetak, tapi tidak sepenuhnya selaras. Beberapa menara tetap diam. Waktu belum benar-benar pulih.

"Apa yang sebenarnya kau lihat dalam pusaran itu, Aelia?" tanya Lucas tanpa menoleh.

Aelia menghela napas. "Bayangan. Tangan yang tak berwujud. Mereka mencoba menarikku juga. Tapi anak itu—bagian dari Elian—menahanku."

"Dan sekarang?" Elian mendekat, menatap bocah itu. "Apa dia akan hidup sebagai dirinya sendiri? Atau akan lenyap saat aku mulai menerima?"

Aelia tidak menjawab segera. Ia mengusap rambut anak itu. "Kupikir dia akan hidup selama kau mengakuinya. Sebagai bagian darimu. Tapi juga... sebagai sesuatu yang telah melewati batas waktu."

Lucas berdiri. Suaranya berubah dingin. "Kita belum aman. Aku melihat sesuatu tadi—di bawah menara. Sesuatu yang bergerak meski waktu telah kembali. Bayangan itu... bukan hanya sisa masa lalu."

Elian menoleh. "Apa maksudmu?"

Lucas melangkah menuju tangga. "Ada yang tak ikut kembali. Atau lebih buruk—ada yang tetap di sini karena ingin."

Lihat selengkapnya