Lelaki Berpayung Merah

Penulis N
Chapter #10

10

Aelia berdiri di tepi jendela perpustakaan yang gelap, menatap hujan yang turun deras. Suara gemericik air di luar semakin menggelisahkan hatinya. Perasaan terperangkap semakin kuat, dan meskipun Leo di sampingnya, ia merasa seolah dunia ini semakin asing. Alaric kembali, dan dengan kembalinya dia, segalanya berubah.

Leo berdiri di belakang Aelia, mengamati hujan yang menyiram tanah. "Kita tak bisa terus bersembunyi, Aelia. Mereka sudah tahu kita mulai mencari jawaban." Suara Leo terdengar tegas, namun ada nada kekhawatiran di dalamnya.

Aelia menatap hujan yang semakin deras. "Aku merasa seperti kita sedang berjalan di jalur yang salah. Alaric berkata, mereka yang tidak pulang datang untuk mengambil sesuatu dari kita. Apa yang mereka inginkan?"

Leo menarik napas panjang. "Kita harus mencari tahu, tapi kita harus hati-hati. Mereka tak akan membiarkan kita dengan mudah mengungkap rahasia mereka. Kita sudah memasuki dunia yang tak bisa dipahami hanya dengan logika."

Aelia berpaling, matanya bertemu dengan mata Leo. "Aku tak tahu harus mulai dari mana. Segalanya terlalu kabur. Alaric, mereka yang hilang... mereka pasti memiliki tujuan. Tetapi tujuan itu apa?"

Leo menghela napas, lalu berjalan menuju meja yang penuh dengan buku-buku tua. "Ada sesuatu yang tidak biasa dalam apa yang Alaric katakan. Mereka bukan hanya kembali tanpa alasan. Mereka punya misi. Tapi misi apa yang bisa mengubah mereka begitu dalam?" Leo mulai membuka beberapa buku, mencari informasi yang mungkin bisa memberi petunjuk.

Aelia mendekat dan memeriksa buku-buku yang dibuka Leo. Buku-buku itu penuh dengan catatan tentang sejarah dan mitos yang sudah terlupakan. Sesuatu yang tidak akan dipahami oleh banyak orang, sesuatu yang tidak akan pernah masuk dalam dunia nyata mereka.

"Ini tidak akan mudah, kan?" Aelia bertanya, merasakan ketegangan yang semakin mencekam.

Leo menoleh dan mengangguk. "Tidak ada yang mudah. Tetapi jika kita tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, kita akan terjebak di dalamnya selamanya. Kita harus mengetahui apa yang membuat mereka kembali."

Aelia merasa jantungnya berdegup lebih cepat. "Dan kalau kita menemukan apa yang mereka inginkan? Apa yang akan terjadi pada kita?"

Leo terdiam sejenak. "Kita harus siap dengan kemungkinan terburuk. Tapi yang lebih penting, kita harus memastikan kita tidak kehilangan lebih dari sekadar waktu kita."

Aelia menatap ke luar jendela, ke dalam kegelapan malam yang semakin pekat. Dia tahu, semakin dalam mereka menyelidiki, semakin besar bahaya yang akan mereka hadapi. Namun, ia tak bisa mundur. Tidak sekarang, tidak ketika jawaban yang dicari semakin dekat.

"Malam ini, kita akan pergi ke tempat yang sudah lama terlupakan," kata Leo, tiba-tiba memecah kesunyian. "Ada sebuah kuil kuno yang terletak di pinggiran kota. Dulu, tempat itu dianggap terlarang, tapi menurut catatan ini, ada sesuatu yang terjadi di sana yang berkaitan dengan mereka yang hilang."

Aelia mengerutkan dahi. "Tempat terlarang? Kuil kuno?"

Leo mengangguk. "Tempat itu bukan tempat biasa. Ada sesuatu yang kuat, sesuatu yang tak seharusnya kita cari. Tapi kita harus melakukannya."

Aelia merasa tubuhnya menegang. "Kita akan pergi malam ini?"

Leo tersenyum tipis, meski senyum itu tidak menghilangkan kekhawatiran di matanya. "Tidak ada waktu untuk menunggu. Kalau kita tidak mulai sekarang, mereka yang hilang akan semakin dekat."

