Aelia dan Kael terus melangkah, hati mereka berdebar-debar, namun tekad mereka semakin kuat seiring dengan langkah mereka. Cahaya dari batu yang telah terbelah semakin terang, memberikan petunjuk yang jelas menuju tujuan mereka. Namun, suara gelombang yang datang dari kegelapan tetap menghantui, menggema dalam setiap sudut ruang yang mereka lewati.
"Kita hampir sampai," Kael berbisik, meskipun dia sendiri tak yakin apakah kata-kata itu benar atau hanya untuk menenangkan dirinya.
Aelia memegang erat tangan Kael, mencoba untuk tetap tenang meskipun ketegangan semakin memuncak. "Kita harus siap, Kael. Tidak ada jalan mundur sekarang."
Di ujung lorong, mereka tiba di sebuah pintu besar yang terbuat dari batu hitam, seakan menyatu dengan kegelapan itu sendiri. Di atas pintu, terdapat ukiran yang menggambarkan laut yang bergelora, dengan ombak yang tinggi dan kapal yang hampir tenggelam. Di bawah ukiran itu, ada sebuah tulisan yang terukir dalam bahasa kuno, yang Aelia tidak sepenuhnya bisa pahami.
"Ini adalah ujian terakhir," Kael berkata pelan, membaca tulisan itu dengan cermat. "Kita harus menghadapi gelombang itu—secara harfiah atau figuratif—untuk melanjutkan."
Aelia mengangguk. "Mungkin ini bukan hanya tentang fisik, tapi juga tentang bagaimana kita menghadapi ketakutan kita sendiri."
Kael menatap pintu itu. "Mungkin... Tapi ada satu hal yang kita tahu pasti. Kita harus melewati ini, apapun bentuknya."
Dengan satu dorongan tekad, Aelia mengulurkan tangannya untuk memegang pintu. Begitu jarinya menyentuh permukaan batu, pintu itu mulai terbuka dengan sendirinya, seolah memberi izin bagi mereka untuk melangkah ke dalam. Gelombang suara yang terdengar semakin keras, seakan membangun ketegangan yang luar biasa.
Mereka melangkah masuk dan tiba di sebuah ruangan luas yang gelap. Pada awalnya, tidak ada yang terlihat. Namun, tak lama kemudian, dari balik kegelapan, gelombang besar yang menyerupai ombak lautan muncul—tak kasat mata, tetapi bisa dirasakan. Gelombang itu bukanlah ombak fisik, melainkan sesuatu yang lebih dalam, sebuah arus emosi dan ketakutan yang mengalir begitu kuat.
Aelia menatap Kael. "Ini... ini bukan hanya tentang melawan sesuatu yang terlihat."
Kael mengangguk, wajahnya serius. "Gelombang ini adalah simbol dari ketakutan kita. Kita harus menghadapinya, tak peduli seberapa kuat arusnya."
Seiring dengan kata-kata Kael, ombak tersebut semakin mendekat, memancar dari dalam kegelapan. Aelia merasa seperti ada sesuatu yang menariknya, seolah-olah gelombang itu berusaha menyeretnya ke dalam, menghancurkan tekadnya.
"Aelia!" seru Kael, meraih tangannya. "Jangan biarkan dirimu terhanyut. Ingat, kita bisa menghadapinya bersama."
Aelia menggenggam tangan Kael dengan kuat, berusaha untuk menahan gelombang itu. Namun, semakin kuat arus yang datang, semakin berat beban yang harus mereka hadapi. Ia merasa seperti tenggelam dalam ketakutan, ragu, dan keraguan yang tak terucapkan.
"Ini bukan hanya tentang bertahan," Aelia berkata dengan suara yang bergetar. "Ini tentang menerima kenyataan, tentang keberanian untuk melangkah meski kita tahu ada resiko."
Kael menatapnya dalam-dalam. "Kita tak perlu tahu semua jawaban sekarang. Yang kita butuhkan hanya satu—keberanian untuk maju."
Dengan kata-kata itu, mereka bersatu, melangkah maju bersama-sama ke dalam gelombang tersebut. Tidak ada jalan mundur. Tidak ada pilihan selain untuk melawan.
Dan di dalam hati mereka, mereka menemukan kekuatan yang lebih besar dari ketakutan. Sebuah kepercayaan bahwa mereka bisa menghadapinya. Gelombang itu semakin kuat, namun kini mereka berdiri lebih teguh.
Saat gelombang terakhir menghantam mereka, Aelia merasa sebuah perubahan besar terjadi. Bukan hanya dalam dirinya, tetapi juga dalam hubungan mereka. Mereka kini siap menghadapi apapun yang akan datang, karena mereka tahu bahwa bersama-sama, mereka lebih kuat dari segala ketakutan.
Ketika gelombang itu mereda, mereka berdiri di atas sebuah puncak yang baru. Di depan mereka, ada sebuah cahaya yang mulai memancar, membawa harapan dan kemungkinan baru.
"Ini baru permulaan," Aelia berbisik, matanya yang penuh tekad menatap ke depan.
Kael tersenyum padanya. "Dan kita akan menghadapi apapun yang ada di depan kita, bersama."
Dengan itu, mereka melangkah maju, siap untuk menghadapi tantangan baru yang menanti.
Langkah mereka terasa lebih ringan saat gelombang itu akhirnya surut. Aelia dan Kael berdiri di tengah sebuah ruang yang sangat berbeda dari yang mereka hadapi sebelumnya. Ruangan yang sebelumnya gelap dan mencekam kini dipenuhi oleh cahaya yang lembut, seperti sinar matahari yang menembus awan. Namun, meskipun begitu, ada rasa ketegangan yang masih menggelayuti mereka, seperti ada sesuatu yang menunggu untuk diungkap.
Aelia menatap sekitar, mencoba memahami makna dari apa yang baru saja mereka alami. "Apa ini?" tanyanya, suaranya lembut namun penuh keingintahuan. "Ini tidak seperti ruang yang kita masuki sebelumnya."
Kael mengamati cahaya yang menari-nari di udara. "Sepertinya kita telah melewati ujian besar. Ini adalah ruang yang akan mengungkapkan apa yang sebenarnya kita cari."