Langit masih gelap saat Bagus mulai menata tumpukan gula di rak belakang. Bukan karena Pak Rahmat menyuruh. Tapi karena tidur tidak pernah mau lama bersamanya. Selalu ada yang mengusik di tengah malam. Mimpi yang tidak bisa ia ceritakan karena tidak jelas ceritanya. Seperti seseorang yang ditinggalkan di tengah kalimat menggantung. Tidak pernah lengkap. Hanya berupa kepingan-kepingan.
Beginilah caranya melarikan diri dari kepungan rasa tidak jelas yang menyiksa. Menyibukkan badannya, kalau perlu menyibukkan pikiran juga sehingga tidak ada waktu untuk potongan-potongan kejadian yang tidak jelas itu hadir dan mengganggunya.
Pak Rahmat yang baru pulang dari jamaah Subuh hanya bisa menggeleng melihat Bagus sibuk di pagi buta begini. Tapi, ia tidak salah pilih. Intuisinya sebagai seorang pedagang sekali lagi teruji. Bagus bisa diandalkan. Mulai hal remeh seperti menata barang, hingga ide-ide cemerlang sehingga toko sembakonya kini melejit di kawasan ini. Ide pertamanya yaitu menyediakan sembako kemasan kecil mulai seperempat kilogram, yang membuat tokonya ramai dari pembeli eceran, sekaligus pedagang kecil yang belanja di tokonya untuk dijual lagi di toko mereka di pedesaan. Belum lagi layanan pengantaran untuk pembelian minimal tertentu yang dilakukan Bagus. Toko Pak Rahmat sekarang tak pernah sepi. Bagus juga nyaris jarang beristirahat kecuali jam tutup toko sekitar jam sembilan malam.
Ibu-ibu yang datang belanja pagi-pagi punya kebiasaan yang sama setelah ada Bagus. Mata mereka akan singgah sedikit lebih lama dari yang dibutuhkan untuk sekadar bertransaksi, sebelum buru-buru berpura-pura sibuk memilih barang begitu Bagus menoleh. Yang muda-muda malah tidak segan berlama-lama. Bagus berdiri hampir sekepala lebih tinggi dari kebanyakan orang yang keluar masuk toko, dengan kulit yang jauh lebih terang dibanding pekerja lain yang seharian di bawah terik, dan rahang yang tegas membuat wajahnya mudah diingat sekali lihat. Ia sering jadi bahan bisik-bisik di warung kopi seberang, meski dirinya sendiri nyaris tidak pernah benar-benar menyadarinya—atau memilih tidak menyadarinya. Baginya, diperhatikan orang selalu terasa seperti awal dari sesuatu yang buruk.
“Makan heula, Gus.” Pak Rahmat mengangkat piring yang sudah terisi nasi dan lauk. Bagus mengangguk sopan, tapi tidak menurut. Sudah biasa. Pak Rahmat memilih lanjut makan. Sudah biasa makan sendiri. Meski punya anak dua, yang satu laki-laki ada di Jakarta, yang kedua perempuan ada di Karawang. Di Cirebon kini dia sendiri saja. Menikah lagi? Tidak ada dalam kamusnya. Istri tercinta yang menemaninya sejak minus hingga surplus terlalu ia beri tahta tinggi dalam hati, sehingga tidak ada yang bisa mengisi celah didalamnya.
“Gus, makan. Nanti habis Asar kirim barang deui, jangan lupa.”
“Nggih—” Bagus tersenyum tipis, “Iya,Pak.”
Pak Rahmat terkekeh. Satu logat Sunda, satunya lagi sering keceplosan Jawa. Tapi Bagus memang cerdas, dia bisa segera memahami Bahasa Sunda yang sering Pak Rahmat gunakan, meski di toko dia juga sering berinteraksi dengan pelanggan memakai Bahasa Cirebon.
Selesai makan, Pak Rahmat menoleh ke arah Bagus yang masih sibuk mengemas barang-barang pesanan yang akan dia kirim. Senyum tipis kembali mengembang di bibirnya, mensyukuri kehadiran anugerah satu itu. Dia adalah paket komplit, mulai dari karyawan toko, pembantu di rumah Pak Rahmat meski hanya bersifat membantu menemani saja karena sudah ada pembantu lain yang bertugas memasak, bersih-bersih rumah, dan juga membantu mengemasi barang-barang di tokonya.
Mereka bertiga saling menemani, saling menghibur, saling tertawa, saling bercerita. Ah tidak, yang saling bercerita hanya Pak Rahmat dan pembantunya. Bagus tak punya sesuatu yang bisa dia ceritakan selain kehidupan toko, yang mereka berdua juga sudah tahu.
Mata tua Pak Rahmat memandang kosong ke arah Bagus yang kini sibuk menghitung kemasan gula. Mengenang beberapa bulan lalu ia menemukan seorang pria muda di tepian rel di pagi buta saat ia sedang berjalan -jalan di dekat rumah, hanya saja sengaja memilih jalur yang sepi.
Ia sempat mengira laki-laki itu adalah incaran petrus. Tapi rasa penasaran membuatnya mendekat. Tidak nampak tanda tato di badannya. Bajunya juga seperti baju kerja biasa, tidak nampak dia preman. Dia tergeletak begitu saja dengan darah di daerah kepala dan bahu. Ada luka di bahu, pelipis, dan lengan atas, sepertinya bukan luka baru, tapi juga bukan luka yang datang dari kecelakaan biasa. Pak Rahmat terdiam beberapa saat, lalu melihat sekali lagi, untuk memastikan tidak ada luka tembak yang tersembunyi, lalu mengambil keputusan.
Terlalu berisiko membawanya ke puskesmas atau rumah sakit, sehingga ia memilih ke mantri terdekat yang ia percaya.
1984. Sangat berisiko membawa orang asing ikut ke rumah, apalagi tanpa identitas sepertinya. Tapi entah, perasaannya mengatakan yang sebaliknya. Ia merasa ia dekat dengannya, meski mungkin sekarang masih asing. Jangan tanya kenapa, ia sendiri tidak mengerti kenapa.
Lamunannya buyar saat Bagus mendekati mejanya, dengan santun seperti biasa ia meminta izin mengambil kertas catatan pesanan dan catatan pembayaran. Mata Pak Rahmat kembali mengamati sosok itu, yang kini tenang meneliti tumpukan kertas di depannya.
Awal-awal dia bekerja di sini, ada beberapa yang agak mencurigakan. Setiap suara percetakan seberang terbawa angin masuk ke sini saat suasana sepi, ada yang berubah dari Bagus. Di tengah menghitung stok beras, tangan Bagus tiba-tiba berhenti.