Cahaya dari pintu yang terbuka memancar begitu terang, seakan mengundang mereka untuk masuk ke dalam kedalaman yang tak terduga. Aelia dan Leo berdiri beberapa langkah dari pintu itu, perasaan tidak nyaman semakin kuat. Dunia ini tidak seperti yang mereka kenal. Setiap jejak yang mereka tinggalkan seakan ditelan oleh dunia itu, seakan dunia itu tidak pernah memberi ruang untuk jejak mereka ada.
Aelia menatap Leo. "Apa yang akan terjadi setelah kita melangkah masuk?"
Leo menghela napas panjang. "Aku tidak tahu. Tapi kita sudah sampai sejauh ini. Tidak ada yang bisa kita lakukan selain menghadapi apa yang ada di depan kita."
Aelia mengangguk, perasaan cemas di dalam hatinya masih mengganjal. Ia merasakan ada sesuatu yang aneh—sesuatu yang mengawasi mereka, sebuah kekuatan yang lebih besar dari yang bisa mereka pahami. Tetapi keinginan untuk mengetahui kebenaran lebih kuat daripada rasa takut itu.
Mereka melangkah maju bersama, memasuki ruang yang terletak di balik pintu. Di dalam, mereka disambut oleh sebuah ruang luas, yang lebih seperti sebuah aula megah yang tak terhingga luasnya. Dinding-dindingnya terbuat dari batu hitam yang berkilau, seolah-olah menyimpan cahaya di dalamnya. Setiap sudut ruangan dipenuhi dengan simbol-simbol yang lebih rumit dari yang mereka lihat sebelumnya, menciptakan suasana yang sangat magis dan misterius.
Namun, di tengah ruang itu, terdapat sebuah podium besar yang dikelilingi oleh bayangan yang bergerak, seperti ilusi yang seolah hidup. Di atas podium, terletak sebuah buku besar yang tertutup rapat. Aelia bisa merasakan suatu kekuatan yang luar biasa terpancar dari benda itu, sebuah energi yang begitu mencekam namun mengundang rasa penasaran yang tak terhingga.
"Apa itu?" tanya Aelia, hampir berbisik, matanya tetap tertuju pada buku itu.
Leo menatapnya dengan serius. "Itu... adalah kunci. Kunci yang bisa membuka segala rahasia tentang dunia ini. Tapi kita harus berhati-hati, karena apa yang ada di dalamnya bukanlah sesuatu yang bisa kita kendalikan dengan mudah."
Aelia merasakan ketegangan itu semakin meningkat. Dunia ini terasa semakin asing, semakin berbahaya. Setiap langkah yang mereka ambil di dalamnya membawa mereka lebih dekat kepada sesuatu yang tidak mereka pahami.
"Aku tidak yakin ini keputusan yang tepat," Aelia berkata, suaranya bergetar. "Apa yang akan terjadi jika kita membuka buku itu? Apakah kita siap untuk menghadapi apa yang ada di dalamnya?"
Leo mendekat ke podium, tangannya hampir menyentuh buku itu. "Kadang-kadang, kita tidak diberi pilihan selain untuk menghadapi kenyataan. Kita harus membuka buku itu, Aelia. Itu satu-satunya cara untuk mengungkap kebenaran."
Aelia melangkah lebih dekat, meskipun hatinya penuh keraguan. Ia ingin tahu, tapi di sisi lain, rasa takut yang tidak terdefinisikan menggelayuti pikirannya. Namun, keinginan untuk mengungkap rahasia yang tersembunyi di dunia ini lebih kuat daripada ketakutannya.
Leo membuka buku itu perlahan. Begitu halamannya terbuka, sebuah cahaya yang begitu terang menyembur keluar, memancar ke seluruh ruang. Aelia hampir terjatuh karena kekuatan yang luar biasa itu, tetapi Leo memegangi tangannya dengan kuat. Di atas halaman pertama, tulisan yang tidak mereka pahami mulai muncul, berubah-ubah seperti kodifikasi yang hidup.
Aelia terpesona dan takut sekaligus. Kata-kata itu mulai terangkai, dan meskipun tak satu pun bisa ia baca, ia bisa merasakan getaran energi yang berasal dari buku itu, seakan-akan dunia mereka sedang disusun kembali. Waktu terasa berhenti, dan segala sesuatu yang mereka kenal seakan menghilang.
