Langkah Aelia menggema di sepanjang lorong gelap, terasa semakin panjang, namun tidak pernah sampai pada akhirnya. Setiap dinding yang ia lewati terasa begitu dingin, seolah menyimpan rahasia yang terlalu lama terkubur dalam waktu. Cahaya yang semakin terang di ujung lorong seakan mengundangnya untuk terus maju, meski tubuhnya mulai merasakan kelelahan yang luar biasa.
Payung merahnya berkibar perlahan di tangannya, seolah terikat pada takdir yang menuntun ke tempat ini. Aelia tahu, ini bukan hanya perjalanan fisik. Ini adalah perjalanan spiritual—perjalanan untuk mengungkap kembali yang terlupakan, untuk membuka pintu yang selama ini terkunci dalam setiap hembusan waktu.
Semakin mendekati ujung lorong, cahaya itu semakin kuat. Aelia bisa merasakan gelombang energi yang begitu halus namun penuh kekuatan. Seperti getaran dari sebuah dunia yang berbeda, dunia yang mungkin hanya bisa dipahami oleh mereka yang bersedia berjalan hingga ujungnya.
Aelia mempercepat langkahnya. Hati yang sebelumnya penuh keraguan kini dipenuhi rasa penasaran dan harapan yang tak terucapkan. Apakah ini akhirnya, jawabannya? Apakah inilah saat di mana semua yang ia cari akan terungkap?
Dan akhirnya, ia sampai. Di ujung lorong itu, sebuah ruangan besar terbuka lebar. Di tengahnya, sebuah altar besar terbuat dari batu putih yang bersinar lembut, dan di atasnya, sebuah simbol aneh terpahat di permukaan. Cahaya yang berasal dari altar itu memancar dengan keindahan yang sulit diungkapkan. Seolah ada kekuatan yang sangat besar yang terkandung di dalamnya, menunggu untuk dilepaskan.
Namun, di tengah altar, Aelia melihat sesuatu yang membuat jantungnya berdegup lebih kencang.
Kael.
Dia berdiri di sana, di hadapan altar, tampak seperti bagian dari cahaya itu sendiri. Seperti sebuah ilusi, atau mungkin, sesuatu yang lebih dari sekadar manusia.
Aelia mendekat, tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. "Kael?" suaranya hampir tak terdengar. Suara itu hanya terdengar sebagai bisikan yang tertahan.
Kael menoleh, senyum tipis di wajahnya. "Aelia... Kamu akhirnya datang."
Suara itu, yang selalu dikenali oleh hatinya, kini terdengar begitu nyata. Begitu dekat, meski ada jarak yang tidak bisa dijelaskan antara mereka.
"Apa yang terjadi?" Aelia bertanya, kebingungannya menguasai dirinya. "Kael, bagaimana bisa kamu ada di sini? Apa ini?"
Kael menghela napas, tatapannya seolah membawa beban yang berat. "Ini adalah tempat yang menghubungkan segala sesuatu. Tempat yang menyatukan ingatan dan harapan. Aku... Aku adalah bagian dari tempat ini. Sebagian dari simfoni yang kamu cari."
Aelia mengerutkan kening, mencoba memahami kata-kata Kael. "Jadi... kamu sudah tahu sejak awal? Bahwa aku akan datang ke sini?"
Kael mengangguk pelan. "Aku adalah penunjuk jalanmu, Aelia. Kamu yang memilih untuk datang, memilih untuk menemukan simfoni ini, meski banyak yang tidak kamu pahami. Aku hanya menunggu."
"Tunggu?" Aelia hampir tidak bisa menahan air matanya. "Tunggu apa, Kael? Apa yang sedang terjadi? Mengapa semua ini terjadi?"
Kael melangkah mendekat, wajahnya kini sangat serius. "Simfoni ini, Aelia. Ini bukan hanya tentang kita. Ini adalah tentang waktu, tentang takdir yang terjalin dan terputus. Aku ada di sini karena sesuatu yang lebih besar—sesuatu yang kita harus selesaikan bersama."
Aelia merasa kebingungannya semakin dalam. "Tapi apa yang harus kita selesaikan? Apa yang ada di sini, di altar ini?"
Kael menatap altar itu, lalu kembali menatap Aelia dengan tatapan yang penuh makna. "Simfoni ini memiliki tiga nada, Aelia. Tiga bagian yang harus kita gabungkan untuk membuka kunci takdir yang telah terputus. Jika kita berhasil, kita akan bisa mengubah jalannya waktu."
Aelia mengernyitkan dahi. "Tiga nada? Apa maksudmu?"
Kael menunjuk pada simbol di atas altar. "Ini adalah kunci untuk menyatukan tiga menara, tiga nada yang kamu temukan. Jika kita memainkan mereka dengan benar, kita akan membuka gerbang ke masa lalu, ke masa depan, dan ke tempat di mana kita bisa mengubah apa yang telah terjadi."
Aelia merasa ada ketegangan di dalam dirinya, seperti waktu itu sendiri sedang terhenti. "Tapi apa yang harus aku lakukan, Kael? Apa yang kita harus lakukan?"
Kael menghela napas lagi, seolah tahu bahwa pertanyaan ini akan membawa mereka ke titik yang tak terhindarkan. "Kamu yang memegang kunci itu, Aelia. Kamu yang harus memimpin simfoni ini."
Aelia terdiam, merasakan beban yang sangat besar. Bagaimana mungkin dia bisa mengubah waktu? Bagaimana dia bisa memimpin simfoni ini, ketika bahkan dia tak sepenuhnya mengerti apa yang terjadi?
Namun, sesuatu dalam dirinya, di kedalaman hatinya, memberinya kekuatan. Ia tahu satu hal pasti: mereka sudah terlalu jauh untuk mundur. Dan mungkin, inilah kesempatan terakhir untuk merangkai ulang takdir yang selama ini terpisah.
Dengan tangan yang gemetar, Aelia melangkah lebih dekat ke altar, siap untuk memainkan bagian terakhir dari simfoni yang telah menunggu terlalu lama.
Aelia berdiri di depan altar, jantungnya berdetak dengan ritme yang hampir tidak dapat dia kendalikan. Keberadaan Kael di sana, di sampingnya, memberi kekuatan, tetapi juga sebuah beban berat yang harus mereka hadapi bersama. Di atas altar itu, simbol yang tercetak dalam cahaya itu semakin bersinar, seolah menanti mereka untuk menyelesaikan bagian terakhir dari simfoni yang telah mereka mulai.