Lelaki Berpayung Merah

Penulis N
Chapter #7

7

Kabut mulai menipis, memberi jalan pada bangunan tua yang berdiri menjulang di tengah padang kosong. Dindingnya berlumut, tertutup sulur-sulur tanaman merambat, dan meski tampak rapuh, ada aura kekuatan kuno yang terpancar darinya. Di depannya berdiri sebuah pintu tinggi berwarna perak kusam, tanpa kenop, tanpa celah—hanya ukiran samar yang membentuk pola seperti jalinan akar dan bintang.

Aelia menatap pintu itu dengan dahi mengernyit. "Ini tempatnya," gumamnya. "Aku merasa seperti... pernah ada di sini."

"Elian, lihat ukirannya," ia menunjuk pola yang terpahat. "Bukankah ini sama dengan lambang yang muncul di pergelangan tanganku waktu itu?"

Elian mendekat dan memperhatikan dengan seksama. Pola itu memang mirip. Garis-garis melingkar dengan satu titik di tengahnya—seperti mata yang mengawasi segala arah.

"Ini bukan sembarang pintu," katanya pelan. "Mungkin... ini gerbang menuju pusat jaringan takdir itu?"

Aelia mencoba menyentuhnya. Begitu ujung jarinya menyentuh permukaan logam, cahaya biru menyala dari ukiran, menyebar perlahan, tapi pintu tetap tertutup. Tak bergerak sedikit pun.

Mereka menunggu, tetapi tidak ada reaksi lebih lanjut.

"Harusnya bisa terbuka," kata Aelia bingung. "Kalau tempat ini adalah kunci menuju takdir... kenapa kita tak bisa membukanya?"

Elian menatap sekeliling. "Mungkin bukan soal siapa yang datang ke sini. Mungkin ini soal... kesiapan."

Tiba-tiba suara berat terdengar di belakang mereka. "Gerbang tak akan terbuka bagi yang masih terbelenggu oleh keraguan."

Mereka berbalik cepat. Sesosok pria tua berdiri tak jauh dari mereka, berjubah gelap dengan tongkat kayu yang ujungnya terukir simbol mata. Wajahnya dipenuhi keriput, namun matanya menyala—penuh pengetahuan dan misteri.

"Siapa kau?" tanya Elian, waspada.

"Aku Penjaga Gerbang," jawabnya singkat. "Tugas terakhirku adalah memastikan mereka yang melangkah melewati pintu ini memahami apa yang akan mereka hadapi."

Aelia melangkah maju. "Kami sudah melihat jaringan takdir. Kami tahu kami bisa mengubahnya. Kami tahu akan ada harga yang harus dibayar."

"Tahu bukan berarti siap," jawab Penjaga. "Banyak yang datang dengan niat memperbaiki, namun niat mereka didasari ketakutan. Mereka tak pernah berhasil membuka gerbang ini."

Ia mengangkat tongkatnya. Tiba-tiba, bayangan-bayangan muncul di sekitar Aelia dan Elian. Bayangan itu adalah mereka—tetapi versi yang berbeda. Aelia melihat dirinya berdiri sendirian, menatap reruntuhan kota; dalam versi lain, ia tampak tersenyum bersama seseorang yang bukan Elian. Elian, di sisi lain, melihat dirinya tenggelam dalam kesedihan, memeluk tubuh Aelia yang tak bernyawa.

"Itu semua adalah kemungkinan yang kalian bawa," kata Penjaga. "Dan pintu ini hanya akan terbuka jika kalian bisa memilih untuk berjalan... meski tanpa tahu akhir yang pasti."

Aelia memejamkan mata. Ketakutan mulai merayap, tetapi ia mengingat semua yang telah ia alami: taman waktu, suara payung merah, percakapan dengan dirinya sendiri di dimensi lain. Dan, Elian. Yang selalu bersamanya.

Ia membuka mata dan menatap gerbang itu. "Aku tak tahu ke mana jalur ini membawa. Tapi aku tahu aku tak bisa berbalik. Apa pun yang menunggu, aku akan menghadapinya."

Elian meletakkan tangannya di bahunya. "Dan aku akan bersamamu. Bahkan kalau semuanya harus hilang."

Cahaya biru dari ukiran itu kembali menyala, kali ini lebih terang. Mereka berdua melangkah maju, menempatkan telapak tangan di tengah ukiran.

Getaran lembut menjalar. Perlahan, suara berderak terdengar. Pintu itu... bergerak.

"Selamat datang di pusat takdir," suara Penjaga menghilang bersama kabut, saat pintu perlahan terbuka, memperlihatkan lorong cahaya yang berputar seperti pusaran.

Aelia menarik napas dalam. Elian menggenggam tangannya. Dan mereka melangkah masuk—ke dalam jantung jaringan, di mana masa lalu, kini, dan masa depan saling bersilangan, menanti untuk ditentukan.

Begitu Aelia dan Elian melangkah melewati ambang pintu, dunia berubah seketika. Cahaya menyilaukan menyambut mereka, bukan cahaya biasa, tapi semacam sinar hidup—berwarna-warni, berdenyut seperti nadi kosmos. Lorong itu tak sepenuhnya berbentuk; dindingnya seperti kabut yang padat, bergerak perlahan, memantulkan bayangan-bayangan yang familiar.

Langkah mereka tidak menimbulkan suara. Setiap gerakan terasa ringan, seolah mereka melangkah di atas helai waktu yang nyaris tak kasatmata.

"Elian... kau lihat itu?" bisik Aelia.

Bayangan di kiri mereka memperlihatkan Aelia kecil sedang menangis sendirian di bawah pohon besar—hari saat ibunya meninggalkannya di panti asuhan. Di kanan, Elian melihat bayangan dirinya sedang merobek sepucuk surat yang belum sempat ia baca sepenuhnya—pesan terakhir dari ayahnya yang hilang.

Ini bukan sekadar pantulan. Ini potongan kehidupan. Kenangan, penyesalan, keputusan. Semua terpampang di sekeliling mereka, seolah tak ada rahasia yang boleh dibawa ke tempat ini.

"Semuanya di sini," kata Elian pelan. "Bahkan yang kita lupakan. Atau sengaja kita buang."

Tiba-tiba lorong itu bergetar ringan. Cahaya di depan mereka menyempit, lalu membentuk semacam jendela bundar, seperti lensa raksasa yang mengarah pada satu momen—masa depan.

Aelia dan Elian berdiri terpaku saat mereka melihat bayangan yang tampak begitu nyata: dunia mereka, hancur. Kota-kota terbakar, langit menghitam, dan simbol jalinan takdir menyala merah di langit seperti peringatan. Sosok berjubah gelap berdiri di tengah reruntuhan, memegang payung merah—bukan Elian.

"Siapa itu?" gumam Aelia, terkejut.

Lorong bergetar lebih hebat, dan jendela itu retak, menghilang dalam ledakan cahaya.

Suara menggema di sekeliling mereka, berat dan menggema seperti datang dari semua arah sekaligus.

"Kalian datang, tapi belum tentu kalian bisa memilih."

"Takdir bukanlah jalur tunggal. Ia bercabang, berkelok, bahkan bisa runtuh."

"Kalian akan diuji bukan dengan kekuatan... tapi dengan keberanian untuk kehilangan."

Tiba-tiba lorong itu pecah menjadi tiga jalur bercahaya—merah, biru, dan ungu. Di setiap jalur, bayangan sosok mereka berdiri, namun masing-masing tampak berbeda.

Lihat selengkapnya