Aelia dan Kael melangkah lebih jauh ke dalam kegelapan yang semakin pekat. Langkah kaki mereka menggema di ruang yang tampaknya tanpa ujung, seolah-olah mereka terjebak dalam sebuah dunia tanpa batas. Di sekeliling mereka, bayangan terus bergerak, tampak lebih hidup, dan semakin mendekat, membentuk wujud yang tak terdefinisikan, seakan hendak menyerang kapan saja.
Aelia menggenggam tangan Kael lebih erat. "Kael, ini... terlalu menakutkan. Aku merasa seperti kita sedang dikepung oleh sesuatu yang tak terlihat."
Kael menarik napas dalam-dalam. "Itulah tujuan dari perjalanan ini. Menghadapi yang tak terlihat, yang tersembunyi dalam kegelapan. Kita harus tetap tenang dan berani."
Namun, meski kata-kata Kael terdengar meyakinkan, Aelia bisa merasakan ketegangan dalam suaranya. Mereka berdua tahu, ada sesuatu yang jauh lebih besar daripada yang mereka bayangkan yang sedang menunggu mereka di ujung jalan ini.
Tiba-tiba, sebuah cahaya terang menyilaukan muncul di depan mereka, memotong kegelapan yang mencekam. Aelia dan Kael terdiam sejenak, saling berpandangan. Cahaya itu tidak terasa biasa. Terlalu intens, hampir menyakitkan. Tapi tanpa pikir panjang, mereka berdua melangkah maju, memasuki sumber cahaya yang tampaknya mengundang mereka.
Begitu mereka melangkah ke dalam cahaya itu, dunia sekitar mereka berubah seketika. Kegelapan yang sebelumnya menyesakkan berganti dengan ruang yang penuh dengan warna-warna yang tak pernah mereka lihat sebelumnya. Tanah yang mereka pijak terasa lembut, dan udara terasa lebih segar, meskipun mereka tahu bahwa itu hanyalah lapisan tipis yang menyembunyikan ancaman yang jauh lebih besar.
Di depan mereka, berdiri sebuah sosok tinggi, bayangan yang tak jelas. Ia tidak berbicara, hanya menatap mereka dengan mata yang kosong, seolah-olah menguji mereka. Aelia merasakan rasa dingin yang menjalari tulang punggungnya, namun dia tidak mundur.
"Siapa kamu?" Aelia bertanya, suaranya bergetar, namun penuh tekad.
Sosok itu mengangkat tangannya, dan dalam sekejap, bayangan-bayangan di sekeliling mereka mulai bergerak lebih cepat, semakin dekat, hingga akhirnya mereka membentuk sebuah lingkaran yang mengelilingi Aelia dan Kael. Lingkaran itu semakin lama semakin rapat, seolah-olah tidak ada tempat untuk melarikan diri.
"Jangan takut," kata Kael, menarik Aelia ke sampingnya. "Kita harus melawan. Ini adalah ujian terakhir."
Tiba-tiba, sosok itu membuka mulutnya, dan sebuah suara menggema di udara. "Kalian datang untuk mencari kebenaran, tetapi apa yang akan kalian lakukan jika kebenaran itu menghancurkan kalian?"
Aelia menatap sosok itu dengan penuh keyakinan. "Kami tidak takut akan kebenaran. Kami datang untuk menghadapinya, tidak peduli seberapa gelapnya."
Sosok itu tertawa pelan, sebuah tawa yang terdengar kosong dan hampa. "Kalian memang memiliki tekad yang kuat. Tapi apakah itu cukup untuk menghadapinya? Kegelapan bukan hanya sebuah ancaman luar. Ia ada dalam diri kalian sendiri."
Kael mengangkat tangan, dan seberkas cahaya muncul dari ujung jarinya. "Kami tahu bahwa kegelapan ada dalam diri kami. Tapi kami tidak akan membiarkannya menguasai kami."
Sosok itu terdiam sejenak, sebelum menggerakkan tangannya dengan gerakan yang lembut namun penuh kekuatan. Seperti ombak yang memecah batu, bayangan-bayangan itu semakin rapat, hampir menyelimuti mereka sepenuhnya.
"Apa yang kalian lakukan?" Aelia bertanya, suaranya penuh kebingungan dan kecemasan.
"Ini adalah batas yang akan menguji kekuatan kalian," jawab sosok itu. "Hanya mereka yang benar-benar memahami kegelapan dalam diri mereka yang dapat mengalahkan kegelapan di dunia ini."
