Lelaki Berpayung Merah

Penulis N
Chapter #25

25

Pagi berikutnya, Kael dan Aelia memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Meski dunia mulai pulih, mereka tahu ada banyak hal yang belum mereka capai. Waktu yang terhenti dalam kegelapan masih membekas, dan banyak yang harus diperbaiki agar orang-orang bisa kembali hidup dengan harapan baru. Keberanian yang mereka butuhkan kini bukan hanya untuk bertarung, tetapi untuk melangkah maju meski ketidakpastian menyelimuti langkah mereka.

Mereka meninggalkan desa kecil itu dan melanjutkan perjalanan menuju kota-kota yang lebih besar. Semakin mereka berjalan, semakin mereka menyadari bahwa meskipun beberapa orang sudah mulai mengangkat diri mereka dari abu, ada banyak yang masih terjebak dalam ketakutan dan rasa kehilangan.

"Apakah menurutmu semua orang akan siap menghadapi perubahan ini?" Aelia bertanya, berjalan di samping Kael.

Kael berhenti sejenak, menatap horizon yang luas di depannya. "Perubahan tidak akan pernah mudah. Orang-orang yang masih terjebak dalam masa lalu akan merasa kesulitan. Tetapi itu adalah bagian dari perjalanan kita. Tidak semua orang akan bisa ikut serta, dan itu harus kita terima."

Aelia mengangguk, tapi ada rasa ragu di matanya. "Aku takut jika kita tidak bisa mencapai semua orang. Apa yang harus kita lakukan jika mereka menolak perubahan?"

Kael menoleh dan menatapnya dengan penuh pengertian. "Tugas kita bukan untuk memaksa orang menerima, Aelia. Tugas kita adalah menunjukkan jalan. Beberapa orang mungkin tidak siap, dan itu tidak masalah. Mereka akan menemukan jalan mereka sendiri pada waktunya."

Aelia mendalamkan pandangannya, mencoba memahami kata-kata Kael. Namun, rasa takut masih mencengkeram hatinya. "Tapi bagaimana jika kita gagal?"

"Jika kita gagal, kita coba lagi," jawab Kael dengan tegas, suaranya penuh keyakinan. "Kegagalan adalah bagian dari perjalanan ini. Kita tidak akan tahu apakah kita berhasil atau tidak kecuali kita mencoba. Dan selama kita masih bersama, selama kita tidak menyerah, tidak ada yang benar-benar bisa mengalahkan kita."

Mereka melanjutkan perjalanan, menyusuri jalan berbatu yang semakin berkelok dan berbukit. Seiring waktu, mereka mulai mendekati kota besar yang sudah lama ditinggalkan. Warga kota ini, yang dulu pernah hidup dengan kemewahan dan ketenaran, kini terpecah, hidup dalam ketakutan dan kekacauan.

Ketika mereka sampai di gerbang kota, mereka disambut oleh sekelompok orang yang terlihat gelisah dan cemas. Beberapa dari mereka tampak terkejut, seakan tidak percaya melihat Kael dan Aelia kembali.

"Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya seorang lelaki tua dengan suara parau, matanya penuh kecurigaan.

Kael melangkah maju, meyakinkan mereka dengan tatapannya. "Kami datang untuk membantu. Dunia ini telah berubah, dan kami ingin kalian melihat bahwa ada harapan untuk masa depan yang lebih baik."

Lelaki tua itu merenung sejenak, lalu memandang Kael dengan tatapan tajam. "Harapan? Bagaimana bisa ada harapan setelah semua yang telah terjadi? Kami kehilangan begitu banyak, dan apa yang tersisa hanya kesedihan dan ketakutan."

Aelia menatap lelaki itu dengan hati yang berat. "Kami tahu bagaimana rasanya kehilangan. Tetapi jika kita terus hidup dalam rasa takut, kita tidak akan pernah bisa maju. Kami di sini untuk membantu kalian menemukan jalan keluar dari kegelapan ini."

Lelaki itu terdiam, seolah-olah mempertimbangkan kata-kata mereka. Namun, suasana hati yang penuh ketakutan di sekeliling mereka sulit untuk diubah dalam semalam. Orang-orang di kota ini sudah terlalu lama terperangkap dalam bayangan masa lalu yang kelam.

Kael dan Aelia tahu, tugas mereka belum selesai. Membangun kembali kota ini, dan lebih penting lagi, mengubah hati orang-orang yang telah terluka, akan menjadi ujian besar. Tetapi mereka tidak mundur.

