Lelaki Berpayung Merah

Penulis N
Chapter #22

22

Setelah melewati kegelapan yang menguji mereka, Aelia dan Kael akhirnya tiba di sebuah ruang yang terbuka. Dinding-dinding batu yang mereka lewati sebelumnya mulai menghilang, digantikan oleh ruang luas yang dipenuhi dengan cahaya lembut. Di sana, di tengah-tengah ruang, terdapat sebuah altar kuno dengan simbol yang Aelia kenali—sebuah simbol yang dulu pernah dia lihat dalam mimpi-mimpi anehnya.

"Apa ini?" tanya Aelia, berjalan mendekat ke altar itu. "Ini... sama dengan yang ada dalam mimpiku."

Kael mengikutinya, matanya terfokus pada altar itu dengan cermat. "Ini adalah tempat yang penting, Aelia. Tempat yang menyimpan kunci untuk menghentikan kegelapan yang terus mengejar kita."

Aelia memandang altar itu, seolah ada sesuatu yang lebih dari sekadar simbol yang terpahat di sana. Sesuatu yang lebih kuat dari sekadar kekuatan duniawi. "Tapi bagaimana kita bisa memecahkan ini? Kita tidak tahu apa yang harus dilakukan."

Kael melangkah lebih dekat dan memperhatikan simbol itu. "Ini bukan hanya simbol, Aelia," katanya, suaranya penuh pemahaman. "Ini adalah jalan menuju kebenaran kita. Kebenaran tentang siapa kita sebenarnya. Kebenaran yang selama ini kita cari."

Aelia menatap Kael, merasa bingung. "Apa maksudmu?"

Kael berbalik menatap Aelia, wajahnya serius. "Kita tidak hanya berjuang melawan kegelapan di luar sana, Aelia. Kita juga berjuang melawan kegelapan dalam diri kita. Rasa takut, keraguan, dan kenangan-kenangan lama yang kita simpan. Hanya dengan menghadapi kenyataan itu, kita bisa melanjutkan perjalanan kita."

Aelia terdiam sejenak, mencoba memahami kata-kata Kael. Dalam hati, dia tahu Kael benar. Selama ini, dia berlari dari kenyataan tentang dirinya—kenyataan tentang siapa dia sebenarnya dan apa yang sebenarnya dia takuti. Mungkin ini adalah saatnya untuk menghadapi semua itu, untuk tidak lagi melarikan diri.

Dengan perlahan, Aelia mendekati altar itu. Cahaya yang memancar dari simbol di sana semakin terang, seolah menyambut kedatangannya. "Aku siap," katanya pelan, meskipun ada sedikit ketakutan yang masih mengendap di dalam hatinya. "Aku siap menghadapi apa pun."

Kael berdiri di belakangnya, memberikan dukungan tanpa kata. "Kita akan melakukannya bersama."

Aelia menyentuh simbol di atas altar itu, dan seketika seluruh ruang seakan bergetar. Cahaya yang terpancar dari simbol itu menyelubungi tubuhnya, meresap ke dalam dirinya. Dalam sekejap, dia merasa seolah-olah terlempar ke dalam ingatan yang sudah lama terkubur.

Gambar-gambar dari masa lalu muncul begitu jelas di hadapannya. Kenangan yang telah lama terkubur di balik kabut ketakutan dan penolakan. Ia melihat dirinya yang lebih muda, berdiri di sebuah kota yang hancur. Ada teriakan, ada api yang melahap segalanya. Di tengah kehancuran itu, seorang wanita berdiri, matanya kosong, menyarankan bahwa dunia ini tak bisa diselamatkan.

"Aelia..." suara itu berbisik, penuh kesedihan. "Kamu adalah satu-satunya yang bisa mengubah takdir."

Aelia terkejut, tapi suara itu terus mengalir, menembus pikirannya. "Kenapa? Kenapa aku?" tanyanya.

"Karena kamu adalah kunci. Kamu telah memilih untuk melawan kegelapan dalam dirimu sendiri. Itulah yang akan membuka jalan bagi dunia yang baru."

