Lelaki Berpayung Merah

Penulis N
Chapter #19

19

Aelia menatap Kael dengan tatapan yang penuh pertanyaan, seolah tak yakin dengan apa yang baru saja mereka dengar. Wanita di depan mereka, sosok yang tak jelas wujudnya, hanya tersenyum samar, seakan mengerti ketidakpastian yang melanda pikiran mereka.

"Jadi, kami harus masuk ke labirin itu?" Aelia bertanya, matanya menelusuri arah jari wanita itu yang menunjuk ke sebuah celah sempit yang terhampar di depan mereka. Celah itu tampak seperti pintu yang mengarah ke dalam kegelapan yang mendalam, tapi ada sesuatu yang memancar dari sana, seperti cahaya yang tidak dapat dipahami.

Wanita itu mengangguk. "Ini adalah labirin yang tak terpecahkan oleh siapa pun. Tidak ada yang pernah berhasil keluar tanpa menemukan kunci yang sebenarnya. Namun, kalian akan menemukan lebih dari sekadar jalan keluar. Di dalam sana, kalian akan menghadapi bukan hanya dunia yang baru, tetapi juga diri kalian sendiri."

Kael mengernyit, tampak sedikit ragu. "Tapi bagaimana kita bisa tahu jika ini benar-benar jalan yang harus kita ambil? Bagaimana kita bisa tahu jika ini adalah takdir yang kita inginkan?"

Wanita itu hanya tersenyum lebih lebar. "Itulah ujian kalian. Takdir bukanlah tentang memilih jalan yang mudah, tetapi memilih jalan yang benar. Jika kalian ingin kembali ke dunia yang kalian kenal, kalian harus menghadapinya terlebih dahulu. Dan jika kalian ingin menciptakan dunia baru, kalian harus siap untuk mengorbankan segalanya."

Aelia merasakan suatu perasaan tidak nyaman di dada, seperti ada beban yang semakin berat. "Apa yang harus kita korbankan?" tanyanya, hampir berbisik.

Wanita itu menatap mereka dengan pandangan yang dalam dan penuh makna. "Segalanya, Aelia. Segalanya."

Aelia terdiam. Ia tahu bahwa kata-kata itu mengandung lebih banyak arti daripada yang bisa ia pahami sekarang. Dunia yang tak terikat oleh waktu, labirin yang tak bisa ditembus, dan pilihan yang tampaknya begitu berat—semua ini mulai menekan pikiran dan perasaannya. Namun, ia tahu satu hal yang pasti: mereka tidak bisa mundur. Kael sudah bersamanya, dan mereka harus menghadapi ini bersama.

"Kael," Aelia berkata, matanya bertemu dengan mata pria itu. "Apa yang harus kita lakukan?"

Kael menarik napas panjang. "Kita tidak punya pilihan selain melangkah ke dalam. Tapi kita akan melakukannya bersama. Apa pun yang terjadi, kita akan tetap bersama."

Dengan kata-kata itu, Kael melangkah lebih dulu, memasuki celah sempit yang mengarah ke dalam kegelapan. Aelia mengikuti di belakangnya, meskipun rasa cemas masih menggelayuti hatinya. Begitu mereka melangkah masuk, dunia di sekitar mereka berubah seketika.

Suasana yang semula hampa dan penuh cahaya pudar, tiba-tiba berubah menjadi labirin gelap yang penuh dengan bayangan dan suara-suara yang tak bisa mereka kenali. Langkah kaki mereka menggema, teredam oleh dinding-dinding batu yang tinggi dan seakan tak ada ujungnya. Setiap sudut terasa menekan, seolah-olah labirin ini hidup, dan setiap langkah mereka adalah bagian dari perjalanan takdir yang tak dapat diprediksi.

"Apa ini?" Aelia bertanya, suaranya teredam oleh kegelapan di sekitar mereka.

Kael mengerutkan kening, berusaha menyesuaikan diri dengan keadaan baru ini. "Aku tidak tahu. Tapi kita harus melanjutkan. Mungkin kita harus mencari jalan keluar, atau mungkin kita harus menemukan kunci yang dimaksud."

Mereka terus berjalan, semakin jauh ke dalam labirin yang tampaknya tidak ada habisnya. Semakin lama mereka berada di sana, semakin jelas bahwa dunia ini bukan sekadar tempat fisik, tetapi juga mencerminkan perjalanan batin mereka. Bayangan-bayangan aneh berkeliaran di sekitar mereka, memancarkan aura yang tidak bisa dijelaskan. Di beberapa titik, mereka menemukan pintu-pintu kecil yang terbuka, namun semuanya berujung pada jalan buntu atau berputar kembali ke tempat semula.