"Berikan kami kesempatan," kata Kael dengan suara penuh keyakinan. "Kami tidak bisa mengubah masa lalu, tetapi kita bisa membangun masa depan bersama-sama."

Aelia menambahkannya dengan lembut, "Kami tidak punya banyak waktu. Kegelapan masih mengintai. Jika kalian ingin bertahan, kita harus bersatu."

Di tengah kekhawatiran, seseorang dari kerumunan itu mengangkat tangan. Seorang wanita muda yang tampak cemas namun berani melangkah maju. "Apa yang harus kami lakukan?"

Kael dan Aelia saling pandang, merasa sedikit lebih yakin. "Mulailah dengan hal kecil. Ajak orang-orang untuk bekerja bersama, bangun kembali kebersamaan. Setiap langkah kecil itu penting," kata Kael.

Aelia tersenyum, memberi semangat kepada wanita muda itu. "Jika kalian mulai sekarang, kalian bisa menciptakan sesuatu yang baru. Jangan takut untuk memulai dari awal. Kami akan membantu kalian."

Dengan sedikit keraguan, wanita itu mengangguk dan mulai berbicara kepada orang-orang di sekitarnya. Perlahan, mereka mulai membuka diri, meski ketakutan masih jelas terlihat di wajah mereka. Tapi ada harapan kecil yang mulai tumbuh di antara mereka.

Kael dan Aelia melanjutkan perjalanan mereka, meninggalkan kota itu dengan perasaan campur aduk. Mereka tahu bahwa ini hanyalah permulaan dari perjalanan panjang yang harus mereka tempuh. Dunia tidak akan sembuh dalam semalam. Tetapi dengan setiap langkah kecil, dengan setiap tindakan penuh keberanian, mereka tahu bahwa mereka bisa membawa perubahan.

Setelah meninggalkan kota yang mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan, Kael dan Aelia kembali melanjutkan perjalanan mereka, memasuki wilayah yang lebih asing. Semakin jauh mereka melangkah, semakin terasa keanehan yang melingkupi dunia yang mereka pijaki. Kegelapan yang pernah melanda dunia tampaknya meninggalkan bekas-bekas yang tidak mudah hilang. Meskipun ada secercah harapan di setiap langkah yang mereka ambil, masih ada bayangan yang mengintai.

Pagi itu, udara terasa lebih dingin dari biasanya. Langit berwarna kelabu, dengan awan tebal menggantung rendah, seolah menandakan sesuatu yang tidak beres. Kael berjalan di depan, tangannya memegang erat payung merah yang sudah setia bersamanya sejak pertama kali mereka bertemu. Aelia mengikuti di belakang, matanya mengamati sekeliling dengan penuh kewaspadaan.

"Mengapa tempat ini terasa begitu sunyi?" Aelia bertanya, suaranya berbisik di tengah hutan lebat yang mereka masuki.

Kael menoleh sebentar, matanya tajam. "Aku juga merasakannya. Sepertinya ada yang tidak beres di sini. Dunia ini sudah rusak, tetapi tempat ini... terasa seperti ada sesuatu yang lebih gelap."

Mereka melanjutkan perjalanan, melewati reruntuhan rumah-rumah yang tampaknya telah lama ditinggalkan. Di sepanjang jalan, mereka menemukan tanda-tanda bahwa ini pernah menjadi sebuah desa yang cukup makmur, namun kini hanya menyisakan puing-puing dan rasa kesunyian yang mencekam.

Tiba-tiba, Aelia berhenti dan menarik lengan Kael, wajahnya pucat. "Lihat itu!"

Kael mengikuti arah pandangannya dan melihat sebuah bangunan tua yang tampak jauh di depan. Bangunan itu sudah runtuh sebagian, namun masih berdiri tegak, seolah menjadi saksi bisu dari kehancuran yang terjadi di tempat ini. Tidak jauh dari bangunan itu, ada sebuah pohon besar yang tampaknya sudah tumbuh ribuan tahun. Namun, ada yang aneh pada pohon itu. Cabang-cabangnya tampak terjalin seperti akar, dan daunnya yang hitam keabu-abuan tampak menyerap cahaya matahari yang lemah.

"Apakah itu... pohon yang pernah kita lihat?" Aelia bertanya ragu, matanya terfokus pada pohon yang semakin dekat.

Lihat selengkapnya