Aelia terbangun dengan rasa pusing yang luar biasa. Ketika dia membuka matanya, yang dia lihat pertama kali adalah langit biru yang terbentang luas, tanpa awan, dan sinar matahari yang terasa hangat di kulitnya. Tapi ada sesuatu yang aneh. Ini bukan tempat yang dia kenal. Ini bukan dunia yang dia ingat.
"Leo?" panggil Aelia dengan suara yang parau, terengah-engah. Namun, tidak ada jawaban.
Dia bangkit perlahan, tubuhnya terasa lemas, dan matanya masih berusaha untuk menyesuaikan diri dengan cahaya yang begitu terang. Aelia melihat sekelilingnya, dan apa yang dia temui hanyalah hutan yang tak berujung, penuh dengan pohon-pohon yang tinggi dan rapat. Tanahnya subur, tetapi atmosfernya terasa tidak biasa, seperti sebuah dunia yang terlupakan.
Di kejauhan, dia melihat sebuah bangunan megah yang terbuat dari batu, seolah-olah ditinggalkan oleh waktu. Dengan langkah gontai, Aelia berjalan menuju tempat itu, hatinya penuh dengan kekhawatiran. "Leo... di mana kamu?"
Saat dia semakin dekat, bangunan itu mulai terlihat lebih jelas. Bentuknya yang besar dan kokoh membuatnya merasa ada sesuatu yang kuat mengintainya dari dalam. Aelia merasa ada sesuatu yang memanggilnya. Suatu kekuatan yang menariknya lebih dalam.
Saat dia mendekat, sebuah pintu besar terbuka dengan sendirinya, memberi jalan padanya untuk masuk. Aelia tidak tahu apa yang mendorongnya, tetapi perasaan yang kuat dalam dirinya memaksa langkahnya untuk terus maju.
Begitu memasuki ruangan, Aelia disambut dengan pemandangan yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya. Di tengah ruangan, ada sebuah meja besar yang dipenuhi dengan buku-buku kuno, simbol-simbol yang belum pernah dia lihat, dan api yang berkobar di sekitar altar. Namun, apa yang paling menarik perhatian Aelia adalah bayangan di sudut ruangan, sebuah sosok yang sangat familiar.
Leo.
Dia berdiri di sana, dengan tubuh yang terbungkus cahaya yang sangat terang, matanya tertutup, dan wajahnya tampak tidak bernyawa. Namun, ada sesuatu yang berbeda. Leo tidak tampak seperti dia yang dulu. Ada sesuatu yang lebih besar di dalam dirinya, sesuatu yang menyatu dengan kekuatan yang tak terkatakan.
"Aelia..." suara Leo terdengar samar, seolah datang dari tempat yang sangat jauh.
"A-Apa yang terjadi?" suara Aelia serak, mencoba menahan tangis yang tiba-tiba muncul. "Leo, kenapa kamu ada di sini? Apa yang terjadi dengan kita? Kita sudah menghancurkan buku itu!"
Leo membuka matanya perlahan, dan tatapannya yang kosong seakan mengisyaratkan sesuatu yang jauh lebih besar dari yang bisa dimengerti. "Aelia... kita berhasil menghapus penjaga itu. Tapi dengan pengorbanan itu, kita masuk ke dunia yang berbeda, dunia yang terperangkap dalam waktu yang tak pernah berhenti."
Aelia terdiam, mencoba menyerap kata-kata Leo. "Dunia yang terperangkap? Apa maksudmu? Bukankah kita sudah menghentikan kegelapan?"
Leo menggelengkan kepalanya dengan perlahan, ekspresinya penuh penyesalan. "Kegelapan itu tidak sepenuhnya hilang. Hanya saja, dengan pengorbanan kita, kita dipindahkan ke dunia yang terjaga dari waktu. Dunia yang tidak akan pernah kembali seperti semula. Waktu di sini berjalan berbeda, Aelia. Ini adalah dunia limbo, tempat di mana segala sesuatu yang terhapus dalam sejarah terjebak."
Aelia merasakan jantungnya berdetak lebih kencang. "Apa artinya itu? Apa kita tidak bisa kembali?"
Leo melangkah maju dengan langkah yang lambat, seolah-olah sedang mempersiapkan dirinya untuk menjelaskan sesuatu yang lebih berat. "Kita tidak bisa kembali ke dunia yang lama. Kita telah menghapus semuanya. Semua kenangan, semua keberadaan, semua orang yang kita kenal—mereka tidak ada di dunia ini. Ini adalah dunia baru, dunia yang kosong, di mana tak ada lagi yang bisa dikembalikan."
Aelia merasakan tubuhnya lemas. "Tapi kita masih hidup, Leo. Kita masih ada di sini. Ini berarti masih ada harapan."