"Ini bukan hanya sebuah buku," Leo berbisik, matanya tertuju pada halaman yang seolah bergerak. "Ini adalah kesadaran yang lebih besar—sebuah entitas yang mengendalikan segala sesuatu. Ini adalah alat yang akan mengubah segalanya."
Aelia memegang erat lengan Leo, menatap dengan cemas ke halaman yang terus berkembang. Apa yang akan mereka temukan dalam halaman-halaman itu? Apakah mereka siap untuk menghadapi kekuatan yang lebih besar dari apapun yang pernah mereka bayangkan?
"Leo..." Aelia memanggilnya dengan suara yang hampir tidak terdengar, suaranya penuh dengan keraguan. "Apa yang akan kita lakukan setelah ini?"
Leo menatapnya dengan mata penuh tekad. "Kita tidak punya pilihan. Kita harus melangkah lebih jauh. Apa pun yang ada di depan kita, kita harus hadapi bersama."
Begitu kata-kata itu terucap, halaman terakhir buku itu terbuka dengan sendirinya, dan sebuah gambar besar muncul di hadapan mereka. Gambar itu adalah gambaran dunia yang hancur, dengan bayangan-bayangan yang merobek langit dan tanah, menggambarkan kehancuran yang tak terhindarkan. Namun, di pusatnya, ada sebuah sosok—seorang pria berpakaian hitam dengan mata yang memancarkan cahaya, seolah-olah entitas itu adalah pusat dari semua kekuatan yang mengendalikan dunia ini.
Aelia dan Leo saling menatap. Apa arti gambar itu? Apakah itu menunjukkan siapa yang mengendalikan dunia ini? Dan bagaimana mereka bisa menghentikan kehancuran yang akan datang?
Dalam kegelapan yang mencekam itu, mereka tahu satu hal pasti: mereka baru saja membuka jalan menuju takdir yang tak terelakkan, dan mereka harus menemukan cara untuk bertahan, meskipun dunia yang mereka kenal akan hancur di sekitar mereka.
Aelia dan Leo terdiam lama, mata mereka tertuju pada gambar pria berpakaian hitam yang memancarkan cahaya. Gambaran itu menakutkan, seolah-olah menyiratkan bahwa kekuatan yang mereka hadapi bukanlah hal biasa. Ini adalah kekuatan yang terjalin erat dengan takdir dunia ini, dan Aelia bisa merasakan di dalam dirinya sebuah kekhawatiran yang semakin dalam.
"Siapa dia?" Aelia bertanya dengan suara parau, meskipun ia sudah bisa menebak bahwa sosok itu mungkin adalah kunci dari semua ini.
Leo masih terpaku, tangan kanannya meraih bagian dari buku yang menampilkan gambar tersebut. "Aku tidak tahu. Tapi kita harus menemukannya. Ini mungkin bagian dari teka-teki yang harus kita pecahkan."
Aelia mengangguk pelan, meskipun pikirannya dipenuhi dengan keraguan. Jika sosok itu memang pusat dari segala kekuatan, bagaimana mereka bisa menghentikannya? Bagaimana mereka bisa melawan sesuatu yang sepertinya mengendalikan seluruh dunia?
Namun, sebelum mereka bisa melanjutkan percakapan, sebuah suara terdengar dari balik ruangan yang gelap. Suara itu datang perlahan, seperti bisikan yang terdampar dalam ruang yang luas dan hampa.
"Apakah kalian siap untuk menghadapinya?"
Aelia dan Leo terkejut, keduanya menoleh dengan cepat. Dari balik bayangan gelap, sebuah sosok mulai muncul. Seorang wanita muda, berambut hitam panjang yang mengalir seperti air, dengan mata berwarna perak yang berkilau dalam kegelapan.
"Apa yang kau inginkan?" tanya Aelia, suaranya penuh kewaspadaan. Ia tidak bisa memprediksi siapa wanita ini atau apa tujuannya.
Wanita itu tersenyum tipis. "Aku adalah penjaga dunia ini, penjaga dari rahasia yang telah lama tersembunyi. Kalian baru saja memulai perjalanan yang lebih besar dari yang kalian bayangkan."
Leo memandangnya dengan serius. "Apa maksudmu? Kami mencari kebenaran tentang sosok dalam buku itu."
Wanita itu mengangguk. "Kalian sudah menemukan petunjuk pertama, tetapi perjalanan kalian masih panjang. Untuk mengungkapkan kebenaran yang lebih besar, kalian harus siap menghadapi bayangan yang tersembunyi di balik cermin."