Payung merah itu kini menjadi bagian dari hidup Aelia. Ia menyimpannya, bukan sebagai benda biasa, tapi sebagai simbol dari seseorang yang pernah membuatnya bertahan. Seseorang yang tak lagi ada di dunia ini... tapi entah bagaimana, kehadirannya tetap terasa.
Hari-hari berlalu sejak Aelia kembali dari "pilar terakhir". Ia tak pernah bisa menjelaskannya pada siapa pun, bahkan kepada dirinya sendiri. Tapi ia tahu satu hal—hidupnya telah berubah.
Kini, Aelia kembali ke bangku kuliah. Ia menghadapi tatapan teman-teman yang sempat mengira dirinya menghilang, bahkan dianggap kabur dari kenyataan. Tapi Aelia tak marah. Ia hanya tersenyum dan menjawab seadanya.
Satu hal yang berbeda: ia tak lagi menunggu diselamatkan oleh siapa pun.
Ia mulai menulis lagi. Setiap malam, di bawah lampu meja kecilnya, Aelia menuangkan kisah—bukan kisah fantasi, tapi catatan tentang keberanian, luka, dan tentang lelaki berpayung merah yang telah mengajarkannya makna pilihan.
Satu malam, ketika hujan kembali turun dan udara berbau tanah basah, Aelia duduk di bangku taman tempat ia dulu sering menatap hujan. Payung merah itu terbuka di sampingnya. Angin berbisik lembut, seakan dunia ingin berbicara.
Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar. Aelia menoleh cepat.
Seorang anak laki-laki berdiri di tepi jalan. Basah kuyup. Matanya besar, wajahnya pucat. Ia tampak tersesat.
"Hey, kamu sendirian?" tanya Aelia lembut.
Anak itu mengangguk pelan.
"Di mana orangtuamu?"
"Aku... gak tahu. Aku lari karena takut."
Aelia berdiri, mendekatinya sambil membawa payung merah itu. "Kamu gak apa-apa sekarang. Sini, ikut aku. Kita cari tempat aman."
Anak itu menatap payung merah itu dengan mata membesar. "Itu... payung yang muncul di mimpiku."
Aelia terdiam. "Mimpi?"
Anak itu mengangguk. "Seorang kakak dengan payung ini menolongku. Dia bilang kalau aku hilang, aku akan ketemu 'dia' yang membawa tanda yang sama."
Jantung Aelia berdegup kencang. Ia menatap payung itu. Warnanya masih merah. Masih hangat saat disentuh.
"Elian..." bisiknya lirih.
Tapi tak ada suara balasan. Hanya angin dan hujan.
Aelia lalu menggenggam tangan anak itu. "Namamu siapa?"
"Leo."
Aelia tersenyum. "Ayo, Leo. Kita cari tempat yang terang."
Payung merah itu terbuka lagi, dan untuk pertama kalinya, Aelia tahu: ia tak lagi berjalan dalam bayang-bayang Elian. Kini, ia meneruskan langkah lelaki itu. Menjadi cahaya bagi orang lain, sebagaimana ia dulu pernah diselamatkan.
Dan mungkin... suatu hari, saat langit kembali memanggil, ia akan bertemu Elian lagi.
Tapi untuk saat ini—ia hidup.
Dan itu cukup.
Sejak pertemuan itu dengan Leo, Aelia merasa ada sesuatu yang berubah. Bukan hanya dalam dirinya, tetapi dalam caranya melihat dunia. Ia mulai memperhatikan anak-anak lain di sekitarnya—yang tampak terlalu diam, yang sering menyendiri, atau yang matanya seperti menyimpan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan.