Waktu terasa terhenti sejenak. Aelia dan Leo berdiri di tengah ruangan yang kini dipenuhi dengan cahaya yang berputar-putar. Sesuatu yang tidak tampak, tapi terasa kuat dan mendalam, seperti gelombang energi yang meresap ke dalam tubuh mereka.
Aelia merasakan kepalanya berdenyut, pikirannya dipenuhi pertanyaan yang tak terjawab. Dunia yang terlupakan. Kekuatan yang tersembunyi. Apa artinya semua ini bagi mereka? Bagi kehidupan mereka? Bagi dunia yang mereka kenal?
Dia memandang Leo. Mata mereka bertemu, dan di sana, dalam tatapan itu, ada rasa yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Leo selalu menjadi orang yang tenang, yang sering kali menyembunyikan emosinya, tetapi kali ini dia terlihat begitu terikat dengan keputusan yang harus mereka buat. Seolah dia tahu bahwa pilihan ini akan menentukan segalanya.
"Leo," Aelia mulai, suaranya bergetar. "Apakah kita benar-benar siap untuk ini? Dunia yang terlupakan... apakah kita bisa menghadapinya?"
Leo menatap cincin yang ada di tangannya, merenung. Cincin itu seakan menjadi pusat kekuatan yang memancar, namun juga sarat dengan ancaman. Dia bisa merasakan kekuatan yang mengalir darinya, namun pada saat yang sama, dia juga merasakan beban yang tak terbayangkan. Beban yang bisa mengubah segalanya, jika mereka tidak hati-hati.
"Aku tidak tahu," jawab Leo perlahan. "Tapi kita tidak punya banyak pilihan, Aelia. Dunia ini... kita tahu ada sesuatu yang tidak beres, sesuatu yang disembunyikan dari kita. Dan sekarang, kita terpilih untuk membuka semuanya. Kalau kita menolak, kita hanya akan terus hidup dalam kebohongan yang sudah lama ada."
Aelia menggigit bibirnya. Mungkin dia benar. Mereka telah melewati begitu banyak ujian dan kesulitan, tetapi ini adalah ujian yang berbeda. Keputusan yang akan mengubah takdir mereka dan mungkin juga nasib dunia yang mereka kenal.
Aelia mengangkat tangan, meraih cincin itu dari tangan Leo. Saat jarinya menyentuh permukaan cincin, tubuhnya kembali merasa kaku, seolah waktu kembali melambat. Seketika itu, suara yang familiar terdengar lagi, kali ini lebih penuh dengan urgensi.
"Pemegang kunci, saatnya telah tiba. Pilihan kalian harus diambil sekarang. Dunia yang terlupakan menunggu untuk dibangunkan, atau mungkin untuk dihancurkan. Kekuatan ada di tangan kalian."
Aelia menatap cincin itu dengan mata yang penuh tekad. Meski dia takut, meski dia tidak tahu apa yang akan terjadi, dia tahu satu hal: mereka tidak bisa mundur lagi.
"Aku tidak tahu apa yang akan kita hadapi setelah ini," kata Aelia dengan suara yang tegas, meskipun ada gemuruh ketidakpastian di dalam dadanya. "Tapi aku yakin kita tidak bisa membiarkan dunia ini terus berada dalam kegelapan."
Leo mengangguk, tanpa ragu lagi. "Kita akan menghadapi apa pun yang datang. Kita sudah sampai sejauh ini."
Dengan satu gerakan, Aelia mengenakan cincin itu di jarinya. Begitu cincin itu menyentuh kulitnya, ada sensasi yang aneh—seperti ada aliran energi yang mengalir melalui tubuhnya, dan saat itu juga, seolah seluruh dunia berputar di sekeliling mereka. Ruangan di sekitar mereka mulai menghilang, digantikan oleh pemandangan yang asing dan luar biasa.
Dalam sekejap mata, mereka berada di tempat yang tidak mereka kenal. Sebuah dunia yang tampaknya terletak di luar waktu dan ruang. Langit berwarna keunguan, dan langit yang sebelumnya cerah kini dipenuhi dengan awan yang bergerak begitu cepat. Tanahnya tampak seperti kristal yang pecah, memancarkan cahaya terang dan gelap dalam pola yang tidak beraturan.
Aelia menarik napas, terpesona dan sekaligus terkejut. "Kita... kita ada di sini," katanya dengan suara bergetar. "Di dunia yang terlupakan."
