Langkah Aelia melambat saat angin menggugurkan debu halus dari tanah berbatu yang ia pijak. Dataran tinggi itu tandus, nyaris tak bervegetasi, dan suhu turun drastis meski matahari belum sepenuhnya tenggelam. Di hadapannya, Menara Terakhir berdiri megah dan gelap, seperti tulang punggung raksasa yang menusuk langit kelabu.
Tapi yang membuat Aelia menahan napas bukan hanya bentuk menara itu—melainkan cahaya yang memancar darinya.
Cahaya yang tampaknya... hidup.
Warnanya berubah-ubah: biru, ungu, kadang menyala putih menyilaukan, seperti mencoba memikat siapa pun yang memandang. Beberapa kali Aelia merasa cahaya itu memanggil namanya dalam pikirannya, membujuknya untuk menyerah, mendekat, dan 'kembali'.
Namun ia sudah belajar dari bayangan Leo.
"Menara ini bukan hanya ujian terakhir," gumamnya. "Ia juga penjara bagi kebenaran."
---
Ketika malam benar-benar datang, Aelia mendirikan perkemahan kecil di balik batu besar. Ia tidak berani mendekat saat gelap total. Dari kejauhan, suara seperti lonceng berdering pelan dari arah menara, bergema bersamaan dengan gemuruh tanah. Suaranya menggetarkan tulang.
Saat ia memejamkan mata, mimpi datang begitu saja.
Ia melihat seorang lelaki berdiri di puncak menara, memegang payung merah yang kini robek seperti sayap. Wajahnya tidak jelas, tetapi tubuhnya memancarkan aura yang familiar.
"Kael?" bisiknya dalam mimpi.
Lelaki itu menoleh separuh.
"Jika kau tiba, kau harus memilih," katanya. "Kebenaran atau dunia. Hidupmu atau semua yang kau lindungi."
Aelia ingin bertanya lebih jauh, tapi mimpi itu pecah seperti cermin dihantam palu. Ia terbangun dengan jantung berdetak cepat, keringat dingin membasahi lehernya.
---
Pagi hari, ia memulai pendakian ke menara. Jalannya licin dan curam. Batu-batu menganga seperti rahang buas. Tidak ada penanda, tidak ada jalan pasti. Namun ia melangkah, satu-satu.
Setelah berjam-jam berjalan, ia tiba di depan gerbang besar menara. Permukaan logamnya tertutup simbol-simbol kuno, dan saat ia menyentuhnya, suara gemetar menggema dari dalam.
Gerbang terbuka perlahan.
Di dalamnya gelap total. Tapi satu jalur cahaya ungu terbentang lurus di tengah lantai.
Dengan napas panjang, Aelia masuk.
Langkahnya bergema. Cahaya di sekelilingnya bergerak seperti air. Lalu suara itu terdengar.
"Selamat datang, Aelia Elburn."
Suara pria.
Dalam, namun tak asing.
Ia berbalik. Dan di sana, berdiri seorang pria muda berpakaian gelap, memegang payung merah yang utuh dan bersinar.
"Kael?" bisiknya nyaris tak terdengar.
Pria itu tersenyum kecil. "Sudah waktunya kita bicara. Dan waktumu... hampir habis."
Aelia tak bergerak. Tangannya mengepal, lututnya lemas, dan dunia di sekitarnya seakan membeku. Kael berdiri hanya beberapa langkah di depannya—tapi ia tampak... tak hidup sepenuhnya. Wajah itu memang milik Kael, tapi matanya mengilap seperti kristal, seolah bukan lagi Kael yang ia kenal.
"Apa ini...?" Aelia melangkah pelan. "Kael, benarkah ini kau?"
Pria itu—Kael atau sesuatu yang menyerupainya—menunduk, lalu membuka payung merah di tangannya. Payung itu berpendar lembut, menyorot ke sekeliling ruangan seperti lentera.
"Aku adalah kenangan," jawabnya. "Namun juga bukan. Aku bagian darinya... dan dari dirimu."
Aelia menahan napas. "Maksudmu?"
"Menara ini tidak hanya menguji keberanian. Ia mengungkap yang tersembunyi, menyulam ulang apa yang retak. Aku... terbentuk dari semua yang kau sesali, dan semua yang Kael korbankan."
Sebuah gema bergema pelan dari dinding menara, seperti tawa dan tangis berbaur.
"Di sinilah tempatnya," lanjut Kael-bayangan, "kebenaran terakhir terkubur."
---