Langkah mereka semakin terasa berat, seperti ada yang menahan di setiap sudut jalan. Pria misterius itu memimpin mereka tanpa berkata-kata lebih lanjut, namun tatapannya semakin tajam, seolah-olah ia ingin memastikan mereka tidak kehilangan jejak. Aelia dan Leo saling berpandangan, sama-sama merasakan ketegangan yang semakin menggelayuti udara.
"Apa yang sebenarnya terjadi di dunia ini?" tanya Aelia akhirnya, memecah keheningan yang semakin menekan. "Kenapa dunia ini bisa hancur seperti ini?"
Pria itu berhenti sejenak, menoleh dengan ekspresi yang sulit dibaca. "Dunia ini, seperti dunia kalian, pernah hidup. Semua berawal dari keserakahan manusia, dari keinginan untuk mengendalikan lebih banyak kekuatan dari yang seharusnya. Para penjaga dunia ini mulai bereksperimen dengan hal-hal yang tak seharusnya mereka sentuh. Mereka membuka pintu menuju dimensi lain, yang lebih gelap dan berbahaya."
"Jadi, ini semua karena manusia?" Leo bertanya, suaranya dipenuhi kecemasan.
Pria itu mengangguk pelan. "Bukan hanya manusia. Ada kekuatan yang lebih besar, lebih tua dari waktu itu sendiri. Mereka yang mencoba untuk mengendalikan dunia ini tanpa memahami apa yang mereka hadapi. Sekarang, kekuatan itu bangkit, dan dunia ini terjebak dalam kegelapan. Kalian berdua... kalian adalah satu-satunya yang bisa menghentikan ini. Tapi hanya jika kalian bisa menemukan inti dari masalah ini."
"Apa itu?" tanya Aelia dengan suara bergetar.
"Kalian harus menemukan dan menghancurkan kunci yang menahan dunia ini," jawab pria itu dengan suara pelan. "Cermin adalah bagian dari kunci itu. Namun ada satu lagi tempat yang harus kalian datangi, di mana kekuatan utama ini bersemayam."
Aelia dan Leo saling berpandangan, ketegangan makin merayapi tubuh mereka. Mereka telah mengetahui bahwa petualangan ini lebih berbahaya dari yang mereka bayangkan, dan tak ada jalan mundur lagi.
"Di mana tempat itu?" tanya Leo, suara tegasnya berusaha menutupi rasa takut yang mendera.
Pria itu menoleh, wajahnya kini terlihat lebih serius. "Tempat itu... terletak di jantung kota ini. Ada sebuah menara yang terlupakan oleh waktu, tak seorang pun tahu keberadaannya. Tapi kalian harus menemukannya. Itulah tempat kekuatan yang mengancam dunia ini bersemayam."
"Apa yang harus kami lakukan setelah menemukannya?" Aelia bertanya, suaranya rendah.
"Setelah menemukannya, kalian harus menghancurkannya," jawab pria itu, wajahnya semakin gelap. "Namun hati-hati, karena kekuatan yang melindunginya tidak akan membiarkan kalian begitu saja."
Mereka melanjutkan perjalanan mereka, menyusuri jalanan kota yang semakin sepi dan hancur. Setiap langkah yang mereka ambil semakin membawa mereka lebih dalam ke dalam kegelapan, seolah-olah dunia ini sendiri menahan nafasnya, menunggu keputusan mereka.
Ketika mereka berbalik di sebuah tikungan, sebuah gedung besar muncul di depan mereka. Bangunannya kokoh, namun terlihat runtuh di beberapa sudut. Ini adalah sebuah menara—menara yang dimaksud oleh pria misterius itu. Aelia menatapnya dengan rasa cemas yang semakin kuat, merasa seperti sesuatu yang jahat sedang mengintai mereka dari dalam bangunan itu.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Aelia, suaranya terdengar gemetar.
Pria itu menatap menara dengan tatapan tajam. "Masuki menara itu, dan kalian akan menemukan apa yang kalian cari. Tapi jangan berharap perjalanan kalian akan mudah."
