Lelaki Berpayung Merah

Penulis N
Chapter #6

6

Getaran di dalam ruangan semakin intens. Seakan seluruh alam semesta bergemuruh bersama mereka. Aelia, Elian, dan Lucas berdiri dalam lingkaran yang terbentuk oleh cahaya payung merah, tubuh mereka dipenuhi energi yang datang dari sumber yang tak terlihat. Waktu terasa melarut, bergerak mundur dan maju dalam irama yang tak bisa mereka kontrol.

Bayangan itu, yang semula tampak kabur, kini semakin jelas. Wajahnya muncul, dan di balik kelamnya ada ekspresi yang sulit dijelaskan—sebuah kesedihan yang mendalam. Ia melangkah lebih dekat, dan langkahnya yang berat membuat langit-langit ruangan bergetar. "Kalian memilih untuk mengembalikan waktu yang telah terputus. Tapi kalian lupa satu hal penting: kalian telah mengganggu jalan takdir," katanya, suara bergema dengan kekuatan yang menggetarkan jiwa.

Aelia menggenggam tangan Elian lebih erat. "Kami tahu risikonya. Tapi kami tidak bisa membiarkan semuanya hancur begitu saja."

Bayangan itu tertawa, suaranya seperti guruh yang menggelegar. "Kalian berpikir bisa membalikkan semuanya dengan sepotong harapan? Kalian mengira kalian lebih kuat dari takdir? Takdir bukan sesuatu yang bisa diubah dengan hanya kekuatan manusia."

Elian menatap Aelia. Matanya penuh dengan keinginan untuk memperbaiki segalanya, tetapi juga penuh keraguan. "Kita harus mencoba," katanya dengan suara yang tegas, meskipun terhenti oleh ketegangan yang tak terhindarkan.

Dengan gerakan cepat, Aelia melangkah maju dan meletakkan tangannya di atas jam raksasa yang hancur itu. Cahaya dari payung merah mengalir lebih intens, membungkus seluruh tubuhnya. Waktu berputar semakin cepat, dan bayangan itu tampak semakin dekat. Aelia merasakan sebuah kekuatan besar yang berusaha menariknya mundur, namun dia menahan diri. "Ini harus berhasil," bisiknya pada dirinya sendiri.

Tiba-tiba, bayangan itu mencondongkan tubuhnya ke depan, suaranya meresap ke dalam setiap sudut hati mereka. "Kalian tidak tahu apa yang kalian lakukan. Dengan mengubah waktu, kalian tak hanya merusak masa lalu. Kalian juga menghancurkan masa depan."

"Apa maksudmu?" tanya Lucas, yang kini merasa tubuhnya berat seiring dengan semakin menguatnya efek waktu yang terdistorsi.

Bayangan itu mengangkat tangannya, dan dari dalam kegelapan, muncul bayangan-bayangan lain yang mengelilingi mereka. "Kalian tidak tahu bagaimana dunia ini berfungsi. Dengan mengembalikan waktu yang hilang, kalian membuka pintu bagi lebih banyak kerusakan. Ketidakseimbangan ini akan berlanjut tanpa henti."

Aelia merasakan tubuhnya gemetar. Apa yang mereka lakukan benar-benar lebih besar dari yang dia kira. Mereka mungkin tidak hanya berurusan dengan masa lalu yang telah terputus, tetapi juga dengan sebuah kekuatan yang jauh lebih kuat dari sekadar sekumpulan waktu yang terhenti.

"Jika ini yang harus kami hadapi," kata Aelia, berusaha menenangkan dirinya, "kami siap menanggung risikonya."

Namun, bayangan itu tidak membalas. Hanya ada kesunyian yang mencekam, dan detak jam yang semakin lambat. Seperti waktu yang terluka, setiap detik terasa lebih lama daripada sebelumnya.

Elian mengangkat payung merahnya lebih tinggi. "Kami tidak akan mundur," katanya dengan penuh tekad. "Kami akan memperbaiki semuanya. Apa pun harganya."

Bayangan itu diam sejenak, dan Aelia bisa merasakan ketegangan di udara. Seketika, bayangan itu menghilang, dan ruang itu kembali menjadi sunyi. Namun, waktu di sekitar mereka tetap bergejolak, seakan mereka sedang melawan arus takdir yang sangat besar.

