Lelaki Berpayung Merah

Penulis N
Chapter #24

24

Kael dan Aelia berdiri di hadapan makhluk besar itu, tak bisa berpaling. Keputusan yang akan mereka buat adalah pengorbanan yang tak bisa ditarik kembali. Dunia ini, dengan segala ketidakpastiannya, menguji mereka dalam cara yang tidak pernah mereka bayangkan. Setiap detik terasa lebih lama, setiap detik berisi beban yang lebih berat.

"Aelia," Kael berbisik, matanya menatap penuh keyakinan meskipun hatinya penuh keraguan. "Jika dunia ini harus memilih, jika aku harus memilih untuk menghentikan semuanya, aku akan melakukannya tanpa ragu."

Aelia memandangnya dengan mata yang penuh kesedihan. "Kau benar-benar siap melakukannya, Kael? Ini bukan pilihan kecil. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi setelahnya. Kita tidak tahu bagaimana dunia ini akan berubah jika satu dari kita mengorbankan dirinya."

Kael meremas tangan Aelia, memegangnya erat. "Kadang, untuk menyelamatkan sesuatu yang berharga, kita harus rela kehilangan sesuatu yang sama berharganya. Aku percaya bahwa dengan pengorbanan ini, kita bisa menghentikan kegelapan yang mulai menguasai segalanya."

Aelia mengangguk perlahan. "Aku tidak ingin kehilanganmu, Kael. Tapi aku tahu, jika kita tidak melakukan ini, kita akan kehilangan lebih banyak lagi."

Makhluk itu tertawa lagi, suaranya berderak seperti batu yang bergesekan, bergema ke seluruh ruang gelap ini. "Kalian akhirnya mengerti," katanya, sambil mendekat, "Namun ingat, tak ada yang bisa menghindari konsekuensinya. Pengorbanan yang satu itu akan menghancurkan kalian berdua jika kalian tidak memutuskan dengan bijaksana."

"Apakah ada cara lain?" tanya Aelia, suara hampir putus asa. "Apakah tidak ada jalan keluar selain memilih salah satu dari kami?"

Makhluk itu menggelengkan kepala. "Ini adalah pilihan terakhir yang tersisa. Tidak ada jalan keluar yang lebih mudah."

Aelia dan Kael saling berpandangan, keduanya merasa dunia mereka yang dulu penuh harapan kini hanya menyisakan kegelapan. Mereka berdua tahu apa yang harus dilakukan, tetapi kesediaan untuk berpisah sangat sulit.

"Kael, aku... aku tidak bisa membiarkanmu pergi sendirian. Aku ingin kita bersama, meskipun kita harus menghadapi kenyataan ini," kata Aelia, suaranya penuh keraguan.

"Aku juga tidak ingin berpisah, Aelia," jawab Kael, nadanya lembut, namun penuh determinasi. "Tapi kita harus menghadapinya. Dunia ini membutuhkan kita untuk memilih. Dan jika aku harus mengorbankan diriku demi dunia, aku akan melakukannya."

Aelia menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan keberaniannya. "Tidak, Kael. Tidak akan ada yang lebih berharga daripada kita berdua bertahan bersama. Jika ini adalah takdir kita, maka aku siap menjalannya."

Makhluk itu melangkah maju, mata merahnya menyala lebih terang. "Jika kalian berdua memilih untuk menantang takdir, maka konsekuensinya adalah milik kalian. Tidak ada yang akan selamat dari keputusan ini."

Namun, sebelum makhluk itu bisa melanjutkan, langit tiba-tiba berguncang hebat. Suara gemuruh terdengar keras, dan dunia sekitar mereka mulai berubah. Kegelapan semakin mendalam, seolah-olah alam semesta ini mencoba melawan pilihan yang mereka buat.

Tiba-tiba, sebuah suara muncul dari kedalaman yang lebih besar, lebih misterius, dan lebih berkuasa. "Cukup!" suara itu menggema, seakan memecah langit yang retak. Dunia berhenti berguncang, dan kegelapan mulai surut, meskipun tidak sepenuhnya hilang.

Kael dan Aelia saling berpandangan, terkejut, sebelum melihat sosok baru muncul di hadapan mereka. Seorang pria dengan pakaian yang sangat berbeda, mengenakan jubah hitam dengan lambang perak di dada. Wajahnya tampak tua, namun penuh kebijaksanaan. Dia tampak seperti seorang penjaga dunia yang terlupakan.

"Siapa kau?" tanya Kael dengan hati-hati.

Pria itu tersenyum tipis. "Aku adalah penjaga keseimbangan dunia ini. Aku datang untuk memberi kalian pilihan terakhir."

"Pilihan terakhir?" Aelia mengulangi kata-kata itu. "Apa maksudmu?"

Pria itu mengangguk. "Kalian tidak perlu berkorban satu sama lain. Ada cara lain untuk menghentikan kegelapan ini. Namun, itu memerlukan keberanian untuk mengambil jalan yang lebih sulit. Kalian harus bersatu, bukan dengan pengorbanan, tapi dengan kekuatan kalian berdua."

Kael dan Aelia terdiam. Mereka tidak tahu harus berkata apa. Ternyata, ada cara lain untuk bertahan tanpa harus kehilangan satu sama lain. Dunia ini, meskipun penuh dengan ancaman dan ketidakpastian, masih menyisakan ruang untuk harapan.

"Jadi," lanjut pria itu, "apakah kalian siap untuk memilih jalan yang benar?"

Aelia memandang Kael, matanya berkilat dengan tekad. "Ya, kita siap," jawabnya tegas.

Kael menatap pria itu, lalu Aelia, dan akhirnya tersenyum. "Kita akan berjuang bersama. Tidak ada lagi pengorbanan."

Dengan keputusan itu, langit di atas mereka perlahan mulai cerah kembali. Kegelapan yang melanda dunia mulai surut, meskipun masih ada bayang-bayang ancaman yang menunggu.

Namun, mereka tahu satu hal pasti—apapun yang terjadi, mereka akan menghadapi dunia ini bersama, dengan kekuatan yang lebih besar dari sekadar pengorbanan.

Setelah pria penjaga keseimbangan itu menghilang dalam cahaya yang mengaburkan pandangan mereka, Kael dan Aelia berdiri dalam keheningan, hanya diiringi oleh angin yang berhembus pelan. Dunia di sekitar mereka mulai kembali tenang, namun atmosfernya masih terasa berat—seperti sesuatu yang sedang menunggu untuk meledak.

Aelia menggenggam tangan Kael erat-erat, seolah takut jika dia melepaskan, semuanya akan kembali seperti semula. "Kau yakin dengan ini?" tanyanya pelan, masih merasa terombang-ambing antara harapan dan ketakutan.

Lihat selengkapnya