Aelia mengangguk pelan, menyadari betapa seriusnya situasi ini. Ia memikirkan kata-kata Alaric, tentang bayangan yang datang untuk mengambil semua yang mereka tinggalkan. Ia merasa semakin terperangkap, namun tidak ada pilihan selain terus mencari jawaban.

Malam semakin larut, dan jalanan di luar kota tampak sepi, hanya dihiasi oleh kilatan petir sesekali. Aelia dan Leo melangkah cepat di antara lorong-lorong sempit, berusaha menghindari mata yang mungkin mengintip dari bayangan gelap. Perjalanan mereka menuju kuil kuno itu terasa lebih berat dari yang Aelia bayangkan. Suasana tegang begitu menyelimuti, dan meskipun ia berjalan di samping Leo, ada perasaan terasing, seolah dunia di sekitar mereka berfungsi dengan cara yang berbeda, dengan aturannya sendiri yang tak bisa dipahami.

"Tidak jauh lagi," Leo berbisik, tangannya terulur meraih tangan Aelia untuk memandu jalan di kegelapan malam. "Kuil itu terletak di bawah tanah, tersembunyi di bawah reruntuhan sebuah rumah tua yang sudah lama ditinggalkan."

Aelia mengangguk, merasa gugup sekaligus penasaran. "Apa yang kita cari di sana, Leo?"

"Jawaban," jawab Leo tanpa ragu. "Semua petunjuk mengarah ke tempat itu. Kalau kita bisa menemukan apa yang ada di dalamnya, kita mungkin akan tahu lebih banyak tentang mereka yang hilang dan alasan Alaric kembali."

Mereka akhirnya tiba di depan sebuah bangunan tua yang tampaknya sudah lama ditinggalkan. Pintu masuknya tertutup rapat oleh semak-semak dan reruntuhan batu. Leo meraih sebuah obor dari ranselnya, menyalakannya, lalu memotong semak-semak yang menghalangi jalan mereka. Suara gesekan daun dan ranting yang patah terasa keras di malam yang sunyi. Aelia merasa ketegangan itu semakin mencekam, seolah sesuatu sedang mengawasi mereka.

"Di sini," Leo berkata, menunjuk ke arah pintu kayu yang hampir hancur. "Pintu masuknya tersembunyi di bawah reruntuhan ini. Hati-hati."

Mereka menyusuri jalan sempit di bawah tanah itu dengan hati-hati, hanya diterangi oleh cahaya obor yang mereka bawa. Setiap langkah terasa berat, seolah ruang bawah tanah itu menahan mereka di dalamnya, menjaga rahasia yang mungkin lebih gelap dari yang bisa mereka bayangkan. Aelia menoleh ke Leo, mencoba mencari ketenangan di matanya, tetapi di sana hanya ada bayangan kecemasan.

"Leo, apa yang sebenarnya ada di sini?" tanya Aelia dengan suara lirih.

Leo berhenti sejenak, menatap ruang gelap di depan mereka. "Ini adalah tempat yang dulu digunakan untuk ritual-ritual kuno. Konon, ada kekuatan yang sangat besar yang dipenjara di dalam sini, sesuatu yang tak boleh dibangkitkan. Namun, kami percaya bahwa itu adalah kunci untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi."

Aelia menggigit bibirnya, menahan ketakutannya. "Dan jika kita salah?"

Leo tersenyum, meskipun senyum itu lebih mirip sebuah ekspresi penuh pemahaman akan bahaya yang menanti. "Jika kita salah, kita akan tahu apa yang harus dilakukan. Tapi kita tidak punya banyak pilihan."

Aelia mengangguk, meskipun hatinya berdebar. Apa yang mereka cari bisa saja lebih dari sekadar jawaban. Bisa jadi mereka sedang membuka pintu yang tidak bisa ditutup lagi.

Mereka melangkah lebih dalam, dan akhirnya sampai di sebuah ruangan besar yang penuh dengan simbol-simbol misterius terukir di dindingnya. Tumpukan batu besar membentuk altar di tengah ruangan, di atasnya terdapat sesuatu yang berkilau dalam cahaya obor. Sebuah buku besar yang tertutup debu, seolah menunggu untuk dibuka.

Lihat selengkapnya