Lelaki Berpayung Merah

Penulis N
Chapter #8

8

Udara di jalur kelima belas terasa lebih berat, seolah setiap molekul mengandung beban kenangan yang belum selesai. Langit di atasnya tidak berwarna ungu seperti dimensi sebelumnya, melainkan kelabu pucat—seperti pertanda bahwa waktu di sini berjalan tidak sempurna.

Aelia mendarat di tengah taman kota yang membeku. Orang-orang berdiri di sana, tapi tak satu pun bergerak. Seorang wanita tua tengah menyusui bayi, namun air susu tak menetes. Seorang anak lelaki melempar bola, namun bola menggantung di udara. Semua beku... terkunci dalam fragmen waktu yang patah.

Payung merah di tangan Aelia mengeluarkan kilatan samar. Ia menekan ujungnya ke tanah. Dalam sekejap, satu percikan cahaya menyebar seperti jaring laba-laba, membebaskan sebagian kecil ruang di sekelilingnya dari pembekuan. Waktu mulai berdetak... perlahan.

"Tempat ini salah," gumam Aelia.

Ia melangkah pelan, menembus kepingan waktu yang rapuh. Seperti masuk ke museum mimpi yang belum selesai dipahatkan.

Suara kecil tiba-tiba terdengar. "Kau terlambat."

Aelia menoleh. Di bawah bayangan pohon besar, berdiri seorang remaja laki-laki berambut hitam legam, matanya abu-abu—seperti langit yang menyimpan badai. Ia mengenakan seragam sekolah, tetapi seluruh tubuhnya seolah tembus cahaya.

"Elian?" bisik Aelia.

Remaja itu menggeleng pelan. "Aku... bukan dia. Aku hanya pecahannya. Fragmen dari kenangan yang ia lupakan."

Aelia mendekat. "Kau tahu ke mana dia pergi?"

Fragmen-Elian menatapnya dengan tajam. "Dia sedang dilahirkan kembali... tapi jalurnya bengkok. Jika kau tak cepat, ia akan menjadi sesuatu yang tak bisa kau kenali."

"Dimensi ini—kenapa waktu berhenti?"

"Karena dia mencoba melupakanmu di sini."

Aelia tertegun.

"Jalur kelima belas adalah tempat terakhir dia mencoba membunuh kenangannya tentangmu. Tapi fragmen seperti kami... tetap ada. Kami yang menolak hilang." Fragmen itu mengangkat tangannya, menunjukkan sebuah pecahan kristal. Di dalamnya, tampak bayangan Aelia dan Elian duduk di bawah hujan, payung merah menaungi mereka.

"Bagaimana aku bisa ke tempat ia dilahirkan kembali?"

"Kau harus menelusuri Tiga Pilar yang tersisa. Pilar Kenangan, Pilar Bayangan, dan Pilar Penyangkal. Masing-masing melindungi jalur terpendam menuju dimensi kelahiran ulang."

Aelia menunduk sesaat. "Dan siapa yang menjaganya?"

Fragmen-Elian menatap langit. "Bukan siapa... tapi apa. Mereka disebut Pembalik Takdir. Makhluk dari luar waktu yang menganggap perubahan sebagai penyakit. Dan sekarang mereka mencarimu."

Tiba-tiba, langit terbelah.

Kabut hitam menggulung masuk, dan dari dalamnya, muncul sosok-sosok tinggi menjulang. Tanpa wajah. Tanpa suara. Tapi kehadiran mereka menindas napas Aelia.

Fragmen-Elian mendorong kristal ke tangan Aelia. "Bawa ini. Dan lari. Ke pilar pertama. Di utara."

"Tapi kau—"

"Aku hanya fragmen. Aku tak bisa ikut."

Aelia tak punya pilihan.

Dengan satu hentakan payung ke tanah, tubuhnya terangkat, menghilang dalam kilatan merah. Di belakangnya, langit meledak dalam bisikan yang tak bisa ditangkap oleh telinga manusia.

Dan dunia pun mulai mengejar sang Penjaga.

Langit dimensi baru menyala keemasan. Aelia mendarat di atas jembatan gantung yang menggantung di antara dua tebing merah. Angin menyapu rambutnya yang kusut, membawa aroma mawar kering dan sesuatu yang lebih asing—bau masa lalu yang terdistorsi.

Di ujung jembatan itu berdiri sebuah gerbang batu yang diselimuti sulur-sulur bercahaya. Di atasnya, terukir kata-kata dalam bahasa kuno yang hanya bisa dibaca oleh orang yang membawa pecahan ingatan.

Kristal kecil yang diberikan oleh fragmen Elian berpendar pelan. Aelia mendekatkan kristal itu ke ukiran, dan seketika, batu-batu itu bergeser, membuka jalan ke dalam ruang berdinding kaca. Di sinilah Pilar Kenangan berada.

Namun tempat itu bukan sekadar ruang.

Itu adalah lorong waktu.

Di kanan kirinya, panel-panel kaca memutar ulang kenangan Aelia—beberapa samar, beberapa begitu jelas hingga menusuk. Saat dia melangkah masuk, lorong itu berdenyut.

Sebuah suara menyapa. Lembut. Tua.

"Selamat datang, Penjaga. Di sinilah kenanganmu dihakimi."

Aelia mendongak. Di tengah ruangan berdiri seorang wanita bertubuh transparan, mengenakan jubah dari lembaran-lembaran surat. Wajahnya selalu berubah, mengikuti ekspresi dalam tiap kenangan yang terbuka.

"Apa kau penjaga Pilar Kenangan?" tanya Aelia.

"Aku hanya penjaga pintu. Yang menilaimu adalah kenanganmu sendiri," jawab wanita itu.

Tiba-tiba, kaca pertama berpendar. Tertayanglah Aelia kecil yang menolak meninggalkan makam ibunya meski hujan deras mengguyur. Ia ingat rasa kehilangan itu—tulang pipinya menegang. Tangannya mengepal.

"Untuk membuka jalan ke Pilar ini, kau harus menerima semuanya. Yang paling kau sesali, yang paling kau benci, dan yang paling kau rindukan," kata si penjaga.

Panel kedua menyala.

Kenangan Aelia remaja yang menyembunyikan kemampuannya saat melihat bayangan orang mati berkeliaran di sekolahnya. Ia membiarkan satu teman dekatnya menghilang karena tak berani menyampaikan kebenaran.

Lihat selengkapnya