Aelia terengah-engah, tubuhnya masih merasakan getaran dari ledakan cahaya yang baru saja melanda. Matahari seakan terbenam lebih cepat, meninggalkan gelap yang semakin pekat di sekeliling mereka. Kael masih berdiri di sampingnya, wajahnya penuh kecemasan, namun di balik itu, ada tekad yang tak tergoyahkan.
"Ini... ini bukan yang kita bayangkan," kata Aelia, mengusap tangannya yang masih terasa hangat setelah menyentuh batu. "Kekuatan ini lebih dari sekadar ancaman. Ada sesuatu yang lebih besar di baliknya."
Kael mengangguk. "Aku tahu. Batu ini, kekuatan ini, sepertinya... seperti sebuah perangkap. Tapi perangkap untuk siapa?"
Aelia menatap altar di hadapan mereka. Cahaya biru dari batu itu masih menyala, memancarkan aura yang tidak hanya mengundang, tetapi juga mengancam. "Apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh suara itu? Kenapa suara itu tahu namaku?"
Tiba-tiba, di tengah keheningan yang mencekam, batu besar di atas altar mulai berputar, membuka celah yang lebih dalam. Sebuah suara dalam, serak dan penuh gema, bergema dari celah tersebut.
"Kau telah melangkah jauh, Aelia. Kekuatanmu adalah kunci untuk membuka dunia yang terlupakan."
Aelia dan Kael terkejut, namun mereka tetap bertahan, tidak bergerak. Suara itu terdengar lagi, kali ini lebih jelas.
"Namun, untuk memahaminya, kalian harus membuka rahasia yang telah terkubur jauh di dalam hati dunia ini. Kekuatan yang kalian temui, yang menguasai dunia ini, bukanlah milik kalian. Kalian hanyalah bagian dari sesuatu yang lebih besar."
"Apa maksudmu?" tanya Aelia, suaranya keras dan tegas, seolah menuntut jawaban.
"Di dunia ini, ada dua kekuatan besar yang saling bertentangan. Satu, kegelapan yang menunggu untuk bangkit. Dan satu lagi, yang lebih kuno, yang hanya bisa terbangun oleh mereka yang terpilih. Kekuatan itu ada di dalam dirimu, Aelia."
Kael menoleh pada Aelia. "Kekuatan itu... ada di dalam dirimu?"
Aelia menggigit bibirnya, berusaha memahami setiap kata yang baru saja dia dengar. Kekuatan yang lebih kuno? Apakah ini berhubungan dengan kemampuannya yang mulai berkembang? Dia merasa seperti ada sebuah teka-teki yang tidak pernah bisa ia pecahkan—hingga sekarang.
"Siapa yang memilihku?" tanya Aelia, suaranya mulai bergetar karena kebingungannya.
"Para penjaga dunia ini," suara itu kembali terdengar. "Dan kalian berdua—Aelia dan Kael—adalah dua sisi dari kunci itu. Tanpa satu, dunia ini akan runtuh. Tanpa yang lain, kegelapan akan menang."
Kael melangkah maju, matanya tidak pernah lepas dari Aelia. "Apa yang harus kami lakukan? Apa yang kalian inginkan dari kami?"
Suara itu berhenti sejenak, seolah memberi kesempatan bagi Aelia dan Kael untuk mencerna segala yang baru mereka dengar. Kemudian suara itu menjawab, "Lakukan perjalananmu lebih jauh, temukan inti kekuatan itu, dan hanya dengan menyatukan dua kekuatan yang bertentangan, dunia ini dapat diselamatkan. Pergi ke tempat yang kalian tak pernah bayangkan. Kekuatan itu akan menguji kalian."
Tiba-tiba, batu besar itu mengeluarkan cahaya yang sangat terang, hingga mereka harus menutup mata mereka. Ketika cahaya itu mereda, mereka terkejut mendapati dirinya berdiri di tengah sebuah padang rumput luas, yang tampaknya sangat asing. Langit di atas mereka tampak berbeda, lebih cerah, seakan membawa pesan bahwa mereka baru saja memasuki sebuah dunia yang jauh lebih dalam daripada yang pernah mereka kenal.
"Ini... bukan tempat yang sama dengan sebelumnya," kata Kael, bingung, sambil menatap sekitar.
"Aku tahu," jawab Aelia, mencoba menenangkan diri. "Kita di tempat yang berbeda sekarang. Ini mungkin bagian dari perjalanan yang harus kita lalui."
Mereka melangkah lebih jauh, menyusuri padang rumput yang tampak tidak berujung. Sesekali angin berhembus, membawa aroma harum dari bunga yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. Namun, meskipun dunia ini indah, ada perasaan mencekam yang mengintai.
"Tapi kita tidak sendirian di sini," kata Aelia, memecah keheningan.
Kael menatapnya bingung. "Maksudmu?"
"Perasaan ini... sepertinya kita diawasi. Ada yang mengawasi kita, Kael. Aku bisa merasakannya."
Mereka terus berjalan, hati mereka dipenuhi rasa waspada. Di kejauhan, mereka melihat sebuah bangunan besar yang tampaknya menunggu mereka. Bangunan itu terlihat kuno, terbuat dari batu-batu yang tampak lebih tua daripada dunia tempat mereka berada. Sesuatu yang sangat tua, namun tetap kokoh berdiri, seperti menantang waktu.
"Aku rasa kita harus pergi ke sana," kata Aelia dengan tegas.
Kael mengangguk. "Aku rasa begitu juga."
Dengan langkah pasti, mereka melangkah menuju bangunan itu, seolah mengikuti petunjuk yang diberikan oleh suara misterius yang mereka dengar. Namun, semakin dekat mereka, semakin terasa bahwa jalan yang mereka pilih akan mengubah segalanya.
Aelia dan Kael melangkah lebih cepat, seolah dunia yang baru ini mulai menarik mereka ke dalam sebuah takdir yang tidak bisa mereka hindari. Mereka terus berjalan menuju bangunan besar yang tampaknya memancarkan aura yang sama dengan kekuatan misterius yang mereka temui sebelumnya. Semakin mereka mendekat, semakin jelas bahwa bangunan itu bukan sekadar struktur fisik, melainkan sebuah tempat yang memiliki energi tersendiri.
Setelah melewati padang rumput yang luas, mereka akhirnya tiba di depan pintu besar yang terbuat dari batu hitam, dihiasi dengan simbol-simbol yang tidak bisa mereka kenali. Di atas pintu, ada ukiran yang tampaknya menampilkan dua sosok yang saling berhadapan—satu dengan cahaya terang dan satu dengan kegelapan. Aelia merasakan getaran di dadanya saat matanya menatap ukiran itu. Ini adalah simbol yang sangat familiar, namun ia tidak tahu dari mana asalnya.
"Apa yang kau rasakan?" tanya Kael, yang juga melihat tanda tersebut dengan tatapan serius.
"Ada sesuatu di sini... seperti kita terhubung dengan tempat ini," jawab Aelia pelan, hampir tidak percaya dengan apa yang ia rasakan.