Cahaya yang menyilaukan itu mulai meredup seiring dengan detik-detik berlalu. Namun, keheningan yang tercipta justru semakin menggigit. Aelia berdiri terpaku, matanya terpejam rapat, seolah tak berani melihat kenyataan yang sudah berada di depan mereka. Leo, dengan ekspresi penuh tekad, berdiri di hadapannya. Mereka tahu bahwa keputusan yang akan mereka ambil tidak bisa diubah, dan dunia mereka akan berubah selamanya.
"Aelia..." Leo berkata pelan, suaranya hampir tenggelam oleh keheningan yang mencekam. "Aku tidak ingin kamu merasakan sakit. Ini adalah pilihanku. Aku yang akan mengorbankan diriku."
Aelia menatap Leo, matanya yang semula penuh dengan keraguan kini dipenuhi dengan rasa takut yang tak bisa dihindari. "Leo, jangan... Jangan lakukan ini." Suaranya bergetar. "Kita bisa mencari jalan lain. Ada selalu jalan lain. Tidak harus dengan cara ini."
Leo menatapnya dalam-dalam. Ada keheningan dalam tatapannya, seolah dia sudah membuat keputusan yang tak bisa dibatalkan lagi. "Tidak ada jalan lain, Aelia. Ini adalah jalan yang harus kita tempuh. Dunia ini telah hancur, dan hanya dengan pengorbanan sejati kunci ini bisa dibuka. Aku siap."
Aelia melangkah maju, meraih tangan Leo dengan gemetar. "Leo, aku tidak bisa kehilanganmu," ujarnya dengan suara tertahan, air mata mulai mengalir di pipinya. "Kita sudah melalui begitu banyak bersama. Aku tidak bisa..."
Leo menatapnya, wajahnya menunjukkan keteguhan yang sulit untuk digoyahkan. "Kita sudah melalui begitu banyak bersama, Aelia. Dan jika aku bisa mengorbankan diriku demi menyelamatkanmu, demi menyelamatkan dunia ini, maka aku akan melakukannya. Ini bukan hanya untuk kita berdua. Ini untuk semua orang yang masih punya harapan."
Aelia tak mampu berkata apa-apa. Keputusannya semakin terjepit, tak ada pilihan lain selain mendukung keputusan Leo. Meskipun hatinya teriris, ia tahu bahwa Leo sudah memutuskan dan tidak akan ada yang bisa mengubahnya.
Cahaya dari kotak itu kembali bersinar terang, kali ini lebih kuat, seolah meresapi seluruh tubuh mereka. Leo melangkah maju, meletakkan tangan kanannya pada kotak tersebut. Begitu ia menyentuhnya, sebuah suara yang dalam dan berat bergema di seluruh ruangan.
"Pengorbanan telah dilakukan," suara itu berkata, "Kunci telah dibuka."
Tiba-tiba, sebuah mekanisme terdengar bergema, dan kotak itu terbuka perlahan. Di dalamnya, sebuah benda bercahaya yang tidak mereka kenal terbaring dengan anggun. Benda itu tampak seperti sebuah kristal besar yang memancarkan cahaya biru terang. Di sekitar kristal itu, aura gelap menyelimuti ruangan, menambah ketegangan yang mengancam.
Namun, Aelia masih berdiri di tempatnya, menatap Leo dengan mata yang penuh kebingungan. "Leo," suaranya hampir terpecah, "Kamu tidak perlu melakukan ini."
Leo menoleh ke arahnya, senyum kecil muncul di bibirnya, meski ada ketegangan di wajahnya. "Aku tidak bisa mundur, Aelia. Dunia kita bergantung pada keputusan ini. Aku akan baik-baik saja."
Seiring dengan perkataan Leo, kristal itu mulai mengeluarkan cahaya yang semakin kuat, memenuhi seluruh ruang. Aelia merasa seperti ditarik oleh kekuatan yang tidak terlihat, tubuhnya gemetar. Ia bisa merasakan ada sesuatu yang berubah di dalam dirinya, sesuatu yang mengikatnya dengan Leo lebih kuat dari sebelumnya.
Tiba-tiba, kristal itu mengeluarkan suara keras dan pecah menjadi ribuan serpihan cahaya yang melesat ke segala arah. Dalam sekejap, seluruh kuil itu terhenti, dan dunia sekitar mereka seperti terhenti pula. Aelia merasakan tubuhnya dipenuhi dengan energi yang tidak bisa ia kendalikan.
Kemudian, dalam sekejap mata, semuanya berubah.
Saat serpihan cahaya dari kristal itu menyebar, Aelia merasa tubuhnya seolah tercerai berai dan kemudian disatukan kembali dalam sekejap. Rasa hangat dan dingin bersatu di pori-porinya. Angin menderu dalam telinga, dan penglihatannya putih sempurna selama beberapa detik sebelum dunia pelan-pelan kembali membentuk dirinya.
Ia berdiri di tengah ruang kuil yang kini tak lagi gelap. Semua dindingnya bersinar, motif-motif kuno yang tadinya tersembunyi kini menyala dalam warna emas dan biru, bagaikan nadi dari bangunan itu sendiri.
Tapi satu hal langsung membuat napasnya tercekat: Leo tidak ada di sana.
"Leo?" panggilnya, panik. "Leo!!"
Suara gemanya menggema, tapi tidak ada jawaban. Ia berlari ke tempat di mana Leo terakhir kali berdiri, tempat di mana kristal itu berada. Hanya lantai yang retak dengan bentuk bintang—seolah menyimpan energi yang terlalu besar untuk ditanggung.
Aelia berlutut di sana, tangannya meraba permukaan hangat batu itu. Air mata mulai mengalir dari pipinya. "Kau berjanji akan baik-baik saja..." bisiknya, suara pecah.
Tiba-tiba, angin lembut berhembus dari arah belakangnya. Ia menoleh cepat.
Dan di sana, berdiri sesosok siluet transparan bercahaya. Wajah yang ia kenal. Mata yang selalu menatapnya dengan keteguhan yang sama. Leo.
"Aelia..." suara itu bergema, lembut, nyaris tak nyata. "Aku di sini, tapi aku bukan lagi seperti dulu."
Aelia melangkah maju dengan cepat, mencoba menyentuhnya, namun tangannya menembus tubuh Leo. Ia tercekat. "Tidak... kau... apa maksudmu?"
"Aku tak bisa kembali," jawab Leo perlahan. "Tubuhku telah menyatu dengan energi kunci. Tapi jiwaku... masih bisa tinggal sejenak. Hanya untuk menyampaikan ini."
Aelia menatapnya dengan mata berkaca-kaca. "Kau bilang ini akan menyelamatkan dunia. Tapi mengapa harus kau? Kita seharusnya—"
"—melakukannya bersama?" potong Leo lembut. "Kita melakukannya, Aelia. Kau menyelamatkanku berkali-kali. Tapi kali ini, biarkan aku menjadi orang yang menyelamatkanmu. Dan semua orang."
Sinar dari tubuh Leo mulai melemah.