"Ada sesuatu yang salah di sini," Aelia berkata, suaranya lebih keras, mencoba mengusir rasa cemas yang terus berkembang di dalam dirinya. "Kenapa kita selalu kembali ke tempat yang sama?"

Kael menatap sekeliling, matanya penuh konsentrasi. "Ini bukan sekadar labirin fisik. Labirin ini adalah representasi dari ketakutan dan keraguan kita. Kita harus menghadapinya, baru bisa melangkah lebih jauh."

Tiba-tiba, di tengah kegelapan, sebuah suara terdengar—suara yang familiar, namun sangat berbeda. Aelia menoleh, hanya untuk menemukan sosok bayangan lain yang muncul dari dalam kegelapan.

"Aelia..." suara itu terdengar seperti seruan, namun juga penuh kesedihan. "Kenapa kamu pergi begitu jauh?"

Aelia tertegun. Suara itu adalah suara ibunya. Ibu yang telah lama hilang dari hidupnya. Jantungnya berdegup kencang, dan seluruh tubuhnya terasa kaku.

"Ibu?" Aelia berbisik, merasa air matanya menggenang.

Kael, yang melihat perubahan ekspresi di wajah Aelia, segera menghalangi jalan, berdiri di depan Aelia untuk melindunginya dari bayangan yang mendekat. "Aelia, itu bukan ibumu. Itu hanya ilusi. Jangan biarkan dirimu terperangkap."

Namun Aelia terdiam, matanya terkunci pada sosok bayangan yang mulai memudar. "Aku... aku harus tahu apa yang terjadi padanya. Aku harus tahu kenapa dia meninggalkanku."

Kael menggenggam tangannya dengan erat. "Aelia, ini bukan tempat untuk mencari jawaban itu. Ingat kata-kata penjaga, ini adalah ujian. Jangan biarkan ilusi ini menguasai pikiranmu."

Aelia menggigit bibirnya, menahan rasa sakit yang mendalam. Namun, suara ibunya kembali mengalun di telinganya, lebih keras dari sebelumnya, menggema dalam ruang sempit itu.

"Kenapa kamu tidak kembali, Aelia? Kenapa kamu tinggalkan aku?"

Aelia merasakan sesuatu bergejolak di dalam dirinya. Kenangan itu, kenangan yang sudah lama terkubur, kembali muncul—kenangan tentang ibu yang meninggalkannya begitu saja. Namun Aelia tahu satu hal: jika dia terjebak dalam ilusi ini, dia tidak akan pernah keluar.

Dengan sekuat tenaga, Aelia menarik tangannya dari genggaman Kael dan melangkah maju, menepis bayangan itu dengan tekad baru.

"Ini bukan kenyataan," Aelia berkata pada dirinya sendiri, suara yang tegas. "Aku tidak akan terjebak dalam masa lalu. Aku harus maju, tidak peduli apa pun yang muncul di depan."

Kael mengikutinya, memberikan dukungan tanpa kata-kata. Mereka melangkah lebih dalam, semakin jauh ke dalam labirin yang tak terduga ini. Mereka tahu, tak ada jalan mudah yang akan mengarah ke takdir mereka—tapi mereka siap menghadapinya, bersama.

Aelia dan Kael melangkah lebih dalam ke dalam labirin yang seakan-akan terus berubah, mengikuti alur yang tidak terlihat, mengarah ke tempat yang tidak diketahui. Di sekeliling mereka, bayangan terus berlarian, membuat udara terasa semakin berat. Aelia bisa merasakan ketegangan di dalam dirinya. Meskipun Kael ada di sampingnya, ia tidak bisa menghindari rasa terperangkap dalam dunia ini. Dunia yang bukan hanya fisik, tetapi juga emosi, ketakutan, dan kenangan.

Tak lama setelah melangkah lebih jauh, sebuah pintu besar muncul di depan mereka. Pintu itu tampak berbeda dengan yang sebelumnya—lebih megah dan penuh dengan ukiran-ukiran yang tampaknya memiliki arti tertentu. Aelia bisa merasakan sesuatu yang aneh. Entah kenapa, pintu ini seakan memanggilnya. Tanpa berpikir panjang, ia mendekati pintu itu, hendak menyentuh gagangnya.

"Jangan," Kael menghentikan langkah Aelia dengan lembut. Suaranya penuh peringatan. "Ada sesuatu yang tidak beres dengan pintu itu."

Aelia menoleh ke Kael, merasa bingung. "Apa maksudmu?"

Lihat selengkapnya