Aelia terjatuh, dan dalam sekejap, dia kembali ke dunia nyata. Kael ada di sampingnya, tampak khawatir.

"Aelia, apa yang terjadi?" tanya Kael dengan nada khawatir. "Apa yang kamu lihat?"

Aelia menarik napas dalam-dalam, mencoba mengatur perasaan yang kacau. "Itu... itu adalah kenangan," katanya dengan suara parau. "Kenangan yang telah lama terkubur. Tapi aku tidak bisa menghindarinya lagi. Ini adalah bagian dari takdirku."

Kael menatapnya dengan serius, mengerti bahwa ini adalah titik balik yang besar dalam perjalanan mereka. "Apa yang kamu lihat, Aelia? Apa yang perlu kita lakukan?"

Aelia menatap Kael, dan meskipun hatinya dipenuhi dengan kebingungannya, ada sesuatu dalam dirinya yang terbangun. Sesuatu yang kuat dan tak bisa dihentikan.

"Aku tahu apa yang harus dilakukan sekarang," katanya dengan keyakinan yang baru. "Kita harus menghadapi kenyataan tentang dunia ini—tentang siapa kita sebenarnya. Dan kita harus melanjutkan perjalanan ini, apapun yang terjadi."

Dengan langkah yang lebih pasti, mereka berdua berbalik dan melangkah maju. Jalan di depan masih gelap dan penuh misteri, tetapi Aelia tahu bahwa mereka tidak akan pernah bisa mundur lagi. Mereka harus melanjutkan perjalanan ini, bahkan jika kenyataan yang mereka hadapi lebih berat dari yang pernah mereka bayangkan.

Aelia dan Kael melangkah lebih jauh ke dalam ruang itu, keduanya diselimuti oleh ketegangan yang terasa semakin berat. Mereka tahu bahwa apa yang mereka hadapi bukanlah sekadar pertarungan melawan kekuatan gelap di luar sana, tetapi juga pertarungan batin yang semakin memperjelas siapa diri mereka sebenarnya.

Aelia masih teringat dengan jelas kenangan yang muncul saat ia menyentuh simbol di altar. Kenangan yang membawa pesan samar-samar, namun penuh arti. Pesan yang mengarahkannya pada satu pemahaman: "Kita adalah kunci, tapi kita juga harus siap untuk mengorbankan sesuatu yang sangat berharga."

"Apa maksudnya?" tanya Aelia, suaranya bergetar. "Apa yang harus kita korbankan?"

Kael yang berjalan di sampingnya, menatap ke depan. "Aku rasa kita akan segera tahu jawabannya, Aelia. Ada sesuatu di sini yang harus kita pahami. Sesuatu yang tak bisa kita hindari."

Di depan mereka, muncul sebuah pintu besar, terbuat dari batu hitam yang berkilau. Pintu itu tampak berbeda dari apapun yang mereka temui sebelumnya. Ada aura misterius yang terpancar dari sana, seolah pintu itu menyimpan rahasia besar yang siap terbuka hanya untuk mereka.

Tanpa berkata apa-apa, Kael melangkah maju dan menyentuh pintu itu. Begitu jari-jarinya menyentuh permukaan batu, pintu itu mulai bergetar, dan suara berat mulai terdengar dari dalamnya. Aelia melihat dengan mata penuh rasa ingin tahu.

"Pintu ini... sepertinya akan membuka jalan menuju takdir kita," kata Kael dengan suara rendah, penuh keyakinan yang tak dapat dijelaskan. "Kita harus siap."

Aelia mengangguk, meskipun hatinya berdebar. "Apa yang akan kita hadapi di balik pintu ini, Kael?"

"Entah, tapi kita tidak bisa mundur sekarang," jawab Kael, menatap Aelia dengan tatapan serius. "Apa pun yang ada di sana, kita hadapi bersama."

Mereka bersama-sama mendorong pintu itu, dan dengan sedikit usaha, pintu tersebut terbuka. Di baliknya, mereka disambut oleh cahaya yang silau. Mereka terpesona oleh keindahan yang terpancar di depan mereka, tetapi juga ada sesuatu yang aneh dan menegangkan di dalamnya.

Lihat selengkapnya