Aelia dan Kael saling berpandangan, saling berbagi keberanian yang sudah mereka bangun bersama selama perjalanan ini. Dengan satu gerakan bersamaan, mereka mengarahkan tangan mereka ke pusat lingkaran bayangan yang semakin rapat.
Cahaya yang mereka pancarkan semakin membesar, melawan kegelapan yang menekan mereka. Namun semakin terang cahaya itu, semakin kuat pula bayangan-bayangan yang mengelilingi mereka. Ini bukan sekadar ujian fisik. Ini adalah ujian mental dan hati.
Aelia merasakan beban yang semakin berat di hatinya. Ada banyak hal yang belum dia pahami tentang dirinya sendiri. Banyak ketakutan dan keraguan yang belum pernah dia hadapi sebelumnya. Tapi, saat melihat Kael di sampingnya, rasa takut itu perlahan mulai pudar.
"Kael," bisiknya. "Aku tahu kita bisa melewati ini. Kita sudah bersama-sama melalui banyak hal. Tidak ada yang bisa mengalahkan kita."
Kael tersenyum, menatap Aelia dengan penuh keyakinan. "Tidak ada yang bisa menghentikan kita, Aelia. Bersama, kita lebih kuat dari apapun."
Dengan serentak, mereka melepaskan kekuatan mereka sepenuhnya, menghasilkan ledakan cahaya yang menerangi seluruh ruang. Bayangan-bayangan itu mulai runtuh, satu demi satu, seiring dengan terbukanya jalan menuju kebenaran yang mereka cari.
Namun, sosok tinggi itu hanya berdiri diam, tak tergoyahkan oleh cahaya yang menyilaukan.
"Ini baru permulaan," katanya dengan suara yang dalam. "Hanya mereka yang bertahan dalam kegelapan sejati yang dapat menemukan cahaya sejati."
Dengan kata-kata itu, sosok itu menghilang, meninggalkan Aelia dan Kael berdiri di tengah-tengah ruang yang kini kembali sunyi, tetapi penuh dengan pertanyaan.
Setelah sosok misterius itu menghilang, Aelia dan Kael berdiri dalam keheningan yang mencekam. Ruang di sekitar mereka kini terasa kosong dan sunyi, meski mereka tahu ada sesuatu yang lebih besar yang tengah menunggu di luar sana. Cahaya yang mereka lepaskan kini memudar, meninggalkan hanya kilau-kilau lembut yang seakan menjadi saksi dari pertempuran batin yang baru saja terjadi.
Aelia menghela napas dalam-dalam, merasakan tubuhnya kelelahan setelah mengeluarkan segala tenaga dan kekuatan yang mereka miliki. Namun, meskipun tubuhnya lelah, pikirannya dipenuhi dengan lebih banyak pertanyaan. "Kael," kata Aelia perlahan, suaraannya terdengar seperti bisikan. "Apa yang baru saja kita alami? Apa yang dimaksud sosok itu dengan 'kegelapan dalam diri kita'?"
Kael menatapnya, wajahnya menunjukkan kerisauan, meskipun di dalam hatinya ia tetap merasa percaya diri. "Aku tidak sepenuhnya tahu, Aelia. Tapi aku rasa ini lebih dari sekadar ujian fisik atau magis. Kita harus menghadapi lebih banyak daripada apa yang tampaknya hanya ancaman luar. Kegelapan itu bisa berarti banyak hal—ketakutan, kebencian, bahkan penyesalan yang belum kita sadari."
Aelia memikirkan kata-kata Kael dengan hati-hati. Kegelapan dalam diri mereka... Apakah ini ada hubungannya dengan masa lalu mereka? Atau lebih dalam lagi, dengan ketakutan terbesar yang mereka simpan di dalam hati? Ia memegangi dadanya, mencoba menenangkan diri. Selama perjalanan ini, mereka telah mengungkap begitu banyak rahasia, namun rasanya masih banyak yang tersembunyi.
"Tapi kita tidak akan bisa menghadapinya jika kita terus lari dari kenyataan," lanjut Kael, matanya menatap lurus ke depan, seolah menatap sesuatu yang jauh lebih dalam dari sekadar ruang ini. "Kita harus siap menghadapi sisi kita yang paling gelap, Aelia. Itu satu-satunya cara untuk menemukan jalan keluar."