Leo memandang sekelilingnya, matanya mengerutkan alis. "Ini... tidak seperti yang kita bayangkan."
Tiba-tiba, sebuah suara bergema di udara, begitu keras dan dalam, seolah berasal dari dalam tanah itu sendiri. "Kalian telah membuka pintu. Tetapi tidak ada jalan yang tanpa konsekuensi. Dunia ini... dan kalian... kini terikat."
Aelia dan Leo menoleh dengan cepat, mencari sumber suara itu. Dari kejauhan, sebuah sosok muncul, tinggi dan bercahaya, berjalan mendekat dengan langkah yang tenang namun pasti. Wajahnya kabur, tidak bisa dikenali, namun ada aura kekuatan yang sangat kuat yang mengelilinginya.
"Siapa kamu?" tanya Aelia, dengan suara penuh keheranan dan ketegasan. "Apa yang terjadi dengan dunia ini?"
Sosok itu berhenti tepat di depan mereka, dan matanya yang kosong menatap mereka dengan tajam. "Aku adalah penjaga dunia ini, penjaga yang terperangkap dalam waktu yang tak berujung. Kalian yang memilih untuk membuka pintu ini, kini harus menanggung akibatnya. Dunia yang kalian lihat di sekitar kalian adalah dunia yang telah terpecah, terbagi oleh waktu dan kekuatan yang lebih besar dari yang kalian pahami."
Aelia menelan ludah, gemetar. Dunia yang terpecah? Apa yang terjadi di sini?
"Apakah kita bisa mengembalikannya?" tanya Leo dengan suara tegas, namun ada kecemasan yang terpendam.
Sosok itu tersenyum samar, sebuah senyum yang penuh dengan misteri dan rahasia yang belum terungkap. "Itu bukanlah pilihan yang mudah. Kalian harus menemukan kunci terakhir. Dan untuk menemukannya, kalian harus mengorbankan sesuatu yang lebih besar daripada yang kalian bayangkan."
Aelia menggigit bibirnya. Ini lebih besar dari yang dia bayangkan, dan mereka baru saja mulai memahami betapa berbahayanya dunia yang mereka masuki.
Dengan cincin yang sekarang ada di jari Aelia, mereka telah memasuki dunia yang terpecah, dan perjalanan mereka untuk mengembalikan keseimbangan dunia itu baru saja dimulai.
Aelia menatap sosok bercahaya itu, matanya penuh dengan rasa takut dan kebingungan. Meski sosok itu terlihat tenang, namun ada sesuatu yang mengerikan dalam aura yang ditinggalkan oleh kata-katanya. Dunia yang terpecah? Kunci terakhir? Dan pengorbanan yang lebih besar dari apa yang mereka bayangkan?
"Apakah ada cara untuk memperbaikinya tanpa harus mengorbankan sesuatu yang besar?" tanya Aelia, suaranya bergetar. Tak ada jawaban yang langsung datang. Hanya keheningan yang mencekam.
Sosok bercahaya itu menatap mereka dengan tatapan yang begitu dalam, seolah mencoba melihat sampai ke kedalaman jiwa mereka. Kemudian, dengan suara yang lebih dalam dan berat, ia berbicara lagi. "Terkadang, ada beban yang tidak bisa dihindari. Dunia ini terpecah oleh kesalahan yang dilakukan oleh mereka yang datang sebelum kalian. Kekuatan besar telah memecahkannya, dan sekarang, kalian harus memilih. Mengembalikan keseimbangan atau membiarkan dunia ini terus tenggelam dalam kehancuran."
Aelia dan Leo saling bertukar pandang. Kata-kata sosok itu semakin membebani pikiran mereka. Kekuatan besar, dunia yang terpecah, pengorbanan. Semua itu terasa begitu berat, terlalu berat untuk dipikul oleh dua orang biasa seperti mereka.
"Kami tidak tahu apa yang harus dilakukan," Leo akhirnya mengucapkan kalimat yang sudah lama tertahan. "Apa yang dimaksud dengan kunci terakhir? Apa yang harus kami cari?"
Sosok bercahaya itu melangkah maju, langkahnya menggoreskan jejak cahaya di tanah yang pecah dan berkilau. Ia mengulurkan tangan, dan tiba-tiba, sebuah gambar muncul di udara di depan mereka. Gambar itu seperti peta yang sangat besar, penuh dengan simbol-simbol yang tidak mereka mengerti.