Lelaki Yang Dibawa Hujan

Wulan Kashi Dhamar
Chapter #3

Langkah Baru, 1984

Yang paling berat ternyata bukan mengemas barang. Yang paling berat justru menatap  kursi reyot di halaman belakang. Pak Rahmat berdiri lama di depannya sebelum memutuskan untuk meninggalkannya.

Truk sudah menunggu di depan. Proyek pelebaran jalan tidak menunggu kerelaan hati melepas kenangan. Mata Pak Rahmat memerah saat ia menoleh ke belakang, ke arah rumah dan tokonya, untuk terakhir kali. Dan saat matanya kembali menatap lurus ke depan, beberapa bulir air matanya jatuh. Sebentar lagi rumah kenangan itu akan rata dengan tanah. Tak akan ada lagi kursi reyot di halaman belakang tempatnya duduk bersama istrinya semasa hidup. Tak ada lagi ruang makan penuh kenangan mereka. Semua akan rata dengan tanah.

Bagus berdiri di samping truk itu, mengamati Pak Rahmat yang beberapa kali bahunya naik turun perlahan. "Mau apa lagi, Gus. Kalau pemerintah yang minta, ya sudah," katanya sambil naik ke truk, suaranya datar tapi matanya penuh genangan. "Mereka bilang sebagai warga negara kita harus mendukung."  Pak Rahmat mengalihkan pandangan ke arah rumah yang akan  ia tinggalkan, sekali lagi. Matanya berhenti di sana beberapa detik, berusaha menghafal sesuatu yang ia tahu tidak akan pernah ia lihat lagi. Setelah itu, pandangannya lurus ke depan.

Truk ini akhirnya melaju ke Karawang. Di sanalah ia lahir dan tumbuh, sebelum menikah dengan perempuan Cirebon dan membangun hidup serta toko di kampung istrinya selama puluhan tahun.

Truk melaju lambat dengan bak yang penuh dengan beberapa barang yang tersisa. Hanya barang-barang yang punya kenangan kuat yang ia bawa pulang ke Karawang. Sisa barang di toko sebenarnya sudah hendak ia tinggal, tapi saat melihat Bagus yang termenung, ia mengubah rencana.

Bagus  tanpa banyak pikir bersedia mengikuti Pak Rahmat ke Karawang.  "Saya ikut, selama Bapak butuh saya," katanya sederhana. Pak Rahmat tersenyum singkat. Beginilah Bagus yang dia kenal.

Sepanjang perjalanan, nyaris sepi yang mendominasi. Bagus juga lebih memilih diam, membiarkan pikiran Pak Rahmat berkelana semaunya. Mungkin ia sedang mengenang perjalanan puluhan tahunnya dengan almarhumah.

Hanya setelah Bagus melihat papan petunjuk arah Karawang, ia memilih memecah sunyi. “Sudah berapa lama Bapak nggak pulang ke sini?”

Pak Rahmat tersenyum sambil melirik Bagus. “Lupa Gus, sejak orang tua meninggal, Bapak jarang ke sini.”

Bagus tidak menyahut apa-apa. “Apalagi setelah Dewi menikah, tambah jarang pulang ke sini.” Pak Rahmat menarik napas panjang, sekali. “Sekitar 4 tahun lalu Bapak pulang, saat Dewi cerai. Setelah yakin Dewi baik-baik, baru Bapak balik Cirebon.”

Bagus hanya mengangguk samar.

“Ah, akhirnya pulang kembali ke kampung halaman,” ucap Pak Rahmat sambil terkekeh. Bagus ikut tersenyum, meski tidak benar-benar mengerti rasanya pulang ke tempat yang lama ditinggalkan. Untuk pertama kalinya sejak truk itu berjalan, ada sedikit rasa iri pada Pak Rahmat. Bukan tentang rumah yang dituju. Tapi pada kepastian bahwa ada tempat yang akan menerimanya kembali. Yang ia kenal hanya rasa kehilangan, bukan rasa pulang.

Dan begitulah, Bagus, dan  Pak Rahmat memulai babak baru di Karawang. Bersama Pak Rahmat, dia membangun lagi toko sembako kecil-kecilan, bersebelahan dari rumah lama Pak Rahmat yang ditinggali Dewi selama ini. Di bagian paling belakang toko, ada kamar kecil yang ditempati Bagus.

Ide-ide Bagus selama di Cirebon, dilanjutkan begitu kembali membuka toko di Karawang. Hanya dalam enam bulan, toko itu mulai ramai dikenal. Untungnya,  Dewi si anak bungsu rela ikut berjibaku membantu Bagus membesarkan toko itu. Samar bayang muram di wajah Dewi, mulai pudar seiring dengan kesibukannya membantu bapaknya.

“Bapak meuni semangat pisan, meski usia tidak muda,” komentar Bagus di suatu malam setelah kelelahan dengan rutinitas toko. Bahkan dia asal berbaring saja di lantai toko.

“Biar awet muda, Gus,” Pak Rahmat menjawab dengan disusul kekehan. “Daripada kabawa mikir nu ngelantur, mending mah mikirkeun pagawean. Ulah siga Dewi, kabanyakan mikir setelah cerai, umurna 30 taun tapi kayak umur 45 taun.”

Dewi, bukannya tersinggung, malah terbahak. Tawanya renyah menyapa telinga Bagus, yang tak urung ikut tersenyum lebar. Seringkali orang akan salah mengira. Mereka mengira, Dewi, anak Pak Rahmat telah menemukan suami baru, yaitu Bagus, saking dekat, akrab dan hangatnya mereka bertiga. Pak Rahmat tidak mendebat, atau berupaya menjelaskan. Seringnya dia hanya tertawa saja menanggapi. Dewi juga tidak tampak terganggu. Hanya Bagus yang kadang pipinya bersemu merah, kontras dengan kulit putihnya. Sedikit warga yang dekat dengan rumah ini  yang sudah tahu, kalau Bagus hanya karyawan yang tinggal dan tidur di toko, sementara Dewi dan Pak Rahmat akan pulang ke rumah mereka.

                       ***

Lihat selengkapnya