Leo menatapnya dengan tatapan yang penuh dengan keputusasaan. "Aku tidak tahu. Dunia ini tidak akan memberiku jawaban. Kita harus menemukan cara untuk menghancurkan siklus ini, tetapi apakah itu akan membawa kita kembali? Aku tidak tahu, Aelia."
Aelia menundukkan kepala, merasa kebingungannya semakin dalam. Ini bukan dunia yang dia kenal, dan meski mereka berhasil mengalahkan penjaga, takdir yang lebih besar menunggu mereka. Ini adalah dunia yang penuh dengan kekosongan dan kesedihan.
Tetapi satu hal yang Aelia tahu dengan pasti: dia tidak akan menyerah. Dia tidak akan membiarkan pengorbanan mereka sia-sia. Jika dunia ini membutuhkan mereka untuk bertarung, maka dia akan bertarung. Bersama Leo, meskipun di dunia yang terperangkap dalam waktu.
"Leo, kita masih bisa berjuang. Kita akan cari jalan keluar, apapun yang terjadi."
Leo hanya bisa mengangguk lemah, meski matanya tidak sepenuhnya yakin. Mereka berdiri bersama di tengah dunia yang sepi, menatap masa depan yang penuh ketidakpastian, namun juga harapan yang tak pernah padam.
Aelia menatap Leo dengan wajah yang penuh tekad. Dunia yang mereka hadapi kini jauh lebih berbeda dari yang pernah mereka bayangkan. Seperti yang telah Leo katakan, mereka terjebak dalam dunia limbo, dunia yang tak terikat oleh waktu, tempat yang tidak bisa mereka pahami sepenuhnya.
Namun, Aelia tahu satu hal: dia harus terus maju. Meskipun setiap langkah terasa berat, meskipun dunia ini terasa asing dan menakutkan, dia tidak bisa menyerah. Ada harapan yang harus dia raih, entah bagaimana caranya.
"Di mana kita harus mulai?" tanya Aelia, suaranya terdengar lebih yakin daripada yang dia rasakan.
Leo memandangi altar besar di tengah ruangan itu. Di sana, api yang berkobar masih menyala, seolah tidak pernah padam, menjaga dunia ini tetap dalam kegelapan yang abadi. "Kita harus mencari pusat dari dunia ini," jawabnya dengan suara yang berat. "Di sanalah jawaban mungkin ada. Tapi kita harus berhati-hati. Setiap langkah kita akan membawa kita lebih dalam ke dalam kegelapan yang kita coba lupakan."
Aelia mengangguk. Meskipun dia tak sepenuhnya memahami maksud Leo, dia tahu ini adalah satu-satunya jalan yang tersisa. Dunia ini telah berubah, dan mereka harus menemukan cara untuk keluar.
Dengan langkah yang mantap, mereka meninggalkan ruangan tersebut dan melangkah keluar menuju dunia yang baru ini. Hutan yang tak terhingga membentang di depan mereka, pohon-pohon raksasa dengan akar yang menjalar dalam gelap, dan udara yang terasa dingin, meski matahari masih bersinar cerah. Semua tampak tidak wajar.
Leo memimpin jalan, sementara Aelia mengikuti di belakang, matanya terus mengawasi sekeliling dengan cermat. Mereka harus berhati-hati. Dunia ini tampaknya bukan hanya tak terikat oleh waktu, tetapi juga penuh dengan bahaya yang tak terlihat.
"Mengapa dunia ini terasa seperti... ada yang memantau kita?" tanya Aelia, matanya tak lepas dari bayangan yang tampak bergerak di antara pepohonan.
Leo melirik ke belakang, seolah memastikan bahwa mereka tidak diikuti. "Karena kita bukan satu-satunya yang ada di sini," jawabnya dengan suara rendah. "Ada sesuatu yang lebih besar dari kita, Aelia. Sesuatu yang mungkin telah mengendalikan dunia ini sejak awal."
Aelia merasa tenggorokannya kering. Sesuatu yang lebih besar? Apa yang bisa lebih besar dari mereka yang sudah mengorbankan segalanya untuk mengalahkan penjaga kegelapan itu?
Perjalanan mereka berlanjut tanpa banyak bicara. Setiap langkah terasa semakin berat, dan udara semakin terasa berat, seperti ada sesuatu yang mengintai dari balik bayangan. Aelia merasakan ada kekuatan yang menekan mereka, sesuatu yang membuatnya semakin lelah, meskipun tubuhnya tidak pernah benar-benar bergerak.
Tiba-tiba, mereka sampai di sebuah jurang besar, tepiannya dipenuhi dengan tanaman yang aneh dan berkilau. Di tengah jurang itu, tampak sebuah batu besar yang berdiri tegak, terbalut dalam lapisan energi yang bercahaya. Batu itu tampak seperti pusat dari seluruh dunia ini, dan Aelia merasakan ada sesuatu yang menariknya untuk mendekat.
"Apa itu?" Aelia bertanya, suara bergetar karena ketegangan.