Mereka pun mulai memasuki menara, setiap langkah mereka terasa seperti langkah menuju takdir yang tak terelakkan. Pintu menara itu terbuka dengan suara gemeretak yang keras, seolah memperingatkan mereka agar tidak melanjutkan.
Namun, mereka tidak punya pilihan. Langkah demi langkah, mereka mendaki tangga yang berdebu dan penuh serpihan, menuju tempat yang belum mereka ketahui. Aelia merasakan ketegangan yang semakin menggigit kulitnya, dan meskipun Leo berjalan di sampingnya, Aelia merasa lebih kesepian daripada sebelumnya.
Tiba-tiba, suara gemuruh terdengar dari dalam menara. Langit di luar sepertinya bergemuruh, dan tanah di bawah kaki mereka bergetar. Ada sesuatu yang bergerak di dalam menara—sesuatu yang tidak mereka lihat, tetapi mereka bisa merasakannya.
"Leo," bisik Aelia, suara penuh ketakutan. "Apa yang sedang terjadi?"
Leo mengangguk, matanya tajam mencari jawaban di kegelapan. "Ada sesuatu yang sedang mengawasi kita. Kita harus tetap bergerak."
Di depan mereka, sebuah pintu besar terbuka perlahan, mengungkapkan sebuah ruang gelap yang hanya diterangi oleh cahaya remang-remang. Di tengah ruang itu, sebuah objek mengkilap terlihat berkilauan. Mereka mendekat, namun ketegangan semakin meningkat. Aelia bisa merasakan jantungnya berdetak lebih cepat.
Di atas objek itu, ada ukiran yang tak jelas terbaca, namun sepertinya menyiratkan sebuah peringatan yang sangat penting.
"Apa itu?" Aelia bertanya, tapi suaranya serak, seolah-olah ruang itu menahan suaranya.
Leo menatapnya dengan serius. "Itulah kunci yang kita cari. Tapi berhati-hatilah, Aelia. Jangan sentuhnya."
Namun, sebelum mereka sempat bergerak, cahaya dari objek itu mulai menyebar, meresap ke udara sekitar mereka. Langit di luar menara berubah menjadi warna merah pekat, dan angin kencang berhembus, mengganggu segala yang ada di sekitar mereka.
Sekarang, dunia ini tidak akan pernah sama lagi.
Cahaya yang bersinar dari objek itu semakin terang, seolah mencoba menarik mereka ke dalam jangkauannya. Aelia dan Leo saling menatap, rasa takut yang lebih besar kini mencekam hati mereka. Udara di sekitar mereka terasa semakin padat, penuh dengan energi yang asing, dan sesuatu yang tak terdefinisikan mengintai di balik kegelapan.
"Apa yang terjadi?" tanya Aelia dengan suara tergetar, matanya melebar ketika melihat benda itu mulai bergetar.
Leo, meskipun ketakutan, mencoba untuk tetap tenang. "Jangan sentuh apapun. Itu pasti jebakan."
Tapi sebelum mereka sempat berbuat apa-apa, cahaya dari objek tersebut membesar, menyelimuti ruangan dengan kilatan yang mengaburkan pandangan mereka. Mereka terpaksa menutup mata karena cahaya itu terasa terlalu kuat, hingga seolah bisa membakar kulit mereka.
"Ada sesuatu yang datang!" seru Leo, mencoba menahan ketegangan dalam suaranya.
Sekilas, terdengar suara gemuruh yang semakin mendekat, seiring dengan suara bisikan tak jelas yang datang dari segala arah. Lalu, dalam sekejap, bayangan hitam yang besar muncul di hadapan mereka.
Bayangan itu bergerak cepat, siluetnya gelap dan tidak bisa dikenali. Aelia merasakan sebuah kekuatan yang sangat kuat mengalir dari bayangan itu, seakan siap untuk menghancurkan mereka dengan sekejap.
"Lari!" Leo berteriak, menarik tangan Aelia dengan keras.
Namun, saat mereka berbalik, pintu yang mereka lewati tadi tiba-tiba tertutup dengan suara keras, mengurung mereka di dalam ruang gelap tersebut. Ruangan itu kini seolah menjadi hidup, dengan dinding-dinding yang terasa bergerak, berubah bentuk dan menyusut, membuat mereka merasa terperangkap.