Tiba-tiba, sebuah suara lain terdengar, lebih lembut namun penuh dengan pengertian. "Kalian tidak akan menang dengan melawan takdir," kata suara itu. "Tetapi kalian bisa mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi."

Aelia terkejut. Itu bukan suara bayangan yang sebelumnya berbicara. Sebuah sosok muncul dari dalam kabut, lebih terang dan lebih nyata daripada bayangan yang mengancam mereka.

"Saya tahu kalian ingin memperbaiki dunia ini, tetapi ada hal-hal yang lebih besar daripada sekadar waktu. Keseimbangan bukanlah milik manusia untuk diputuskan," suara itu melanjutkan. "Namun, jika kalian ingin belajar, saya akan menunjukkan jalan."

Aelia menatap sosok itu, merasakan sesuatu yang dalam dan penuh misteri. Apa yang dimaksud dengan keseimbangan ini? Dan siapa sosok ini?

Sosok itu melangkah mendekat, menatap Aelia dengan tatapan yang dalam. "Kalian bisa mengubah apa yang telah terjadi, tapi tidak tanpa memahami apa yang telah hilang."

Aelia mengangguk pelan. "Kami siap untuk memahami."

Dan dengan itu, cahaya mulai memudar, dan mereka menemukan diri mereka berada di tempat yang tak lagi terasa seperti ruang yang sebelumnya mereka kenal. Mereka kini berada di sebuah dimensi baru—dimensi yang bukan hanya mengenai waktu, tetapi juga tentang konsekuensi dari setiap pilihan yang telah mereka buat.

Aelia tertegun sejenak. Lingkungan di sekitar mereka berubah secara drastis. Tidak lagi ada langit yang biru, tidak ada jejak dunia yang familiar. Sebaliknya, mereka kini berada di sebuah tempat yang dipenuhi dengan kabut tebal dan cahaya yang tampak merembes dari berbagai arah, meskipun tidak jelas dari mana asalnya. Suara-suara aneh, seperti bisikan yang tidak dapat mereka pahami, melayang di udara.

Elian, yang berdiri di samping Aelia, juga tampak terkejut. "Apakah ini... dunia lain?" tanyanya, matanya mengelilingi ruang yang tak mengenal waktu ini. "Kita tidak pernah masuk ke tempat seperti ini."

Sosok yang muncul sebelumnya—yang tampak lebih terang dan lebih nyata daripada bayangan-bayangan lainnya—mengangkat tangan, menunjukkan arah yang tampaknya tanpa batas. "Ini bukan dunia lain. Ini adalah dimensi yang hilang, tempat yang tidak terjangkau oleh waktu atau ruang. Di sini, kalian akan menemukan jawaban yang kalian cari, tetapi juga menghadapi konsekuensinya."

Aelia menatap sosok itu dengan penuh tanda tanya. "Dimensi yang hilang? Mengapa kami dibawa ke sini?"

"Sebab kalian telah melanggar hukum yang lebih besar dari sekadar mengembalikan waktu," jawab sosok itu dengan suara yang terdengar serak namun penuh makna. "Kalian telah mencoba memanipulasi sesuatu yang seharusnya tidak disentuh oleh tangan manusia—keseimbangan alam semesta. Ketidakseimbangan ini telah membawa kalian ke sini, dan hanya di sini kalian bisa memahami mengapa segala sesuatunya bisa rusak."

Lucas, yang lebih diam dari sebelumnya, tiba-tiba berbicara. "Apakah kita benar-benar bisa memperbaiki semuanya? Apa yang harus kita lakukan?"

Sosok itu menoleh, tatapannya semakin dalam. "Untuk memperbaiki semuanya, kalian harus memahami sesuatu yang lebih dalam. Kalian harus melihat dunia ini tidak hanya sebagai sekumpulan waktu yang terpisah, tetapi sebagai sebuah jaringan yang saling terkait, yang melampaui pemahaman manusia biasa."

Elian mendekat, langkahnya penuh ketegasan. "Apa maksudmu dengan jaringan? Apakah itu berarti kita bisa mengubah seluruh dunia, bukan hanya waktu?"

"Begitulah. Namun," sosok itu mengangkat jarinya untuk memberi isyarat peringatan, "setiap perubahan yang kalian buat tidak tanpa dampak. Keseimbangan yang kalian ganggu akan menuntut harga yang lebih besar daripada yang kalian bayangkan."

Lihat selengkapnya