Lelaki Berpayung Merah

Penulis N
Chapter #17

17

Langkah Aelia menyusuri jalan tanah menuju menara tua di ujung desa. Setiap detik yang berlalu terasa seperti gema dari masa lalu yang memanggilnya kembali. Di genggamannya, gantungan kunci payung merah itu berkilau samar, seolah menunjukkan jalan.

Menara itu terlihat lebih besar saat didekati. Dindingnya dipenuhi sulur tanaman rambat, jam tua di atasnya berdetak... mundur. Detak itu lembut, tapi ada sesuatu yang ganjil di balik ritmenya—seolah waktu di dalam menara itu tak berjalan seperti dunia lain.

Pintu menara terbuka sedikit. Aelia menelan ludah, lalu mendorongnya perlahan.

Suara engsel yang berderit menyambutnya, lalu aroma debu dan kayu tua menguar. Di dalam, lorong sempit melingkar naik ke atas. Dinding-dindingnya dipenuhi coretan, sebagian berupa simbol aneh, sebagian lainnya... nama.

Dan di salah satu dinding, terpahat dalam ukiran rapi:

KAEL

Tangannya menyentuh nama itu. Hangat.

Dengan jantung berdegup cepat, ia mulai menaiki tangga menara. Setiap anak tangga terasa seperti melintasi lapisan waktu. Ada suara bisikan halus, suara-suara kenangan: tawa, pertengkaran, pelukan, janji.

Ketika akhirnya mencapai puncak menara, Aelia mendapati sebuah ruangan bundar dengan jendela besar menghadap ke arah desa. Di tengah ruangan, sebuah kursi kayu menghadap ke luar, dan di atasnya...

...payung merah.

Bukan gantungan, bukan miniatur—ini adalah payung yang sama, yang pernah Kael bawa saat mereka pertama kali bertemu di tengah badai.

Perlahan, Aelia mendekat. Tangannya meraih payung itu.

Lalu sesuatu terjadi.

Udara di sekitar bergetar. Jam besar di atasnya berhenti berdetak. Dunia sejenak membeku.

Dan dalam keheningan itu, sebuah cahaya muncul di dekat kursi.

Bukan bayangan. Bukan ilusi.

Seseorang berdiri di sana.

Berpakaian hitam seperti biasa. Tatapan tajam, namun tenang. Dan di matanya, tergurat luka yang tak pernah benar-benar hilang.

"Kael..." bisik Aelia.

Sosok itu tersenyum tipis. "Kau datang."

"Apakah ini nyata?" tanyanya, hampir takut jawaban yang datang.

Kael melangkah pelan ke arahnya. "Seandainya pun ini hanya bayangan... apakah perasaanmu akan berbeda?"

Aelia menatap mata itu. "Tidak."

Mereka berdiri begitu dekat kini. Jarak yang dahulu dipisahkan oleh takdir, waktu, dan pilihan, kini sirna dalam satu detik.

Kael mengangkat tangannya, menyentuh wajah Aelia. "Aku memilih tetap tinggal... di sini. Di ruang antara waktu. Supaya kau bisa punya dunia yang damai."

Air mata Aelia jatuh. "Aku tidak ingin dunia damai tanpa dirimu."

Kael tersenyum. "Tapi bukankah aku tetap hidup, selama kau mengingatku?"

Ia menggenggam tangan Aelia, menaruh sesuatu di sana—sebuah jam kecil, jam saku yang terukir halus dengan nama mereka berdua.

"Jika suatu hari waktu mulai retak lagi... kau tahu di mana harus mencariku," bisiknya.

Cahaya di sekelilingnya mulai memudar.

Aelia menggenggam erat tangannya. "Jangan pergi..."

Lihat selengkapnya